Maleo, Mimpi Mobil Nasional Murah BJ Habibie yang Tergusur

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 12 September 2019 17:12
Maleo, Mimpi Mobil Nasional Murah BJ Habibie yang Tergusur
Rencana pembuatan mobil nasional ini kandas di tengah jalan.

Dream – Selain dunia dirgantara, mendiang Presiden ke-3 Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie Habibie juga mencintai otomotif. Selain mengoleksi mobil-mobil klasik dan motor gede, BJ Habibie juga pernah menginisiasi pembuatan mobil nasional, Maleo.

Mengutip laman WikipediaKamis 12 September 2019, mobil nasional ini dibidani oleh Habibie pada 1996. Kala itu, Habibie ingin menjual mobil itu dengan harga sangat murah. kurang lebih Rp30 juta. 

Maleo dirancang dengan mesin tiga silinder berkapasitas 1.200 cc yang bisa menyemburkan tenaga 80 PS. Mobil ini mengusung teknologi baru hasil kerja sama dengan Orbital, produsen otomotif asal Australia. 

Mobil sedan itu menggunakan mesin 2 tak sehingga mekanisme mesinnya menjadi lebih sederhana daripada yang 4 tak. 

Kala itu, BJ Habibie menargetkan komponen lokal Maleo mencapai 80 persen. Namun impian Habibie melahirkan Mobnas tak bisa terwujud.

Maleo tergusur oleh hadirnya mobil baru yang kala itu digadang akan menjadi Mobnas. Seluruh dana proyek Mobnas akhirnya tersedot ke proyek Mobnas tersebut.

1 dari 4 halaman

Jerih Payah BJ Habibie `Taklukkan` Dolar dari Rp15.000 Menjadi Rp6.500

Dream – BJ Habibie menjadi sosok sentra saat Indonesia tengah menghadapi keterpurukan ekonomi. Di terjang krisis moneter, BJ Habibie harus melanjutkan estafer kepemimpinan setelah presiden Soeharto mundur usai desakan dari aktivis reformasi.

Di masa genting tersebut, Habibie harus menghadapi ekonomi yang terpuruk. Dollar AS yang biasanya diperjualbelikan di harga Rp2000, meroket hingga Rp15 ribu. Pukulan berat bagi pengusaha yang berimbas berat pada masyarakat.

Pelan namun pasti, BJ Habibie yang tampil sebagai presiden ketiga Indonesia membereskan satu per satu carut marut ekonomi. Termasuk kemampuannya bersama kabinet yang berhasil menjinakkan dollar AS.

Dikutip dari Merdeka.com, Kamis 12 September 2019, pada tahun 1998, nilai tukar Rupiah tercatat nyaris menyentuh Rp15 ribu per dolar AS. Pada Januari 1998, Rupiah sempat menyentuh Rp14.800 per US$1, dan paling parah pernah terjadi pada Juni 1998, di mana US$1 senilai Rp16.800.

Namun, nilai tukar Rupiah pada era tersebut mampu dikendalikan Presiden BJHabibie. Dia berhasil menekan Rupiah dari belasan ribu hingga berada di bawah Rp7 ribu jelang akhir masa pemerintahannya.

 

2 dari 4 halaman

Lakukan Berbagai Cara

Habibie yang diangkat menjadi presiden setelah Soeharto memutuskan mundur dari jabatannya berusaha keras agar Rupiah tak terus melemah. Berbagai cara dia lakukan agar Rupiah kembali menguat dengan segala cara.

Selain mengalami tekanan dari dalam negeri, Habibie juga harus berhadapan dengan intervensi ekonomi yang dipaksakan lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).

Lembaga keuangan internasional ini memaksa Indonesia agar menghapus kebijakan subsidi, terutama BBM dan TDL. Namun, hal itu ditolak Habibie.

Ketika itu, Habibie mempertahankan agar harga BBM bersubsidi agar tetap terjangkau oleh rakyat yang terpuruk akibat krisis. Harga premium saat itu dipatok Rp1.000, dan Solar Rp550. Keputusan ini mendapatkan kritik tajam dari IMF.

3 dari 4 halaman

Keluarkan Sejumlah Kebijakan

Habibie saat itu mengeluarkan sejumlah kebijakan guna memperkuat perekonomian nasional. Langkah pertamanya adalah melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan dengan membentuk BPPN dan unit Pengelola Aset Negara, kemudian dilanjutkan dengan melikuidasi beberapa bank bermasalah.

Dia juga membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri, dan mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF.

Untuk mendukung seluruh kebijakannya, dia mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat dan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

 

4 dari 4 halaman

Tak Anut Pasar Bebas

Menurut Analis Millenium Penata Futures, Suluh Adil Wicaksono, upaya ini cukup berhasil karena Habibie tidak menganut sistem pasar bebas hingga membuat Dolar berhasil ditekan.

" Kalau pemerintahan Presiden Habibie Rp 12.000 per USD, mau dipatok Rp8 ribu per dolar AS. Jadi nggak menganut pasar bebas seperti negara-negara Amerika Latin, berhasil ditekan suku bunga di kisaran 10 persen," ujar dia, dalam wawancara dengan merdeka.com.

Upaya ini ternyata sukses membuat rupiah terus menguat terhadap dolar. Saat menyampaikan laporan pertanggungjawaban di hadapan MPR, nilai Rupiah saat itu berada di level Rp6.500, suatu pencapaian yang belum bisa diikuti oleh presiden setelahnya.

Beri Komentar
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie