Di India, Suara Klakson Bakal Diubah dengan Bunyi Seruling

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 10 September 2021 07:12
Di India, Suara Klakson Bakal Diubah dengan Bunyi Seruling
Suara klakson yang terlalu nyaring memang bisa memekakkan telinga.

Dream – Di dunia otomotif, klakson diciptakan untuk “ berkomunikasi” dengan kendaraan lainnya. Klakson jika penggunaannya berlebihan tentunya sangat mengganggu dan bisa membuat polusi suara.

Menteri Perhubungan India, Nitin Gadkari, rupanya memiliki ide tak biasa untuk mengurangi polusi suara dari klakson. Ia berencana membuat aturan tentang suara klakson mobil yang akan terdengar seperti seruling. Kementerian Perhubungan sedang bekerja keras untuk membuat aturan perubahan suara klakson.

Dikutip dari Cartoq, Kamis 9 September 2021, Gadkari merasa terganggu dengan klakson yang bersahut-sahutan. Dia tinggal di hunian vertikal di Nagpur, India. Setiap pagi, Gadkari terganggu ketika sedang beribadah pagi. Suara klakson terdengar di huniannya yang terletak di lantai 11.

“ Tapi, suara klakson mengganggu keheningan pagi,” kata dia.

1 dari 4 halaman

Atur Suara Klakson

Saat itulah, terbersit keinginan untuk mengatur suara klakson. Gadkari ingin suara klakson tak lagi memekakkan telinga. Dia ingin suara klakson seperti instrumen, seperti table, perkusi, biola, bugle, dan seruling.

“ Kami mulai berpikir suara klakson mobil seperti alat musik India,” kata dia.

Suara klakson memang bisa menyebabkan polusi udara, namun tak ada zona tanpa klakson di India. Ditambah lagi, kendaraan-kendaraan tidak mengikuti aturan tentang klakson.

Berdasarkan aturan di sana, suara maksimal klakson mencapai 112 desibel. Kenyataannya, suara klakson kendaraan di sana sangat tinggi. Misalnya, suara kereta di sana mencapai 130-150 desibel—sangat ekstrem.

2 dari 4 halaman

Bisa Timbulkan Masalah

Suara klakson menyebabkan polusi udara dan menjadi masalah utama di sebagian besar kota-kota India. Polusi udara ini membuat masalah yang lebih besar juga bagi masyarakat.

Di Kerala, India, polisi kini dipersenjatai dengan alat pengukur suara yang bisa mengukur kebisingan suara. Kalau melebihi ketentuan, polisi akan menilang kendaraan itu. Sayangnya ada wilayah-wilayah lain di India yang tidak menerapkan aturan itu.

Penggunaan klakson dan mendengarkan suaranya yang kencang secara berkesinambungan bisa membahayakan gendang telinga. Bahkan, bisa membuat orang menjadi tuli.

Belum lagi suara klakson bisa membuat stres dan terkena serangan panik. Sekadar informasi, suara klakson yang nyaring digunakan di lokomotif kereta untuk memberi tahu pengguna jalan lainnya. Plus, kendaraan ekspedisi yang menggunakan suara klakson dengan nyaring untuk memberi tahu bahwa mereka tersesat. (mut)

3 dari 4 halaman

Tak Pakai Klakson Selama 18 Tahun, Pria Ini Dapat Penghargaan

Dream - Dipak Das lolos 'tes kesabaran' di jalanan. Dengan ketenangan yang dimiliki, pria asal Kolkata, India, itu tak membunyikan klakson di jalanan selama 18 tahun.

Laman Hindustan News melaporkan, atas prestasinya tak membunyikan klakson selama 18 tahun, Das mendapat penghargaan.

Perilaku langka itu telah diverifikasi penyelenggara penghargaan Manush Mela (Humanity Fair). Tindakan langka Das dianggap mampu mengurangi polusi udara.

 

© Dream

 

Das berharap tindakannya dapat menginsipirasi orang lain. Bagi dia, tanpa klakson akan membuat para pengendara lebih waspada.

" Jika pengemudi memiliki selera ruang, kecepatan dan waktu yang tepat, dia tidak perlu menggunakan 'amarah'," kata Das, dikutip Dream dari Hindustan News, Jumat 22 Desember 2017.

4 dari 4 halaman

Menolak Bunyikan Klakson

Das sebenarnya diminta para penumpangnya untuk membunyikan klakson. Tapi, dia menolak membunyikan klakson dengan alasan tak akan menyelesaikan masalah.

Mobil yang dikendarai Das setiap hari terpasang plakat dengan kalimat 'Klakson adalah sebuah konsep. Aku peduli pada perasaanmu'.

Das bermimpi dapat menjadikan Kolkata sebagai kota tanpa klakson.

" Ini bukan sesuatu yang tidak bisa diraih atau sangat sulit untuk dicapai. Yang dibutuhkan untuk ini adalah niat baik pemangku kepentingan," ujar dia. (eko)

[crosslink_1]

Beri Komentar