Bangun SPBU Mobil Listrik, LEN: Charge 30 Menit Melaju 200 KM

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 3 Desember 2019 16:24
Bangun SPBU Mobil Listrik, LEN: Charge 30 Menit Melaju 200 KM
Perusahaan pelat merah ini berencana membangun charging station kendaraan listrik.

Dream - PT LEN Industri (Persero) berencana membangun 180 titik charging station atau stasiun pengisian ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia. Untuk mewujudkannya, perusahaan akan bekerja sama dengan PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero).

Salah satu charging station yang sudah dibangun terdapat di Bandung, yaitu kantor LEN Industri di bypass Jalan Soekarno-Hatta.

Saat ini, LEN Industri bersama PLN sedang berkoordinasi tentang proses charging. Teknologi yang ada memerlukan waktu 20-30 menit untu mengisi pasokan listrik di mobil listrik. Dengan waktu tersebut, sebuah mobil listrik mampu melakukan perjalanan sampai 200 km.

“ Jadi, mobil di-charge 30 menit itu akan bisa jalan sejauh 200 km,” kata Dirut LEN Industri (Persero), Zakky Gamal Yasin, di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 3 Desember 2019.

Zakky mengatakan hal ini bergantung pada kondisi jalan. Sebab, kondisi jalan yang naik turun dan kemacetan akan membuat mobil kehabisan energi sebelum sampai 200 km.

1 dari 6 halaman

Sepeda Motor Bisa Tempuh 80 KM

Begitu juga dengan motor listrik yang sudah mulai menjamur. Dalam waktu 30 menit charging, motor bisa berjalan sejauh 80 KM. Namun jarak tempuh tersebut bergantung pada kondisi jalan yang akan dilalui.

" Kalau nanjak, ngebut ya baterainya cepat habis," kata Zakky.

Lama waktu pengisian energi tersebut sudah sesuai dengan standar yang biasa digunakan di Jepang, China, dan Eropa. Belum lama ini, dia mendengar Eropa sudah memiliki teknologi mempercepat waktu pengisian energi 7 menit.

Namun, dia belum bisa memastikan teknologi ini sudah diterapkan atau masih dalam uji coba.

“ Nanti kami explore,” kata dia.

2 dari 6 halaman

Targetkan Indonesia Jadi Hub Mobil Listrik, Jokowi Dorong Produksi Baterai

Dream - Presiden Joko Widodo berharap Indonesia bisa menjadi hub besar industri mobil listrik dunia. Hal itu akan diwujudkan dengan cara membangun industri pembuatan baterai lithium skala besar di Indonesia.

“ Kami ingin dalam dua tiga tahun ke depan, turunan nikel bisa ke lithium battery. Ini strategi bisnis yang sedang kami rancang agar Indonesia bisa menjadi hub besar bagi industri mobil elektrik,” kata Jokowi di Jakarta, dikutip dari , Kamis 28 November 2019. 

Menurut Jokowi, Indonesia punya banyak sekali bahan baku yang diperlukan untuk pembuatan baterai lithium. Sejumlah logam yang dibutuhkan seperti nikel, kobalt, maupun mangan tersedia dan siap diolah.

 

 © Dream

 

" Arahnya ke sana karena kita punya nikel, kobalt, mangan, dan bahan baku yang lain yang bisa dipakai oleh industri dalam membangun lithium battery dan Indonesia punya cadangan nikel terbesar nomor satu di dunia," kata dia.

Agar target tersebut bisa tercapai, Jokowi mengirimkan menteri untuk studi banding mengenai pengembangan lithium ke sejumlah negara maju. Jepang dan Jerman masuk dalam daftar negara tujuan studi tersebut.

“ Strategi ini harus kami pakai untuk membangun industri mobil listrik. Kami sudah mengirim menteri mendekati industri-industri mobil besar di Jepang, Jerman, dalam rangka mengembangkan lithium,” kata dia.

3 dari 6 halaman

Ini Usaha Keras Thailand Pacu Kendaraan Listrik, Indonesia Mau Tiru?

Dream - Kendaraan listrik menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi produsen utama otomotif di kawasan Asia Tenggara. Agar sektor ini bisa maju, pengusaha meminta pemerintah untuk mencontoh Thailand.

“ Saat ini, Indonesia masih berada di bawah Thailand dari sisi produksi maupun ekspor otomotif,"  kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Johnny Darmawan, dalam “ Electric Vehicle Indonesia Forum and Exhibition 2019” di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream. 

Menurut Johnny, Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan bisa menjadi langkah awal untuk menjadikan Indonesia pemain utama kendaraan listrik di ASEAN.

Untuk diketahui, Thailand memproduksi kendaraan sebanyak 2,1 juta unit pada 2018. Pencapaian itu hampir dua kali lipat dari Indonesia yang baru sanggup memproduksi kendaraa 1,3 juta unit.

 

 © Dream

 

Dari sisi ekspor, negeri Gajah Putih itu telah mengekspor sekitar 53 persen dari total produksi kendaraannya di tahun lalu. Sementara Indonesia baru mencapai 26 persen. 

“ Majunya industri kendaraan Thailand tak terlepas dari dukungan kebijakan yang berpihak pada industri,” kata dia.

Johnnya mencontohkan ada insentif pengurangan bea masuk impor barang modal dan komponen, dukungan pada kegiatan riset dan pengembangan dengan memberikan insentif pajak penghasilan minimal tiga tahun.

Ada juga insentif perpajakan berdasarkan lokasi pabrik. Semakin jauh lokasi pabrik dari Bangkok, insentif yang diberikan juga semakin besar.

4 dari 6 halaman

Bagaimana dengan Kendaraan Listrik?

Pemerintah Thailand, lanjut Johnny, mengatakan telah menawarkan banyak insentif untuk pengusaha otomotif. Misalnya, perusahaan yang memproduksi kendaraan listrik akan mendapatkan insentif berupa pembebasan pajak 6-10 tahun.

Insentif ini berlaku jika mereka menghasilkan komponen utama, seperti baterai dan power train di dalam negeri. Mesin yang diperlukan untuk memproduksi semua jenis kendaraan listrik yang dibebaskan dari tarif impor.

" Indonesia perlu mengeluarkan kebijakan serupa sebagai implementasi Perpres No 55 Tahun 2019 agar bisa berkompetisi dengan Thailand dalam produksi kendaraan listrik," kata dia.

5 dari 6 halaman

Lebih Potensial, Indonesia Disarankan Kembangkan Motor Listrik Dahulu

Dream - Pengusaha menyarankan pemerintah untuk mengembangkan sepeda motor listrik sebelum mulai menyasar mobil elektrik. Alasannya, pangsa pasar sepeda motor listrik di Indonesia bisa berkembang dan menjadi bisnis baru.

Diketahui pengguna sepeda motor Indonesia saat ini mencapai kisaran 6 juta-7 juta unit.

“ Sepeda motor itu teknologinya sudah banyak. Di Tiongkok sudah banyak yang mengembangkan itu. Mengapa tidak dicoba itu dulu?” kata Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Johnny Darmawan, dalam “ Electric Vehicle Indonesia Forum and Exhibition 2019” di Jakarta, Selasa 26 November 2019.

 

 © Dream

 

Johnny meyakini penggarapan industri motor listrik yang lebih serius akan membuka peluang bisnis yang cukup besar. Diperkirakan dalam waktu lima tahun, jumlah pengguna motor listrik bisa mencapai 4 juta-5 juta unit.

Untuk mulai menggarap sektor otomotif baru ini, Johnny mengungkapkan regulasi yang ada saat ini belum mengatur secara spesifik soal sepeda motor listrik.

“ Iya (regulasi spesifik untuk motor belum). Tapi di pembicaraan akan diterapkan motor dulu. Motor dulu itu untuk industri pabrik masuk diakal,” kata dia.

6 dari 6 halaman

Tapi, Baterai Masih Mahal

Johnny melanjutkan ada tantangan terbesar di industri kendaraan listrik. Dia menyebut harga baterai kendaraan listrik masih mahal.

Pemerintah bisa menekan harga jual baterai listrik jika bisa mengembangkan industri motor listrik dan dan diiringi dengan jumlah produksi baterai.

“ Kalau menunggu mobil, mulainya lama. Kapan harga baterai akan turun?” kata dia.

Beri Komentar
Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair