Produsen Mobil Jepang Siap Investasi Puluhan Triliun di Indonesia

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 20 November 2019 13:41
Produsen Mobil Jepang Siap Investasi Puluhan Triliun di Indonesia
Salah satunya Toyota Group. Lalu, siapa lagi?

Dream - Para pelaku industri skala besar Jepang akan menanamkan modal di Indonesia hingga Rp40 triliun. Komitmen investasi ini akan berlangsung sampai 2023.

Saat berada di Jepang, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, telah melakukan one on one meeting secara maraton dengan delapan perusahaan Negeri Sakura tersebut, tak terkecuali perusahaan otomotif.

Kesepakatan itu dibuat seiring dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 yang memprioritaskan pengembangan industri otomotif dalam negeri lebih berdaya saing global.

" Kami mendapat laporan tentang rencana ekspansi dari Toyota Group sebesar Rp28,3 triliun. Ini termasuk pengembangan Toyota, Daihatsu, dan Hino," kata Agus, dikutip dari Liputan6.com.

Dia mengatakan, investasi ini akan direalisasikan dalam periode lima tahun, yaitu 2019-2023 untuk mengembangkan bisnis di Indonesia. Di samping itu, Honda menyampaikan akan merealisasikan investasi sebesar Rp5,1 triliun pada periode 2019-2023 di Indonesia.

“ Investasi tersebut untuk model baru dan pendalaman industri, lokalisasi, dan sebagainya. Karena memang salah satu nilai positif dari Honda adalah menempatkan pusat penelitian dan pengembangannya di Indonesia,” kata Agus.

Agus juga mengajak investor untuk bisa memboyong pusat penelitiannya di Indonesia. " Kami jelaskan ada regulasi PP No 45/2019, yang memberikan fasilitas super deduction tax. Jadi, industri yang bangun R&D akan dapat super deduction tax sebesar 300 persen," kata dia.

1 dari 4 halaman

Porsi Baja

Agus juga mengharapkan kepada Krakatau Nippon Steel Sumikin (Nippon Steel Group) agar terus meningkatkan porsi baja canai gulung dingin lokal agar tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sektor otomotif meningkat sekaligus bisa menekan impor.

" Misi kami bertemu dengan Nippon Steel agar Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS) bisa meningkatkan porsi baja canai gulung dingin atau CRC (cold rolled coil)," kata dia.

Hal ini sejalan dengan kebijakan Kemenperin untuk mencari substitusi barang sejenis yang diimpor dari Jepang sebagai bahan baku sektor otomotif.

Terpisah, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Warih Andang Tjahjono, mengungkapkan, dalam pertemuan dengan Menperin, Toyota Group memberikan update ekspor yang mencapai 200 ribu unit pada tahun 2018.

" Kami juga menyampaikan kembali kepada Pak Menteri mengenai komitmen Toyota Group sebesar Rp28,3 triliun," kata dia.

Sekadar informasi, pada one on one meeting di Tokyo, Agus telah bertemu sejumlah industri otomotif asal Negeri Sakura, antara lain dengan direksi Mitsubishi Motors Corporation (MMC), Toyota Group, Daihatsu Motor Corporation, Hino Motor, Suzuki Motor Corporation, Isuzu Japan, dan Honda Motor.

(Sumber: Liputan6.com/Arief Aszhari)

2 dari 4 halaman

Toyota Investasi Rp28 T untuk Kembangkan Mobil Listrik di Indonesia

Dream – Produsen otomotif asal Jepang, Toyota Motor Corp. siap menginvestasikan dana Rp28,3 triliun untuk pengembangkan kendaraan listrik di Indonesia. Rencana itu langsung diucapkan oleh Presiden Toyota Motor Corp., Akio Toyoda.

Rencana pengembangan kendaraan listrik Toyota di Indonesia itu terungkap dalam pertemuan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto dan produsen Toyota di sela pertemuan G-20 di Tokyo. 

“ Rencana investasi Toyota berikutnya terkait dengan kebijakan pemerintah yang baru, yaitu yang mendorong pengembangan electric vehicle," ujar Airlangga dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Jumat 28 Juni 2019

Untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik di tanah air, pemerintah tengah mempersiapkan dua payung hukum dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Pertama adalah aturan mengenai percepatan kendaraan berbasis elektrik dan kegiatan terkait dengan PPnBM untuk industri berbasis elektrik, yang di dalamnya termasuk hybrid.

" PPnBM itu akan menjadi nol kalau berbasis kepada elektrik dan emisinya paling rendah,” kata Airlangga.

 

 

Dia memastikan kementeriannya bersama salah satu produsen otomotif Jepang telah menggelar studi pengembangan dan penggunaan kendaraan listrik. Kegiatan ini juga melibatkan enam perguruan tinggi di Indonesia.

“ Dari hasil studi itu terlihat hybrid menjadi salah satu alternatif karena well to wheel, di mana dilihat juga ekosistem pembangkitan energi, mulai dari primary energy sampai kepada penggerak otomotif,” kata dia.

Airlangga memastikan Kemenperin sudah mendorong pengembangan teknologi kendaraan listrik dalam negeri, termasuk pembuatan fuel cell.

3 dari 4 halaman

Kolaborasi dengan Jepang

Sekadar informasi, kolaborasi bilateral ini dituangkan melalui penandatanganan framework document antara Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto dengan Ministry of Economy, Trade, and Investment (METI) Jepang, Hiroshige Seko di Osaka, Jepang, Kamis 27 Juni 2019 waktu setempat. Sinergi ini merupakan implementasi dari proyek The New Manufacturing Industry Development Center (New MIDEC) di bawah kerangka kerja sama Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA)

“ Dengan adanya kerja sama New MIDEC ini bisa mengkompensasikan defisit perdagangan antara Indonesia dan Jepang dalam bentuk capacity building yang sifatnya dasar untuk sektor manufaktur. Misalnya, kapasitas untuk teknik pengelasan atau skill lainnya yang terkait di industri otomotif,” papar kata Airlangga.

Kegiatan New MIDEC meliputi enam sektor, yaitu industri otomotif, elektronik, tekstil, makanan minuman, kimia serta logam. Selain itu juga terdapat tujuh lintas sektor, yaitu metal working, mold & dies (tooling), welding, SME development, export and investment promotion, green industry (energy, waste, emission), serta industry 4.0 (digitalization, automation, policy reforms).

Implementasi program New MIDEC yang dapat dilaksanakan langsung setelah penandatanganan tersebut adalah di sektor otomotif dengan melibatkan dua lintas sektor, di antaranya mold & dies (tooling) dan SME development. Sementara itu, kegiatan di sektor lainnya akan dilaksanakan setelah kedua belah pihak menyiapkan Technical Arrangement dan masukan dari para stakeholders terkait.

4 dari 4 halaman

Akan Keluarkan Paket Kebijakan Insentif Fiskal?

Airlangga mengatakan dia juga bertemu dengan sejumlah CEO dari perusahaan-perusahaan ternama di Jepang. Para pengusaha ini berharap iklim investasi di Indonesia semakin baik. Misalnya, jaminan ketersediaan bahan baku dan infrastruktur yang memadai.

“ Pada bisnis forum yang terdiri dari berbagai industri, rata-rata perusahaan besar Jepang itu telah beroperasi 30 tahun lebih di Indonesia. Sektornya mulai dari energi, pembangkit listrik, pulp and paper, kimia, otomotif serta perbankan,” kata dia.

Airlangga mengatakan pemerintah akan segera mengeluarkan paket kebijakan baru untuk mendukung dunia usaha, dengan memberikan fasilitas insentif fiskal berupa tax holiday, tax allowance, serta super deduction tax untuk vokasi dan inovasi.

“ Selain itu ada juga yang dibahas terkait dengan industri perbankan. Salah satu yang selalu menjadi topik pembahasan adalah keberadaan data center dan digital financial inklusif, yang menggunakan teknologi artificial intelligence. Kemudian dibahas juga untuk prototype project untuk smart cities,” kata dia.

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone