Wabah Corona, Turis China Dilarang Masuk Pameran Otomotif India

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 10 Februari 2020 11:43
Wabah Corona, Turis China Dilarang Masuk Pameran Otomotif India
Padahal, mobil-mobil buatan Tiongkok ikut mejeng dalam pameran ini.

Dream - India akan menggelar pameran India’s Auto Expo dalam waktu dekat. Namun, kebijakan asosiasi produsen otomotif setempat melarang orang-orang Tiongkok untuk hadir karena virus corona.

Padahal, mobil-mobil buatan Tiongkok ikut mejeng dalam pameran ini. Hal ini diungkapkan oleh juru bicara asosiasi otomotif setempat.

Dikutip dari BBC, Senin 10 Februari 2020, kebijakan itu bertujuan untuk mencegah perluasan penyebaran virus corona.

Tak hanya itu, di pameran ini, gelaran besar di Asia juga akan “ kehilangan” delegasi yang biasa datang dari perusahaan Tiongkok karena larangan bepergian.

Penjualan otomotif diprediksi bakal merosot. Hal ini disebabkan oleh produsen-produsen otomotif di Tiongkok yang `tutup warung` sementara akibat penyebaran virus corona.

1 dari 5 halaman

Pembeli Sepi dan Toko Tutup, Ini Kisah Pilu Bisnis Sekarat Karena Virus Corona

Dream - Jian Guolong, pendiri jaringan restoran populer di China, Xi Bei, mengaku hanya punya uang untuk mencukupi kehidupannya selama tiga bulan ke depan. Virus corona yang melumpuhkan sebagian besar China perlahan-lahan membunuh bisnisnya.

Uang tersebut masih sangat kurang. Dia harus membayar uang sewa serta menggaji lebih dari 20 ribu pegawainya. Bisnis restorannya tengah sekarat. Tak ada satupun pelanggan mau datang.

 

 © Dream

 

Guolong bukan satu-satunya yang pusing tujuh keliling. Persoalan serupa dihadapi perusahaan korporasi besar.

Cathay Pacific, maskapai penerbangan ternama asal Hong Kong, dibelit masalah yang sama. Perusahaan telah meminta 27 ribu pegawainya untuk libur selama tiga pekan. Cuti tanpa dibayar.

Kondisi ini pernah dialami saat krisi keuangan global menerjang dunia di tahun 2009.

2 dari 5 halaman

Tak Ada yang Berani Buat Kontrak Baru

Sementara perusahaan restoran cepat saji, Yum China memperkirakan penjualan dan keuntungan mereka akan negatif di tahun 2020. Mereka telah menutup 30 persen restoran di seluruh China.

Kisah bisnis yang menanti ajal itu hanya sedikit dari banyak cerita pilu akibat wabah virus corona yang mencemaskan dunia.

" Epidemik ini telah menyebabkan penghentian sejumlah pabrik klien," ujar CEO perusahaan startup, Black Lake Technologies, Zhuo Yuxiang dikutip Dream dari laman Forbes, Jumat, 7 Februari 2020.

Menurung Zhou, para klien menahan diri untuk membuat kontrak baru dan proses produk disetop sementara. Kondisi yang membuat bisnis mandeg.

Zhou saat ini memiliki klien dari 300 pemilik pabrik dari bisnis pengelolaan data lewat aplikasinya.

 

3 dari 5 halaman

Hanya yang Bertahan Bisa Lihat Masa Depan

Dampak virus corona yang bermutasi menjadi 2019-nCoV ini diperkirakan bakal lebih parah dari SARS di tahun 2003 lalu. Pemerintah China telah memerintahkan seluruh pengelola mal untuk tutup, bioskop dan pabrik berhenti beroperasi.

Dengan industri manufaktur dan aktivitas bisnis yang terhenti, pertumbuhan PDB China di kuartal I-2020 kemungkinan akan mengkerut menjadi 3,8 persen. Itu setara dengan US$ 62 miliar. Perkiraan ini dikeluarkan ekonom UBS, Wang Tao.

Sejumlah roda bisnis akan terpukul sangat keras dengan wabah virus corona ini. Selain restoran, bisnis katering, hiburan, layanan jasa, retail dan transportasi akan terkena imbas.

" Downsize jika diperlukan, relokasi pabrik jika butuh, atau PHK karyawan jika mendesak," tulis Wang Ran, pendiri persahaan investasi CEC Capital dalam blog terbarunya. " Hanya mereka yang bisa melwati masa ini dapat bertahan dan melihat masa depan."

(Sah, Sumber: Forbes)

4 dari 5 halaman

Bisa Menggulung Ekonomi Dunia

Dream - Tidak hanya mengancam nyawa manusia, wabah virus Corona yang bermula di Wuhan juga membahayakan perekonomian dunia, terutama China.

Apalagi wabah ini merebak bersamaan dengan Tahun Baru Imlek, saat roda ekonomi China berputar kencang-kencangnya karena konsumsi masyarakat meningkat tajam.

" Corona virus, ini menimbulkan pesimisme yang menggulung ekonomi pada Januari ini yang biasanya terjadi Chinese New Year dianggap salah satu momentum Tiongkok bisa meningkatkan pertumbuhan ekonominya melalui faktor domestik, yaitu konsumsi mereka," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dikutip dari , Selasa 28 Januari 2020.

Penyebaran virus corona yang cukup cepat akan melemahkan perekonomian China. Kebijakan ekonomi yang disusun oleh Negeri Tirai Bambu itu diprediksi takkan terealisasi dengan baik.

“ Dengan adanya corona virus dan kemudian terjadi policy lock down, seluruh potensi pertumbuhan ekonomi China dari domestic factor tidak realize (terwujud). Kehilangan momentum karena persis terjadi Chinese New Year yang bahkan liburnya diperpanjang sampai early Februari," kata dia.

Kondisi tersebut menggambarkan kebijakan yang telah disusun tidak selalu mampu terealisasi dengan baik. Sebab, masih ada potensi lain yang bisa mengganggu seluruh target yang ditetapkan. Kondisi tersebut pun harus diwaspadai oleh seluruh negara di dunia.

" Ini (virus corona) menggambarkan bahwa risiko itu bisa unpredictable dan very volatile jadi semua negara wajib selalu waspadai dan siapkan instrumen kebijakan dalam hadapi satu sisi keinginan untuk terus tumbuh. Keinginan untuk terus menjaga momentum harus, tapi tidak bisa buta terhadap environment," kata dia.

5 dari 5 halaman

Deretan Bisnis yang `Jatuh Sakit` Karena Virus Corona

Dream - Virus corona yang menyerang China dan menyebar ke berbagai dunia mencekam seluruh negara. Selain memakan korban jiwa, virus corona yang bermutasi menjadi 2019-NCoV juga meruntuhkan sendi-sendi ekonomi Tiongkok yang saat ini jadi motor ekonomi dunia.

Penyebaran virus corona membuat sederet pebisnis gigit jari. Mereka harus bersiap menelan pil pahit di tahun tikus logam tersebut. 

Dikutip dari South China Morning Post, Selasa 28 Januari 2020, bisnis travel seperti Trip.com dan Fliggy menawarkan pembatalan booking gratis yang dibuat untuk bepergian ke Wuhan.

Hal yang sama dilakukan situs pemesanan tiket online, Meituan Dianping dan Qunar.com juga akan memberikan jasa full refund bagi mereka yang berada di area terinfeksi.

Kalangan pebisnis ritel dan restoran juga sepertinya harus memperbarui target pendapatannya. Merujuk data penjualan tahun baru China lalu, Kementerian Perdagangan Tiongkok melaporkan penjualan ritel dan restoran di sana selama libur panjang akhir tahun mencapai 1 triliun yuan (Rp1.959,05 triliun). Kini, penjualan hanya mencapai 513,9 miliar yuan (Rp1.006,75 triliun).

Bisnis transportasi juga diperkirakan bakal terpukul oleh virus Corona. CNBC, yang dikutip oleh Liputan6, memberitakan Wakil Menteri Transportasi Tiongkok, Liu Xiaoming, mengatakan ada penurunan perjalanan dari masyarakat pada hari pertama Tahun Baru Imlek sebesar 28,8 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Dengan rincian, perjalanan udara turun 41,6 persen, perjalanan kereta api sebesar 41,5 persen dan transportasi darat di jalan raya menurun 25 persen.

Pada hari Minggu, China Railway Chengdu mengumumkan akan menghentikan beberapa rute kereta api berkecepatan tinggi - termasuk beberapa dengan tujuan Shanghai - untuk beberapa hari ke depan, hingga awal Februari.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Nurmayanti)

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup