Ini Dia Penyebab Tumbuhnya Jerawat Kronis

Reporter : Cynthia Amanda Male
Minggu, 30 Desember 2018 16:02
Ini Dia Penyebab Tumbuhnya Jerawat Kronis
Semua orang pasti pernah mengalami masalah jerawat, namun jenis dan kondisinya berbeda-beda.

Dream - Jerawat termasuk salah satu masalah kulit yang cukup sulit disembuhkan. Krim, salep dan obat mahal, terkadang cuma bisa menghilangkan jerawat untuk waktu singkat, tetapi tidak benar-benar bisa menyembuhkan.

Semua orang pasti pernah mengalami masalah jerawat, namun jenis dan kondisinya berbeda-beda.

Ada yang berjerawat tapi bisa hilang dengan sendirinya. Ada juga yang memiliki jerawat yang tidak sembuh-sembuh meski diberi perawatan mahal.

Sebagian orang bahkan mengalami masalah jerawat yang kronis hingga memengaruhi kehidupan sosialnya.

 shutterstock© dream.co.id

Untuk mereka yang mengalami masalah jerawat kronis, para ilmuwan memiliki jawaban tentang alasannya.

Sebuah penelitian genetik besar, baru-baru ini mengungkapkan bahwa selama ini kita telah mengabaikan faktor utama dalam pertumbuhan jerawat.

" Penelitian genetik tentang jerawat ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Dan ini merupakan langkah yang signifikan," kata Profesor Jonathan Barker, penulis utama penelitian ini, dalam sebuah pernyataan.

Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications ini mengamati 26.722 orang, yang 5.602 di antaranya mengalami masalah jerawat kronis.

1 dari 2 halaman

Rambut Jarang dan Tipis

Tim peneliti mengidentifikasi 15 wilayah genom yang terkait dengan pertumbuhan jerawat. Namun 12 di antaranya tidak pernah teridentifikasi sebelumnya.

Mereka menemukan banyak dari varian genetik ternyata memengaruhi pembentukan folikel rambut, sebuah faktor risiko yang belum diketahui sebelumnya.

" Mengejutkan bahwa begitu banyak varian yang memengaruhi struktur dan fungsi folikel rambut. Mungkin variasi genetik ini telah mempengaruhi bentuk folikel rambut dan membuatnya lebih rentan terhadap bakteri dan peradangan, yang merupakan ciri-ciri penyebab jerawat," kata Michael Simpson, kepala Genomic Medicine Group di King’s College London.

Salah satu varian genetik, yang disebut WNT10A, terkait dengan displasia ektodermal, suatu kondisi yang menyebabkan rambut jarang dan tipis.

Displasia ektodermal juga menyebabkan terjadinya kelainan fisik lainnya pada kuku, gigi, kulit dan kelenjar.

2 dari 2 halaman

Temuan Baru

Sementara itu, sekitar 22 persen dari varian fenotipik (karakteristik yang dapat diamati) pada pasien berjerawat menjelaskan adanya varian genetik yang lain dalam penelitian ini.

Ini menunjukkan ada kemungkinan wilayah genom lain berkontribusi pada kondisi yang masih belum ditemukan.

" Sejumlah varian genetik ini bisa menjadi target yang menarik untuk pembuatan obat baru atau perawatan yang benar-benar akan membantu pasien," tambah Simpson.

Sekitar 85 persen orang mengalami masalah jerawat dalam hidup mereka. Gumpalan dan benjolan merah ini bisa menjadi masalah dalam waktu yang lama dan meninggalkan bekas luka pada 20 persen pasien.

 shutterstock© dream.co.id

Meskipun masalah jerawat terlihat sepele, tapi pengobatan baru yang mungkin dihasilkan dari penelitian ini sangat membantu bagi penderita radang papula, pustula dan nodul.

" Jerawat bisa memiliki dampak secara emosional dan psikologis yang parah, dan telah dikaitkan dengan depresi, pengangguran, ide bunuh diri dan bunuh diri itu sendiri," tulis para penulis.

Tim peneliti berharap penemuan baru ini mengarah ke perawatan baru dengan efek samping lebih sedikit daripada obat saat ini.

Salah satu obat jerawat terbaik yang beredar di pasaran saat ini adalah isotretinoin (juga dikenal sebagai Accutane). Namun, obat ini memiliki efek samping yang tidak baik, termasuk bagi wanita yang sedang hamil.

(Ism, Sumber: Iflscience.com)

Beri Komentar