Hadirkan Bebegig Sawah, Tani Centre IPB Ajak Pelestarian Budaya Lokal

Reporter : Maulana Kautsar
Senin, 14 Oktober 2019 15:24
Hadirkan Bebegig Sawah, Tani Centre IPB Ajak Pelestarian Budaya Lokal
Acara ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran budaya dari IPB.

Dream - Ketua Tani Centre Intitut Pertanian Bogor (IPB), Hermanu Triwidodo, mengajak semua anak bangsa melestarikan nilai-nilai budaya dan kebangsaan agar terhindar dari ancaman radikalisme sempit yang dapat mengarah pada disintegrasi bangsa.

" Nilai-nilai luhur dari kearifan budaya kita itu adalah tetap semangat berusaha, sabar, dan selalu berpikir positif untuk kebaikan," ujar Hermanu dalam keterangan tertulisnya, Senin, 14 Oktober 2019.

Untuk meningkatkan persatuan tersebut, Tani Centre menggelar kegiatan bertajuk Kenduri Tani 2019. Acara menghadirkan salah satu kearifan lokal berupa pementasan musik khas Cibatokan.

" Budaya Cibatokan ini menjadi salah satu kearifan yang masih terjaga sampai sekarang walau sudah semakin sedikit yang mengenali maupun memahaminya," ujar Wahono, ketua pelaksana Kenduri Tani 2019.

Selain pementasan musik Cibatokan, hadir juga Festival Bebegig. Festival yang hadir dengan tema Merawat Tradisi, Memajukan Tani ini menyiapkan total hadiah jutaan rupiah.

Kegiatan dari festival ini mengajak peserta untuk membuat bebegig atau orang-orangan sawah yang kreatif dengan memanfaatkan bahan lokal.

" Nantinya para peserta lomba harus dapat juga menjelaskan makna filosofis dari bebegig ini," kata Wahono.

Dengan adanya penguatan pendekatan kebudayaan ini, dia berharap, akan bisa menjadi penguatan citra bagi IPB sebagai kampus yang tetap konsisten merawat Indonesia sebagai negara yang didalamnya terdapat kebhinekaan.

" Kami percaya keragaman budaya yang dimiliki bangsa ini menjadi modal utama untuk membangun bangsa ini ke depan," kata Hermanu.

1 dari 5 halaman

IPB Ganti Nama Jadi IPB University

Dream - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengubah terjemahan bahasa Inggris kampus itu. Hal Rektor IPB, Arif Satria menyebut `nama Inggris` IPB kini sudah berubah.

"Kita perlu mengevaluasi `kesehatan` sebuah brand yang dianalogikan dengan menguji seberapa berartinya brand tersebut di mata stakeholders-nya," kata Arif, dalam keterangan yang dibagikan melalui Instagram @ipbofficial, Senin, 4 Februari 2019.

Arif mengatakan, sejak lama IPB mengalami dualisme terjemahan nama kampus. Dia menyebut, pemilihan kata `university` karena IPB menawarkan program studi yang lebih banyak dan luas, tidak hanya sekadar aspek pertanian dan kelautan saja.

 

A post shared by Institut Pertanian Bogor (IPB) (@ipbofficial) on

Arif juga menyampaikan, hasil studi eksplorasi pemangku kepentingan memberikan masukan bahwa kata `pertanian` di kampus itu telah diartikan sempit oleh calon mahasiswa dan orangtuanya.

"Ada beberapa corporate brand yang menempuh strategi ini untuk memberi simplicity dalam pengucapannya, tetapi lebih solid dalam exporsure-nya dan menjelaskan janji brand-nya. Untuk itulah IPB mengubah brand," ujar dia.

Selain nama terjemahan baru, IPB juga mengubah slogan lamanya. Slogan lama IPB Searching and Serving the Best diganti menjadi Inspiring Innovation with Integrity.

Rencananya, hasil kajian ilmiah tentang perubahan nama terjemahan IPB itu akan disampaikan dengan pemangku kepentingan, termasuk dalam rapat Senat Akademik dan disahkan keputusan Majelis Wali Amanat (MWA). (ism)

[crosslink_1]

2 dari 5 halaman

Foto Viral Mahasiswi IPB Bawa Poster Semangati Ibu yang Idap Kanker Bikin Sedih

Dream - Sebuah foto seorang mahasiswi sedang menjalani masa pengenalan kampus tengah viral di media sosial. Wanita berhijab itu tampak memegang sebuah karton putih dengan tulisan cukup menyayat hati.

" Ma! Lawan Kankernya Kakak udah di kampus terbaik #IPB," begitu isi tulisan dalam kertas karton putih yang diangkat wanita tersebut.

Kini sosok wanita berhijab yang terlihat sedang menangis sembari memegang sebotol minumal mineral itu sedang menjadi sorotan. Hingga sebuah kabar muncul di situs penampung donasi Kitabisa.com.

Mahasiswi itu diketahui bernama Ira Nurhaliza. Usianya baru 18 tahun. Ira, begitu biasa disapa, adalah gadis kelahiran Dumai, Riau dan tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan.

Ira tercatat sebagai mahasiswa pada tahun 2018 di Sekolah Vokasi IPB, Manajemen Agribisnis angkatan 55.

Dalam kampanye yang dibuat Mochamad Dandi, mengaku teman kuliah Ira, di laman Kitabisa.com, cobaan berat menghadang Ira ketika sedang menghadapi hari pertama Ujian Akhir Semester matrikulasi. Di hari itu, Ira mendapat kabar yang menyebutkan sang ibunda, Siti Patimah divonis mengidap kanker.

" Biaya rumah sakit yang terbilang mahal, birokrasi yang rumit untuk membuat BPJS/KIS/JKN serta latar belakang perekonomian keluarga Ira yang kurang mampu, membuat saya, kamu dan kita semua harus tergerak untuk membantu Ira agar Ibu nya dapat berobat dan tertangani dengan baik," tulis Dandi.

Sejak kampanye dibuat hingga hari ini, Sabtu, 20 Oktober 2018, total dana sumbangan yang diperoleh baru mencapai Rp45.193.913 dari target Rp100 juta.

Masa penghimpunan donasi direncanakan selesai dalam 86 hari ke depan.

Dream mencoba menelusuri sosok Ira dan cobaan hidup yang dihadapi keluarga. Ditilik dari platform sosial media, Dream diarahkan pada sebuah akun dengan nama @iranrhlza yang diduga milik Ira. Profil akun tersebut menuliskan keterangan Sekolah Vokasi IPN.

3 dari 5 halaman

Kabar Buruk yang Mengubah Hidup

" Namaku Ira Nurhaliza, aku lahir di kota Dumai Riau. Dengan seorang ayah yang sering memelukku hangat, Rianto dan Ibuku yang cantik dan sangat tabah Siti Patimah," tulis akun diduga milik Ira.

Dalam unggahan yang dibuat 31 Agustus 2018 itu, Ira menceritakan asal usulnya dan kehidupan keluarganya. Menurut Ira, dia terlahir di sebuah keluarga yang menyenangkan.

" Ayahku tak bisa membuat lelucon, tapi dia slalu berusaha membuat keramaian didalam rumah hingga aku tertawa bahagia dan bisa lepas dari genggaman mouse gaming ku," kata Ira.

Sementara sosok sang bunda digambarkan Ira sebagai wanita pekerja keras, dan selalu mengkhawatirkan hal-hal kecil serta kerap menasihatinya setiap kali meneleponnya.

Kondisi keluarga ini perlahan-lahan membuat Ira merasa harus melangkah maju. Ira mulai meninggalkan hobi bermain games, hobi, dan semua aktivitas tak pentingnya.

" Hingga aku mendapatkan sebuah kabar yang menyakitkan dihari pertama UAS matrikulasi ku. Ya, itu kabar yang sangat ingin kulupakan," kenangnya.

4 dari 5 halaman

Berubah Drastis

Sebelum kabar itu muncu, Ira mengaku hanya seorang anak yang fokus dengan kehidupannya sendiri, tanpa mengerti sakit yang dirasakan kedua orang tuaku untuk menyekolahkanku. Namun itu berubah drastis saat Ira mendengar kabar penyakit yang diidap sang ibu.

" Malam disaat ibuku mengeluh sakit, aku melihat kedua tangannya , kedua kaki nya. Apa yang kutemukan bukan hal biasa. Semua nya terluka. Lalu kulihat wajah ayahku yang tidur lelap, aku melihat beban yang ia pikul masih terbawa bahkan saat ia bermimpi," ujarnya.

Sejak malam itu, Ira telah berubah menjadi sosok yang baru. Tekad besar dirancang untuk membahagiakan kedua orang tua. Salah satunya adalah melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

" Aku gagal disalah satu jalan itu, tapi ibuku bilang " hunuskan pedang. Jalan maju. Allah dengar do'a kamu" . And here i am now, aku yang tak peduli pada awalnya bisa membuat kedua orang tuaku bangga," ujarnya.

Menggapai mimi kuliah di uiversitas negeri, Ira kini tengah berjuang untuk meringankan beban kedua orang tuanya. Ira bertekad membantu meringankan biaya pengobatan ibu.

" Aku yakin itu. Tidak hanya saat ini saja, tapi aku yakin aku bisa terus menjadi sosok ira yang menghunuskan pedang,mengangkat pistol, bukan ira yang mengangkat tameng lalu menyerah. Ma, pa tunggu kakak pulang ya. Kakak sayang kalian," katanya.

5 dari 5 halaman

Simak Curhat Ira

      View this post on Instagram

Ini bukan sekedar caption Namaku Ira Nurhaliza, aku lahir di kota Dumai Riau. Dengan seorang ayah yang sering memelukku hangat, Rianto dan Ibuku yang cantik dan sangat tabah Siti Patimah. Aku lahir ditengah-tengah keluarga yang menyenangkan. Ayahku tak bisa membuat lelucon, tapi dia slalu berusaha membuat keramaian didalam rumah hingga aku tertawa bahagia dan bisa lepas dari genggaman mouse gaming ku. Sedangkan ibuku adalah seorang pekerja keras, dia slalu khawatir tentang semua hal kecil, hingga hanpir di setiap menit nasihat nya selalu muncul dilayar ponsel ku. Hal itu membuatku perlahan berfikir untuk maju, lama kelamaan semua game, hobi, aktifitas yang tak terlalu penting mulai kuabaikan. Hingga aku mendapatkan sebuah kabar yang menyakitkan dihari pertama UAS matrikulasi ku. Ya, itu kabar yang sangat ingin kulupakan. Awalnya aku hanya seorang anak yang fokus dengan kehidupannya sendiri, tanpa mengerti sakit yang dirasakan kedua orang tuaku untuk menyekolahkanku. Ya, itu ira yang sebenarnya. Malam disaat ibuku mengeluh sakit, aku melihat kedua tangannya , kedua kaki nya. Apa yang kutemukan bukan hal biasa. Semua nya terluka. Lalu kulihat wajah ayahku yang tidur lelap, aku melihat beban yang ia pikul masih terbawa bahkan saat ia bermimpi. Mulai saat itu aku bertekad, aku bisa mewujudkan mimpiku lagi. SNMPTN, SBMPTN, USMI, aku mengikuti semuanya. Aku gagal disalah satu jalan itu, tapi ibuku bilang "hunuskan pedang. Jalan maju. Allah dengar do'a kamu". And here i am now, aku yang tak peduli pada awalnya bisa membuat kedua orang tuaku bangga. Lalu aku membuat suatu komitmen ,aku yakin bisa lepas dari aktifitas tak penting yang selama ini aku lakukan. Aku bisa membuat senyum itu menjadi senyum yang sesungguhnya. Aku bisa meringankan beban kedua orang tuaku. Aku bisa membantu biaya pengobatan ibuku. Aku yakin itu. Tidak hanya saat ini saja, tapi aku yakin aku bisa terus menjadi sosok ira yang menghunuskan pedang,mengangkat pistol, bukan ira yang mengangkat tameng lalu menyerah. Ma, pa tunggu kakak pulang ya. Kakak sayang kalian. 💦 ♥️ from : mrs.chocolate, Ira 31 Agustus 2018 MPKMB Saga Agrisatya 55

A post shared by mrs. Chocolatee (@iranrhlza) on

Beri Komentar
Mengharukan, Reaksi Gempi Dengar Gading dan Gisel Tidur Bareng Lagi