Hikmah Mengapa Umat Nabi Muhammad SAW Memiliki Umur Singkat

Reporter : Syahidah Izzata Sabiila
Jumat, 15 Mei 2020 03:33
Hikmah Mengapa Umat Nabi Muhammad SAW Memiliki Umur Singkat
Umat Nabi Muhammad SAW memiliki umur yang lebih singkat dibanding umat nabi sebelumnya. Apa hikmahnya?

Dream - Selalu ada hikmah dan pembelajaran dari Allah SWT ketika menetapkan sebuah takdir atas umatnya. Begitupun mungkin yang dapat kita temukan dalam ketentuan Allah SWT terkait usia umat Nabi Muhammad SAW yang lebih singkat dari umat nabi sebelumnya.

Rasulullah SAW pernah mengabarkan usia kebanyakan umatnya yang berkisar antara 60-70 tahun. Penyebutan kelaziman angka umur umat akhir zaman ini tidak menafikan mereka yang wafat sebelum mencapai atau sesudah melewati kisaran tersebut.

Meski ada yang berusia melebihi 70 tahun, jumlah mereka sangat kecil. Ternyata, ada sebuah hikmah yang bisa kita ambil mengenai singkatnya usia umat Nabi Muhammad SAW.

Dilansir dari NU Online, berikut penjelasannya.

 

1 dari 2 halaman

Usia Umat Nabi Muhammad SAW berkisar 60-70 tahun

Kisah Nabi dan Sahabat© Instagram

Dalam sebuah hadis, Rasulullah juga menjelaskan terkait usia umatnya.

“ Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.’” (HR At-Tirmidzi).

Menurut Abdurra’uf Al-Munawi dalam Faidhul Qadir mengatakan, “ umatku” yang disebut dalam hadits di sini bukan hanya pemeluk agama Islam (ummatul ijabah), tetapi manusia secara umum yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW dan seterusnya (ummatud da’wah).

Adapun umat manusia terdahulu memiliki usia, kekuatan fisik, dan rezeki yang berlipat ganda dari umat manusia akhir zaman.

Sebagian orang terdahulu berusia 1000 tahun. Tinggi badan mereka mencapai 80 hasta bahkan lebih atau kurang sedikit.  

Mereka menikmati dunia dengan fisik seperti itu. Dengan usia demikian, mereka menjadi angkuh dan sombong serta berpaling dari Allah

“ Karena itu, Tuhanmu menimpakan cambuk azab kepada mereka,” (Surat Al-Fajr:13).

2 dari 2 halaman

Hikmah di Balik Usia yang Singkat

Fisik dan rezeki serta umur umat manusia terus berangsur menurun hingga pada umat nabi Muhammad SAW.

Umat nabi Muhammad hanya menerima sedikit rezeki dengan fisik yang lemah dan usia yang relatif pendek, agar mereka tidak menjadi angkuh. Begitulah hikmah dari ketetapan dan rahmat Allah.

Sebagian ulama membagi empat fase usia manusia. Yakni masa balita dan kanak-kanak, masa remaja dan masa muda, masa dewasa, dan masa tua sebagai akhir usia mereka yang umumnya berkisar antara 60-70 tahun.

Pada masa tua, akan tampak turunnya daya fisik dan berkurangnya sisi lain pada dirinya.

Pada saat itu, ia sangat dianjurkan untuk mempersiapkan diri untuk menuju akhirat karena mustahil untuk kembali pada kekuatan dan ketangkasannya seperti semula saat muda dahulu. 

Allah memuliakan umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat akhir zaman ini dengan sedikit siksa dan hisab yang dapat menghalangi mereka dari masuk surga. Oleh karena itu, mereka adalah umat pertama yang masuk surga.

Rasulullah SAW bersabda, “ Nahnul akhrunal awwalun” atau kami adalah umat akhir zaman yang awal (masuk surga). Ini termasuk kabar Rasulullah yang terbilang mukjizat. (Abdurra’uf Al-Munawi, At-Taysir bi Syarhil Jami’is Shaghir).

Umat manusia akhir zaman mendapat limpahan rahmat Allah berupa, pelipatgandaan ganjaran atas amal ibadah yang membantu mereka di tengah keterbatasan usia mereka yang sangat singkat di dunia. Salah satu keterangan itu dapat ditemukan pada hadits Rasulullah SAW berikut ini:

“ Dari Ibnu Abbas RA, dari Rasulullah SAW pada apa yang diriwayatkan dari Allah, ia bersabda, ‘Allah menulis kebaikan dan kejahatan. Ia kemudian menerangkan, siapa saja yang terpikir untuk berbuat kebaikan dan ia belum melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan sempurna. Tetapi bila ia terpikir untuk berbuat kebaikan dan ia kemudian melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan yang berlipat ganda hingga 700 hingga kelipatan yang banyak. Namun, jika ia terpikir untuk berbuat kejahatan dan ia belum melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kebaikan sempurna. Tetapi bila ia terpikir untuk berbuat kejahatan dan ia kemudian melakukannya, niscaya Allah mencatatnya sebagai sebuah kejahatan saja,’” (HR Bukhari dan Muslim). 

Wallahu a'lam.

Beri Komentar