Credit Via Festival Kreatif Lokal 2020
Bisnis kuliner memang tak ada matinya. Apalagi jika pandai berinovasi, seperti mengikuti tren yang sedang terjadi, maka besar kemungkinan akan lebih mudah menarik pasar. Inovasi-inovasi inilah yang berhasil ditunjukkan oleh para finalis Festival Kreatif Lokal (FKL) 2020 kategori kuliner.
Setelah melewati proses penjaringan, penyaringan dan penilaian oleh para juri, muncullah 18 finalis di Festival Kreatif Lokal 2020. Menariknya, para peserta di kategori kuliner ini tak hanya sukses membangun usaha, tetapi mampu memberdayakan sumber daya yang melimpah di sekitar, hingga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Berikut profil lengkap ketiga finalis Festival Kreatif Lokal 2020 kategori kuliner selengkapnya.

Berawal dari usaha sampingan menjajakan kue di kantor, Rahayuningtyasworo mendapat respon positif dari para pelanggan sehingga ia berinisiatif merintis usaha dengan mempercantik tampilan dan pengemasan, lalu menjual ke toko-toko lain dengan sistem konsinyasi.
Hampir selama setahun Rahayu terus fokus memperluas koneksi dan mengembangkan kuantitas penjualannya. Hingga saat dirasa sudah cukup maju, ia memberanikan diri untuk resign dari kantor dan mencoba melebarkan sayap bisnis ini dengan membuat rumah produksi kue. Hasilnya, kini Dapur Chantique mampu menghasilkan produk dengan aneka varian dan rasa (khususnya produk dari bahan dasar apel, karena apel merupakan khas Malang) dipasarkan oleh 40 outlet toko kue dan oleh-oleh yang tersebar di kota-kota di Jawa Timur.
Penghasilan dari penjualan usaha ini saat ini terdiri dari: 10% reseller, 20% rumah produksi, dan 60% dari toko kue oleh-oleh khas Malang dan Jawa Timur. Produk-produk usaha ini dapat terjual 20.000-30.000 pcs/bulan saat sebelum pandemi, bahkan saat liburan akhir tahun bisa mencapai 1.000 pcs/hari. Omzet Dapur Chantique kini bisa mencapai Rp200 juta per bulan.
Menariknya, tak hanya tumbuh besar, usaha ini juga memberikan dampak nyata secara sosial. Termasuk memberdayakan masyarakat dan daerah sekitar dengan mengutamakan perekrutan karyawan dari lingkungan sekitar rumah produksi (Kampung Pie). Selain itu usaha ini pun membuat pelatihan-pelatihan bagi masyarakat sekitar rumah produksi untuk membuat pie dan kerajinan-kerajinan yang mereka bisa kerjakan (upgrade skill msayarakt sekitar).

Tak jauh berbeda, Dewi Home Crab yang diambil dari nama sang pembuat, Dewi Fatimah awalnya menyadari bahwa kandungan gizi dari rajungan yang lebih baik dari pada kepiting (kaya akan protein tinggi dan rendah kolesterol), sehingga berpotensi serta memiliki peluang untuk dijadikan sebagai produk olahan lain yang unik dan dapat dijadikan sebagai kuliner khas daerah. Dewi berusaha memanfaatkan hasil laut daerah sekitar tempat tinggalnya.
Apalagi rajungan hanya diolah seperti biasa dan diambil dagingnya untuk dimasak seperti pada umumnya, lalu seiring berjalannya waktu Dewi mendapatkan ide berinovasi membuat produk dari bahan dasar rajungan tersebut. Kini Dewi Home Crab mampu memproduksi sekitar 300 porsi pempek, kerupuk maupun nugget tiap harinya dari 5-9 kwintal daging rajungan yang dipasarkan secara offline oleh beberapa reseller, toko oleh-oleh maupun kepada end-user.
Berkat usaha ini, Dewi Home Crab mampu meraup omzet hingga Rp600 juta per bulan. Sementara dampak yang diberikan kepada masyarakat sekitar di antaranya mempekerjakan masyarakat sekitar domisili (wilayah Kramat) 140 karyawan dengan gaji tiap orangnya sebesar Rp4.000.000,-/bulan, tanpa memberikan syarat harus memiliki ijazah.

WAYO merupakan kepanjangan dari Waroeng Yogurt yang didirikan oleh Yulia Angelinia Kurniawan Ang, karena pernah berjualan yogurt di Surabaya. Namun, kini WAYO fokus pada usaha pertanian, khususnya strawberry dan buah-buahan lain di Yogyakarta.
Yulia membuka usaha buah strawberry selama 2 tahun, lalu menyebarkan penawaran ke B2B. Kemudian seiring berjalannya waktu, usaha ini pun mendapat permintaan dari B2B-nya untuk menyuplai aneka buah dan sayur lainnya juga, sehingga usaha ini pun berkembang sampai sekarang.
Adapun market dari usaha ini tidak dibatasi, B2B (Horeka), Rumah Tangga atau end-user pun tetap dilayani. Bahkan banyak dari yang tadinya konsumen end-user pun akhirnya ikut membuka usaha perseorangan. Saat ini WAYO Strawberry memiliki 1 kios di Jalan Suryodiningratan 32, Mantrijeron, Yogyakarta. Omzet usaha ini bisa mencapai Rp200 juta per bulan.
Sedangkan dampak yang diberikan kepada masyarakat sangat banyak. Mulai menggandeng petani-petani lokal untuk membantu pemasaran buah dan produk panenan petani ke skala B2B dan end-user. Sumber sayuran WAYO juga berasal dari petani juga dan sebagian pedagang di pasar tradisional Beringharjo yang berjualan masih secara konvensional.
Untuk jangkauan yang lebih luas terutama kondisi pandemi seperti ini konsumen lebih merasa aman belanja online. WAYO tergabung dalam paguyuban pedagang Beringharjo sejak sebelum pandemi dan menjadi perpanjangan tangan atau pelebaran sayap pada petani serta pedagang di pasar tradisional.
Tak kalah penting, WAYO mampu menciptakan lapangan pekerjaan khususnya di masa pandemi ini, serta membangun networking baru serta existing masih di ranah buah serta sayur. Menjadi mitra petani milenial di lereng gunung Andong Jawa Tengah untuk pemasaran buah organik dan musiman ke end-user.
Adapun Festival Kreatif Lokal 2020 adalah kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dari Adira Finance bekerjasama dengan Kemenparekraf RI bertemakan #BangkitBersamaSahabat yang diadakan mulai Agustus 2020 hingga Januari 2021 mendatang. Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Adira Finance terhadap program Kemenparekraf RI #BeliKreatifLokal dan Bangga Buatan Indonesia.