4 Cara Menghidupkan Pariwisata Halal di Tengah Pandemi Corona

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 30 April 2020 13:45
4 Cara Menghidupkan Pariwisata Halal di Tengah Pandemi Corona
Sektor wisata menjadi yang paling terdampak dari pandemi Covid-19.

Dream – Pandemi corona turut berdampak terhadap perekonomian syariah. Salah satu sektor yang terdampak adalah pariwisata halal.

“ Sektor yang paling terdampak adalah pariwisata halal,” kata CEO and Managing Director Dinar Standard, Rafiuddin Shikoh, dalam Webinar Komite Nasional Ekonomi Syariah, ditulis Kamis 30 April 2020.

Pandemi corona telah memukul subsektor wisata halal, seperti hotel, operator travel, dan restoran. Kondisi ini disebabkan turunnya jumlah kunjungan wisatawan luar negeri yang akhirnya berdampak pada penurunan okupansi hotel.

Dinar Standard menyarankan ada empat hal yang bisa dilakukan untuk menghidupkan kembali bisnis pariwisata halal di tengah pandemi Corona. Pertama, tur virtual. Cara ini telah dilakukan oleh beberapa negara, seperti Mesir yang menyediakan tur virtual melalui foto 3D di situs arkeologi.

Tentu saja perusahaan travel yang menyediakan fasilitas ini harus melengkapi informasi mereka dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

“ Ini adalah salah satunya,” kata Rafiuddin.

Yang kedua, kontribusi sektor swasta terhadap pariwisata syariah. Sebuah startup di Dubai mengumpulkan dana US$350 ribu dari investor lokal dan internasional.

“ Tujuannya untuk menghubungkan kembali hotel dengan customernya,” kata dia.

1 dari 3 halaman

Jangan Lupa yang Satu Ini

Ketiga, ada dukungan dari pemerintah. Pariwisata halal memerlukan dukungan dari pemerintah. Di Turki, pemerintah setempat menggelontorkan dana sebesar US$15,4 miliar untuk memulihkan perekonomian, termasuk sektor pariwisata, dari dampak pandemi corona.

“ Keempat, ada merger,” kata Rafiuddin.

Menurut Rafiudin, strategi merger diperlukan agar tidak banyak perusahaan travel agen, hotel, dan airlines yang beroperasi.

“ Beberapa maskapai mencari opsi merger, seperti Air Malaysia dengan AirAsia,” kata dia. 

2 dari 3 halaman

Gara-Gara Virus Corona, Pariwisata Indonesia Rugi Rp21 Triliun

Dream - Sektor pariwisata tidak luput dari dampak wabah virus Corona baru, Covid-19. Penyebaran virus yang sudah ditetapkan sebagai pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia itu benar-benar membuat dunia pariwisata Indonesia lesu. 

“ Dampak ekonominya sangat besar karena melumpuhkan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Untuk hari ini saja, okupansi hotel sudah mencapai 30 persen,” kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Hariyadi Sukamdani, di Jakarta, Kamis 12 Maret 2020.

Kerugian yang harus ditanggung pariwisata Indonesia sejak Januari silam mencapai US$1,5 miliar atau sekitar Rp21,69 triliun. Kerugian terbesar terjadi karena berkurangnya turis dari China.

 

© Dream

 

Tahun lalu, tambah Hariyadi, jumlah wisatawan Negeri Tirai Bambu mencapai 2 juta orang. Satu orang turis rata-rata menghabiskan uang sebanyak USS$1900 atau sekitar Rp27,48 juta.

Menurut Hariyadi, jumlah turis China merosot separuhnya. Terlebih dari awal Februari 2020 saat penerbangan dari Negeri Panda itu ditiadakan. “ Bisa diasumsikan jumlah turis yang hilang baru separuhnya yang bernilai US$1,1 miliar (Rp15,91 triliun),” kata dia.

Ditambah lagi pembatalan kedatangan dari turis luar negeri dan domestik lainnya. “ Perkiraan kami itu sudah US$400 juta (Rp5,79 triliun),” kata Hariyadi.

3 dari 3 halaman

Harus Direvisi

Melihat angka kerugian yang tinggi di sektor pariwisata, Hariyadi meminta pemerintah untuk merevisi target di sektor itu pada tahun ini. 

“ Sudah jelas pasti revisi, pertumbuhan ekonomi kita itu diperkirakan 5,2 persen tahun ini,” kata dia.

Kalaupun bisa mencapai 4,5 persen, kata dia, itu sudah sangat bagus. Menurut Haryadi, perkembangan ekonomi khususnya di sektor pariwisata, semua bergantung pada kondisi dan kepanikan masyarakat.

" Dengan sekarang ini sudah memasuki bulan maret, bulan depan sudah bulan ramadhan, kalau ini tidak ada sesuatu yang bisa mengembalikan, ya kira-kira di angka 4,5 persenlah kurang lebih," kata Haryadi.

(Laporan: Raissa Anjanique Nathania)

Beri Komentar