WN Inggris Divonis Cambuk 350 Kali di Saudi

Reporter : Ismoko Widjaya
Selasa, 20 Oktober 2015 17:02
WN Inggris Divonis Cambuk 350 Kali di Saudi
Kecaman AS dan Inggris terhadap hukuman cambuk yang diberlakukan Arab Saudi mendapatkan respon tegas dari pemerintah Arab Saudi. Pemerintah meminta dunia menghormati hukum Islam di negaranya.

Dream - Saat Amerika Serikat (AS) dan Inggris berusaha menekan Arab Saudi soal kasus yang dianggap melanggar hak asasi manusia. Salah satu diplomat terkenal kerajaan di Timur Tengah itu mengatakan dunia seharusnya menghormati sistem hukum Saudi dan tidak mencampuri urusan dalam negerinya.

Seperti dikutip dari Arabian Business, Selasa, 20 Oktober 2015, Perdana Menteri Inggris David Cameron berniat menggagalkan hukum cambuk sebanyak 350 kali, yang dijatuhkan Arab Saudi kepada seorang pria Inggris bernama Karl Andree berusia 74 tahun.

Andree tertangkap polisi Saudi sedang membawa minuman keras di mobilnya pada tahun lalu. Dia telah menjalani hukuman penjara selama 12 bulan sejak Agustus 2014, sambil menunggu hukuman lebih lanjut karena melanggar undang-undang Saudi yang ketat soal minuman beralkohol.

Menurut keluarga Andree, hukuman cambuk sebanyak 350 kali tersebut kemungkinan akan membunuh kerabatnya itu.

" Ini adalah kasus yang sangat memprihatinkan," kata juru bicara Cameron kepada wartawan. " Mengingat kekhawatiran yang sedang berlangsung dan fakta bahwa kami ingin lihat  kemajuan yang lebih banyak, PM telah mengirim surat ke Saudi untuk membahas kasus ini."

Pada saat yang sama, ibu dari seorang remaja Arab yang dihukum salib telah memohon Presiden AS Barack Obama untuk campur tangan dan menyelamatkan hidup anaknya.

Ali Mohammed Al Nimr diberi hukuman mati pada Mei 2015 setelah ikut ambil bagian dalam demonstrasi tiga tahun lalu, yang menuntut demokrasi dan hak yang sama di Provinsi Timur, wilayah penghasil minyak terbesar di Arab Saudi.

Kelompok hak asasi manusia termasuk Amnesty International dan Reprieve, Inggris dan Perancis telah memintakan grasi karena ia baru berusia 17 saat ditangkap pada tahun 2012. Ibunya kini telah memohon pemerintah AS untuk melakukan intervensi sebelum eksekusi dilakukan.

Namun, duta besar Saudi untuk PBB, Abdallah Al Mouallimi, mengatakan negara-negara asing harus menghormati sistem hukum Saudi dan memperingatkan mereka untuk tidak ikut campur dalam urusan dalam negerinya.

" Kami dengan hormat meminta dunia untuk menghormati sistem dan proses peradilan kami, undang-undang dan peraturan kami, dan tidak ikut campur dalam urusan internal negara berdaulat," kata Al Mouallimi mengatakan kepada BBC Newsnight.  

Hal ini disampaikan Al Mouallimi ketika ditanya tentang kemarahan global mengenai tertundanya eksekusi Al Nimr, dan kasus dipenjaranya blogger Raif Badawi yang telah dijatuhi hukuman 1.000 cambukan karena menulis tentang kebebasan berbicara dan demokrasi.

" Penerapan hukum syariah terkait hak asasi manusia adalah bentuk tertinggi dari hak asasi manusia," kata Al Mouallimi, yang bulan lalu secara kontroversial terpilih sebagai ketua panel ahli independen di Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

" Kami percaya bahwa kami memegang standar tertinggi. Jika itu tidak menyenangkan seseorang di sini atau di sana, itu masalah mereka, bukan masalah kami." (Ism)

Beri Komentar