Belasan Kurir Meninggal, Ada yang Kerja 21 Jam Sehari

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 5 November 2020 09:47
Belasan Kurir Meninggal, Ada yang Kerja 21 Jam Sehari
Permintaan pengiriman paket meningkat dua kali lipat seiring pandemi Covid-19.

Dream – Belasan kurir paket meninggal dunia akibat kelelahan karena bekerja berlebihan. Sejak pandemi Covid-19 memang permintaan pesan antar meningkat karena banyak orang enggan keluar rumah.

Orderan para kurir pun meningkat, baik untuk mengantarkan makanan, pakaian, kosmetik, dan lain-lain.

Dikutip dari India Times, Rabu 4 November 2020, seorang pekerja, Kim Duk-yeon ditemukan meninggal dunia setelah mengantarkan 400 paket dalam shift 21 jam.

Pria berusia 36 tahun ini bekerja pada 05.00. Dia berkirim pesan kepada koleganya untuk melewatkan satu putaran pengiriman paket.

“ Ini terlalu banyak. Saya tidak bisa,” kata Duk-yeon. Empat hari kemudian, dia meninggal dunia.

1 dari 3 halaman

Mayoritas Kurir Bekerja Berlebihan?

Duk-yeon adalah salah satu dari empat belas kurir di Korea Selatan yang meninggal karena bekerja berlebihan. Serikat pekerja menyebut bekerja yang berlebihan dialami oleh mayoritas karyawan kurir.

Keluarga almarhum menggambarkan penyebab kematiannya adalah kwarosa—istilah Korea untuk menggambarkan kematian mendadak akibat serangan jantung atau stroke karena bekerja yang terlalu keras.

Satu dari kurir pengemudi yang meninggal adalah Jang Deok-jin. Pemuda usia 27 tahun ini kehilangan 15 kg setelah bekerja di shift malam selama 18 bulan.

Berdasarkan keterangan keluarganya, Deok-jin datang ke rumah pada jam 06.00 setelah bekerja shift malam. Ayahnya menemukan Deok-jin meninggal dunia dengan wajah terbenam di bathtub sejam kemudian.

2 dari 3 halaman

Mengapa Seperti Itu?

Pengemudi kurir di seluruh dunia menanggung beban dan biaya selama New Normal diterapkan akibat pandemi Covid-19. Penyebaran virus corona turut mendongkrak belanja online. Alhasil, permintaan barang yang dikirim meningkat 10 persen di Korea Selatan. Tahun ini, diprediksi pengiriman paket meningkat dua kali lipat selama pandemi Covid.

Tekanan kerja ini menjadi akut di Korea Selatan. Di sana, pengiriman ke rumah diperkirakan mencapai berjam-jam bukan harian. Tentu saja ini membuat jam kerja yang lama, shift malam yang panjang, dan kondisi kerja yang melelahkan.

Kasus ini menarik perhatian Presiden Korea, Moon Jae-in. Jae-in menyerukan kondisi kerja kurir pengiriman diperbaiki.

“ Pada Agustus, Kementerian Tenaga Kerja Korea Selatan turun tangan dan mendesak perusahaan ligistik utama untuk menandatangani deklarasi untuk memastikan kurir mendapatkan istirahat yang cukup dan tidak harus bekerja shift malam terus-menerus,” kata laporan itu.

3 dari 3 halaman

Ingin Perubahan

Ratusan karyawan pengiriman mogok kerja. Mereka menuntut gaji dan kondisi yang lebih baik. Seruan mereka adalah “ kami ingin hidup”.

Laporan BBC, pengemudi dibayar sekitar 800 won Korea (Rp10.222) per paket, dan hari ini mereka mengirimkan sekitar 350 paket sehari. Sebagian besar juga harus membayar upah pekerja yang membawa paket ke lantai gudang.

Kurir juga harus membayar denda jika pengiriman terlambat atau barang hilang. Tidak hanya itu, pengemudi harus menyortir paket mereka sendiri dari ribuan pesanan dan ratusan van bahkan sebelum mereka bisa berada di belakang kemudi.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar