Biaya Hidup Mencekik, Emirat Masih Dicintai Ekspat

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 24 Oktober 2014 07:27
Biaya Hidup Mencekik, Emirat Masih Dicintai Ekspat
Meski biaya hidup di Dubai dan Abu Dhabi terus naik, kedua kota ini masih jadi idaman pekerja asing. Apa penyebabnya?

Dream - Seiring menggeliatnya ekonomi di kawasan Timur Tengah, makin menarik minat para pencari kerja asing. Gelombang ekspatriat yang makin membesar ini perlahan-lahan mulai merasakan jika taraf kehidupannya semakin berat seiring makin meningkatnya biaya hidup negara-negara Arab.

Mengutip laman Arabianbusiness, Jumat, 24 Oktober 2014, Bahrain, Qatar dan Oman kini menjadi negara yang lebih populer di kalangan ekspatriat daripada Uni Emirat Arab. Biaya hidup di Dubai dan Abu Dhabi yang meningkat tajam menjadi alasan hengkangnya para pekerja asing.

Survei tahunan Expat Explorer 2014 yang diterbitkan HSBC menemukan UEA sebagai salah satu negara dengan biaya hidup termahal di dunia. Tiga posisi tertinggi dihuni oleh Swiss, Singapura dan China.

Bahrain yang menduduki peringkat lima bahkan dinobatkan sebagai tempat terbaik untuk membeli rumah di Timur Tengah.

Meski tergolong kota dengan biaya hidup mahal, Dubai dan Abu Dhabi yang menjadi kota utama di UEA menduduki peringkat 15, tapi masih menarik bagi ekspatriat seluruh dunia. Kedua negara ini berada di peringkat tertinggi kota tujuan ekspatriat di Tanah Arab disusul oleh Arab Saudi dan Kuwait.

Kendati menawarkan prospek pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih menggiurkan, responden mengatakan UEA masih menjadi negara dengan biaya hidup tinggi dan pengeluaran untuk membesarkan anak yang tinggi.

Namun bagi ekspatriat yang ingin meningkatkan pendapatan dan pekerjaan yang bagus, UEA masih menjadi kota incarannya. Sekitar 71 persen responden yakin akan mendapatkan lebih banyak uang di UEA daripada di negara kelahirannya.

Meskipun peluang mendapatkan keuangan lebih baik di UEA, survei menemukan bahwa responden masih berjuang untuk mengatasi biaya kebutuhan hidup yang terus meningkat. Enam dari sepuluh ekspatriat mempertimbangkan untuk keluar dari UEA karena dinilai terlalu mahal, lebih tinggi 32 persen dari negara-negara lainnya.

Inflasi yang naik ke level tertinggi dalam lima tahun di bulan September telah mendongkrak biaya mendirikan rumah dan memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan 75 persen ekspatriat mengaku lebih banyak menghabiskan dana untuk akomodasi, dan 62 persen membelanjakan uangnya untuk bahan pokok.

Area lainnya yang dirasa sulit dilakukan di UEA adalah biaya-biaya dalam membesarkan anak. 85 persen responden mengatakan secara umum biaya membesarkan anak lebih tinggi di UEA daripada di negara asalnya. Sementara 77 persen menyatakan mereka membayar lebih untuk perawatan anak dibanding sebelumnya. Pendidikan juga menjadi isu penting dengan 86 persen mengatakan mereka menghabiskan lebih banyak daripada sebelumnya.

Namun segi positifnya, para orang tua merasa UEA sebagai salah satu dari lima negara teraman dalam membesarkan anak-anak. Bahkan, proporsi yang lebih besar dari ekspatriat mengasosiasikan UEA dengan keamanan pribadi yang lebih tinggi (66 persen), dibandingkan dengan rata-rata global 42 persen.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa ekspatriat melihat UEA sebagai batu loncatan, dengan mayoritas cenderung mempertimbangkan untuk pindah saat pensiun.

Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah (53 persen) memilih untuk menyimpan sebagian besar dana pensiun mereka di negara asal mereka. Sementara hanya 13 persen memilih untuk menyimpannya di UAE, jauh lebih rendah dari rata-rata global 41 persen. (Ism)

Beri Komentar