Negara Burundi (YouTube Ruhi Çenet Bahasa Indonesia)
Dream - Jika ada Luksemburg sebagai negara terkaya di dunia, Burundi menjadi negara termiskin di dunia, yang hingga kini masih terjerembab di jurang nestapa.
Melansir The Fintech Times, pendapatan perkapita tahunan Burundi hanya sebesar US$270 atau Rp4.204.858 (kurs Rp15,573/dolar AS).
Burundi masih menempati peringkat di antara negara-negara paling tidak berkembang di dunia (peringkat ke-185 dari 189 negara pada Indeks Pembangunan Manusia (HDI) pada tahun 2019), dan lebih dari 70 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.
Perekonomian negara seluas 27.834 km persegi itu berasal dari bantuan keuangan juga pertanian.
Ekspor utama negara ini adalah kopi dan teh, yang menyumbang 90 persen dari pendapatan devisa. Barang lain yang diproduksi antara lain batu dan logam, selimut, sepatu, dan lainnya.
Potret kemiskinan yang terjadi di Burundi juga terlihat dalam unggahan video YouTube Ruhi Çenet Bahasa Indonesia.
Di tengah sulitnya ekonomi, warga Burundi hidup dengan jumlah anggota keluarga yang banyak.

Anak-anak di sana tumbuh kembang dengan mainan seadanya. Bahkan barang bekas hingga mainan tak layak pakai justru masih digunakan. Seperti halnya mobil-mobilan yang berasal dari mainan plastik, sampai-sampai bermain sepak bola dengan bola kempes.
" Mereka tidak punya banyak mainan untuk dimainkan. Ada anak-anak yang memutar ban dengan tongkat, bermain board game dengan tutup botol, membuat mobil-mobilan dari botol plastik, dan bermain sepak bola dengan bola kempes," kata pemilik video.
Di tengah negara yang berlomba-lomba memajukan teknologi. Sebagian warga Burundi banyak yang belum menikmati kecanggihan listrik. Begitu pula dengan teknologi komunikasi. Masih banyak yang menggunakan ponsel dengan teknologi lama.
" Sebagian besar masyarakat di negeri ini masih belum menggunakan smartphone," sambungnya.

Upah dari para pegawai yang mencari nafkah pun tak sebanding. Untuk pekerja polisi, gaji selama sebulan pun diketahui hanya senilai 14 dollar atau setara dengan Rp200 ribuan.
" Sekitar $14," terang salah satu warga.
" Tapi mereka juga dapat memperoleh penghasilan dari uang tidak resmi kan? Uang suap," tanya pemilik video.
" Mereka hanya mendapatkan uang untuk minum bir, mereka tidak mendapatkan banyak," ungkapnya kembali.
Bekerja sebagai polisi di sana justru membuat mereka terpisah dari keluarga. Alasannya justru miris, mereka yang berhasil menjadi petugas enggan kembali ke rumah dan menafkahi anggota keluarga karena keterbatasan ekonomi.
Mereka lebih senang jika dapat hidup dan tinggal di kantor polisi setempat. Inilah fenomena sosial yang tak dapat dipercaya di Burundi.
" Sebagian besar dari polisi telah memutuskan untuk melupakan keluarga kami, kami tinggal di kantor polisi. Sangat sulit untuk memberi makan keluarga kami, kami tidak bisa mengirim uang ke keluarga kami, tidak ada solusi," terang salah satu warga.
Sebagai informasi, negara Burundi mempunyai dua ibu kota. Yang pertama adalah kota Bujumbura pada tahun 2007, kemudian 2008 Burundi menambah ibu kota Gitega.
Bujumbura lebih banyak digunakan untuk aktifitas ekonomi, sedangkan Gitega untuk aktifitas politik.