C919, Pesawat Made in China Penantang Boeing dan Airbus

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 3 November 2015 15:45
C919, Pesawat Made in China Penantang Boeing dan Airbus
Tiongkok ingin meraih kembali keuntungan dunia penerbangan yang selama ini dikuasai Boeing dan Airbus dengan menciptakan C919.

Dream - Sebuah perusahaan milik negara Tiongkok meluncurkan pesawat angkut pertama yang diproduksi atas inisiatif Negeri Tirai Bambu tersebut. Pesawat dengan kode C919 berjenis jetliner dibuat dengan kapasitas penumpang besar.

Tiongkok merupakan salah satu pasar penerbangan terbesar, tetapi sangat bergantung pada pesawat buatan Boeing dan Airbus. Upaya mencipta sendiri pesawat bernilai triliunan dolar ini diharapkan bisa meraih kembali keuntungan yang selama ini dinikmati asing.

Perusahaan pembuat pesawat komersial Tiongkok, Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) meluncurkan produk pertama pesawat mesin ganda dalam sebuah upacara yang dihadiri 4.000 pejabat dan tamu undangan lain di hanggar dekat Bandara Internasional Pudong di Shanghai.

" Ini merupakan dorongan terbesar bagi negara, karena mereka ingin dikenal sebagai pemain utama dalam pembuatan pesawat," ujar editor bagian transportasi udara Asia Mavis Toh kepada majalah Flightglobal.

C919 merupakan satu dari sekian inisiatif yang dibuat Partai Komunis untuk mengubah Tiongkok dari perusahaan murahan menjadi pencipta teknologi yang menguntungkan di dunia penerbangan, energi yang bersih, dan bidang-bidang lainnya.

Pesawat ini dirancang memiliki kapasitas sebanyak 168 kursi penumpang. Bahkan C919 digadang setara dan mampu bersaing dengan pesawat jet tunggal yang hingga saat ini masih dikuasai oleh Airbus A320 dan Boeing 737.

COMAC sendiri mengklaim sudah mendapat sebanyak 21 pembeli dengan jumlah pemesanan mencapai 517 unit pesawat. Kebanyakan pemesan berasal dari maskapai di Tiongkok, namun juga ada pesanan dari GE Capital Aviation Service.

Sebuah perusahaan negara terpisah ini juga tengah memproduksi pesawat dengan ukuran sedikit lebih kecil, ARJ-21. Pesawat ini akan bersaing di pasar yang didominasi pesawat Embraer buatan Brasil dan Bombardier buatan Kanada. Dua pesawat ARJ-21 pertama telah digunakan oleh maskapai penerbangan Tiongkok mulai tahun lalu.

Sebagian besar sistem utama C919 termasuk seperti mesin dan avionik disediakan oleh perusahaan barat atau dari perusahaan patungan Tiongkok-asing.

Boeing memprediksi total permintaan Tiongkok akan kebutuhan pesawat dalam dua dekade mendatang mencapai 5.580 unit dengan total nilai mencapai 780 miliar dolar, setara Rp1.056 triliun.

Maskapai terbesar Tiongkok memberikan peluang keuntungan potensial begitu besar kepada Partai Komunis dengan banyaknya pesanan C919.

" Tiongkok menawarkan pasar yang hebat, kemampuan teknik yang luar biasa dan biaya yang cukup rendah. Membangun industri penerbangan nasional membuat berpikir keras," kata Richard Aboulafia, wakil presiden bagian analisis Teal Group Corp., perusahaan konsultan industri.

Tetapi, pengembangan C919 terkendala persyaratan resmi yang ditetapkan perusahaan penyedia komponen agar komponen yang diperlukan dapat diproduksi di Tiongkok.

" Ini berarti pemasok dari barat perlu memberikan teknologi di segmen ini. Ini juga berarti pesawat tersebut dirancang dengan perjanjian yang mengikat," ungkap Aboulafia.

Sumber: bussinessinsider.com

Beri Komentar