Cegah Corona, Uang Kertas di China Diberi Sinar UV Sebelum Diedarkan?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 18 Februari 2020 18:15
Cegah Corona, Uang Kertas di China Diberi Sinar UV Sebelum Diedarkan?
Caranya dengan seperti ini.

Dream - Wabah virus corona membuat Bank Sentral Tiongkok melakukan tindakan apapun untuk mencegah penyebarannya. Sebagai otoritas pengendali keuangan tertinggi, The People's Bank of China (PBOC) memutuskan membersihkan uang yang beredar.

Mengutip laman Quartz, Selasa 18 Februari 2020, PBOC benaar-benar membersihkan uang yuan dengan mencucinya dalam air. Hal ini berdasarkan pada studi bahwa selembar uang bisa menjadi “ rumah” 397 bakteri. Kalau ada orang flu dan memegang uang, virus ini bisa bertahan hingga 12 hari.

World Health Organization (WHO) belum mengetahui berapa lama virus corona bisa bertahan hidup di permukaan dan benda, termasuk uang. Untuk informasi awal, virus ini bisa bertahan hingga beberapa jam. Tapi, juga bisa dibunuh dengan cairan disinfektan.

Langkah ekstrem dilakukan PBOC yaitu dengan menyinari uang menggunakan sinar ultraviolet atau suhu tinggi. Kemudian, uang tunai akan ditutup selama 1-2 minggu dan baru didistribusikan kepada masyarakat.

Sekadar informasi, sampai hari ini telah ada lebih dari 70 ribu kasus warga di seluruh dunia yang terkonfirmasi terpapar virus corona. Kematian yang dikonfirmasi akibat virus corona mencapai 1.527 kasus.

1 dari 5 halaman

Pulang dari Malaysia, Warga Palembang Diisolasi Diduga Suspek Virus Corona

Dream - Seorang warga Palembang menjalani perawatan di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin (RSMH). Pasien tersebut diduga menjadi suspek virus corona, Covid-19.

Kepala Humas RSMH Palembang, Suhaimi, menjelaskan pasien laki-laku berinisial TH itu merupakan pasien rujukan dari RS RK Charitas Palembang.

Pasien diketahui baru saja pulang ke Palembang setelah pergi ke Malaysia pada 11-15 Februari 2020.

" Dengan diagnosa Febris, suspek Pneumonia dd suspect Covid. Batuk (+/positif), dahak (+/positif), sesak napas (+/positif), GCS 15," kata Suhaimi, dilaporkan Merdeka.com, Selasa, 18 Februari 2020.

 

© Dream

 

Saat ini, kata Suhaimi, tim medis sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kondisinya. Hasil laboratorium baru diketahui dua hari mendatang.

" Saat ini pasien dirawat di ruang isolasi," kata dia.

Andai hasil laboratorium menunjukkan negatif, pasien kemungkinan tidak memerlukan perawatan dan diizinkan pulang.

Sumber: Merdeka.com/Irwanto

2 dari 5 halaman

China Ciptakan Alat Tes Covid-19, Klaim Bisa Deteksi Virus Corona 15 Menit

Dream - Universitas Nankai China telah mengumumkan terobosan dalam mengembangkan alat pendeteksi virus corona, Covid-19. Alat ini diklaim dapat mengidentifikasi infeksi di antara pasien dalam waktu 15 menit.

Dilaporkan Straits Times, produk pendeteksi virus yang baru, yang disebut alat deteksi antibodi IgM/IgG Novel Coronavirus (2019-nCoV), dikembangkan Universitas Nankai dengan perusahaan biofarmasi. Kartu tes cepat, bagian dari peralatan, dapat mendeteksi virus hanya dalam 15 menit.

Peralatan tes dapat mempersingkat waktu pengujian, menyediakan operasi yang lebih mudah, dan lebih cepat, serta membuat diagnosis tepat terhadap pasien yang diduga mengidap Covid-19. Selain itu, peralatan tes berkorelasi dengan orang-orang yang berhubungan langsung di tempat.

Pekan lalu, Kementerian Sains dan Teknologi China meminta proyek penelitian tentang alat tes cepat untuk virus corona. Kementerian tersebut mengatakan bahwa reagen deteksi asam nukleat saat ini membutuhkan waktu lama dan memiliki operasi yang rumit.

Alat tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan pengujian cepat pada pasien yang dicurigai dan mengalami infeksi tanpa gejala. Alat uji Nankai diharapkan akan segera digunakan dalam pencegahan dan pengendalian epidemi.

3 dari 5 halaman

Merinding, Pasien Sembuh Virus Corona Ceritakan Masa-Masa Pengobatan

Dream - Seorang perempuan berusia 47 tahun yang menjalani perawatan intensif di ICU di Singapura karena virus corona, Covid-19, dinyatakan telah pulih, Minggu, 16 Februari 2020.

Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan, perempuan tersebut diketahui bernama Zhang. Dia merupakan pengidap Covid-19 di Singapura.

Zhang, suami dan putranya, termasuk dalam 92 warga Singapura yang dievakuasi dari Wuhan, China pada 30 Januari 2020.

Selama berada di Wuhan, China, Zhang yang merupakan warga naturalisasi Singapura, tidak memperlihatkan simptom virus corona. Tapi, dilaporkan The Star, gejala Covid-19 mulai terlihat saat, Zhang tiba di Singapura.

Dia mengaku mengalami demam selama observasi kesehatan oleh National Centre for Infectious Diseases (NCID). 

" Saya sangat takut. Tim medis memasukkan selang oksigen ke hidung saya, dan menaikkan levelnya sehingga saya bisa bernapas. Tetapi, paru-paru saya tidak berfungsi dengan baik," kata Zhang.

4 dari 5 halaman

Kepala Merekam Percakapan

Zhang mengingat dengan jelas momen saat mengalami kesulitan bernapas yang luar biasa. Dia bahkan sempat berpikir hidupnya sedang sekarat.

" Saya bahkan berpikir `Apakah saya sekarat`," ujar dia.

" Pada waktu itu, saya tidak bisa bergerak, tetapi pikiran saya bekerja. Saya mendengar percakapan mereka (tim medis) dengan jelas," kata dia.

Seorang dokter perempuan terus memegangi kepalanya dan mengatakan agar tidak khawatir. " Jangan khawatir kami akan memasukkan selang untuk membantumu berpanas," katanya.

Suami Zhang tidak terinfeksi virus. Sementara itu putranya, dinyatakan positif dan terus menjalani pengobatan di NCID. Kondisi sang putra terus membaik dan tidak ditemukan simptom di tubuhnya.

5 dari 5 halaman

Pesan untuk Pasien yang Masih Terpapar

Zhang mengatakan, rasa terima kasihnya kepada staf medis di NCID yang memperlakukannya " seperti keluarga" dan " terus membesarkan hatinya setiap hari" .

Sekarang setelah dia dinyatakan sembuh, Zhang berencana untuk kembali ke kehidupannya sehari-hari.

" Aku hanya ingin kembali ke kehidupanku yang biasa, pergi berolahraga bersama teman-temanku, lalu pemasaran, dan minum kopi. Kemudian di malam hari, menyiapkan makan malam untuk suamiku dan anak-anak. Aku pikir itu akan baik," ujar dia.

Kepada pasien lain yang masih menjalani perawatan, dia berkata, " Kita harus melewati. Kita punya keluarga dan teman. Penyakit ini tidak berarti kematian yang tak terhindarkan.

" Saya memiliki kepercayaan pada tim medis kami dan keterampilan mereka. Saya percaya mereka akan bisa menyelamatkan kami," kata dia.

Beri Komentar