Hotel Betawi ini Kalahkan Hotel Mewah Dubai

Reporter : Syahid Latif
Kamis, 22 Oktober 2015 20:05
Hotel Betawi ini Kalahkan Hotel Mewah Dubai
Hotel syariah tak sekadar tanpa minuman beralkohol. Mereka juga bisa menolak tamu yang berniat 'nakal'.

Dream - Dream – ‘Halal’. Jika Anda menemukan kata itu pasti akan berfikir tentang makanan. Namun kali ini kata ‘Halal’ terpajang mencolok dalam sebuah piagam berbingkai pada dinding sebuah hotel.

Apanya yang halal ? Makanan restorannya atau apa ?

Jawabnya semua. Baik hidangan maupun pelayanan di Hotel Sofyan Betawi. Hotel yang terletak di Jalan Mutia Nomor 9, Menteng, Jakarta Pusat, mengusung “ konsep syariah”.

Memang masih ada yang belum mengenal konsep hotel syariah. Ternyata Hotel Sofyan Betawi sudah mulai memperkenalkannya sejak 13 tahun lalu. Hasilnya, Hotel ini mendapat pengakuan sebagai Best Family Friendly Hotel di ajang World Halal Travel Awards (WHTA) 2015, 20 Oktober lalu.

Gelaran dunia industri Islam itu berlangsung di Emirates Palace, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pada kategori ini Hotel Sofyan Betawi mengalahkan dua pesaing dari Dubai, Gloria Hotel dan Landmark Hotel.

***

Dream berkesempatan wawancara dengan Vice Director of Business Development Sofyan Betawi, Yopi Nursali. Saat mulai beroperasi 1982, Hotel ini menerapkan sistem manajemen hotel pada umumnya. “ Dulunya, di tempat Anda duduk itu diskotek,” kata Yopi.

Sepuluh tahun kemudian pemilik Hotel Sofyan, Riyanto Sofyan mengubahnya. Manajemen operasi hotel harus berlandaskan pada syariah. Ruang diskotik dibongkar, diubah menjadi lobby tempat tunggu para tamu.

Mereka tak lagi menyediakan minuman beralkohol. “ Semua harus halal,” kata Yopi. “ Para karyawan sangat mendukung perubahan itu, sebab mereka merasa pekerjaan mereka barokah,” tambahnya.

Banyak orang heran. Penjualan minuman beralkohol dan hiburan malam menjadi salah satu sumber pendapatan utama. Lalu, bagaimana hotel itu bisa bertahan?

Memang butuh waktu cukup lama bagi Hotel Sofyan mengubah ke sistem syariah. Permohonan sertifikasi Halal diajukan ke MUI. Berbagai syarat berusaha dipenuhi. Mulai penyediaan musala, pemberian tanda arah kiblat di setiap kamar, sampai pemisahan layanan tertentu untuk tamu pria dan wanita.

“ Pada tahun 2003, sertifikasi syariah MUI itu keluar,” tutur Yopi. Kini, di setiap kamar hotel itu telah disediakan tanda arah kiblat, sajadah, Alquran, dan buku doa. “ Kami diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah dari MUI.”

Pelayanan Hotel Sofyan setingkat dengan hotel bintang tiga. Hebatnya, selain memberikan layanan syariah, mereka juga melakukan ‘penjagaan’.

Tidak sembarang tamu bisa memesan kamar. Jika ada pasangan yang ingin menginap mereka tidak akan dilayani sebelum bisa membuktikan adanya surat nikah yang sah. Menerima tamu juga harus di lobby, tidak boleh dibawa ke kamar.

“ Jangan coba-coba mengakali, karyawan kami sudah terlatih,” kata Yopi sambil tersenyum. Dia mencontohkan, saat ada tamu pria dan wanita mau ambil kamar terpisah pun mereka bisa menangkap gelagat kurang baik. Dan karyawan bisa menolak pesanan itu.

Misalkan saja pasangan mengaku menginap untuk urusan dinas. Logikanya, pasti sudah dipesankan oleh kantor terlebih dahulu. Tidak mungkin tiba-tiba datang memakai taksi yang sama, lalu ingin menginap. “ Tanpa mengurangi rasa hormat, tidak kami terima.”

 

1 dari 1 halaman

Saat Dream diajak menjenguk restoran hotel. Terdengar sayup suara azan memenuhi ruangan. “ Kami pastikan azan bisa didengar tamu yang berada di basement sampai lantai lima,” Yopi mencoba menjelaskan. Hotel Sofyan selalu memutar suara azan lima kali sehari, setiap kali masuk waktu salat.

Ternyata konsep yang (mungkin) sebelumnya tidak lazim itu membuat jatuh cinta pelanggan. Tamu bisa membawa keluarga menginap tanpa ada rasa khawatir mendapat suguhan tidak halal. Tamu juga yakin anak dan keluarganya tidak bakal melihat pemandangan pasangan bukan suami istri berseliweran di hotel.

Kini Hotel Sofyan bisa memetik hasilnya. Grup usaha ini terus berkembang dan telah memiliki sembilan hotel. Semua hotelnya berkonsep syariah dan tersebar di beberapa daerah di Tanah Air.

“ Bulan Puasa kemarin kami lebih ramai dibanding hotel-hotel tetangga,” kata Manajer Hotel Sofyan Betawi, Kukuh Wibawanto, yang turut menemani Dream.

***

Sofyan Hotel Grup tidaklah sendirian sebagai penyedia jasa penginapan syariah. Di Indonesia, setidaknya ada 200 hotel dengan konsep serupa. Bahkan 50 di antaranya bergabung dalam Asosiasi Hotel dan Restoran Syariah Indonesia (AHSIN). “ Sisanya masih dalam proses bergabung,” tambah Yopi, yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif AHSIN.

Selain Sofyan Hotel Group, kelompok bisnis lain yang bergerak di lahan ini Hotel Syariah Solo milik Tommy Soeharto, Horizon yang memiliki Azizah Hotel, dan kelompok lainnya. Namun, dari 200 hotel syariah itu, baru 30 yang sudah mengantongi sertifikat halal MUI.

Memang tidak mudah untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Bahkan hotel berkonsep halal masih dibagi dalam dua kategori.

Kategori pertama “ Hilal 1”. Pada kategori ini masuk dalam muslim friendly hotel, dimana mereka menyediakan fasilitas yang “ ramah” untuk pelancong muslim. Tapi masih terdapat beberapa item yang belum sepenuhnya halal.

Kategori kedua yaitu “ Hilal 2”. Disini hotel harus secara penuh menerapkan prinsip-prinsip syariah.

Sofyan Hotel Group sangat yakin bisnis kamar syariah sangat menjanjikan. Tercatat pengeluaran wisatawan muslim di seluruh dunia tahun lalu sekitar Rp1.934 triliun. Sayangnya, Indonesia hanya kebagian sekitar Rp 20 triliun.

Sebagai tujuan wisata di Asia, Indonesia masih dibawah Thailand dan Malaysia. Bagaimana agar Indonesia yang wilayahnya lebih luas, penduduknya mayoritas muslim, serta tujuan wisata jauh lebih banyak, bisa memimpin ?

AHSIN melihat banyak daerah yang masih setengah hati mengembangkan destinasi wisata mereka. “ Padahal tinggal dipoles sedikit Indonesia bisa jadi pemain utama,” kata Yopi mewakili AHSIN.

Beri Komentar