Kaum Milenial Ditantang Jadi Tanipreneur

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 14 Desember 2018 10:43
Kaum Milenial Ditantang Jadi Tanipreneur
Generasi milenial saat ini masih malu untuk berprofesi sebagau petani. Padahal petani berperan penting dalam perkembangan ekonomi di Indonesia.

Dream – Generasi milenial diimbau tidak malu menjadi petani. Para pemuda harus mampu memanfaatkan era digital dan industri pertanian 4.0 untuk menjadi wirausahawan pertanian alias tanipreneur.

“ Tidak lagi berpikir menjadi karyawan,” kata Ketua Umum Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI), Sunarso, dalam kuliah umum Goes To Campus dan HUT PISPI ke-8 di Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis 13 Desember 2018.

“ Karena peluang untuk mengembangkan tanipreneur yang berbasis pada teknologi semakin terbuka, di tengah makin berkurangnya lahan pertanian,” tambah Direktur Utama PT Pegadaian tersebut.

Menurut Sunarso, PISPI mengusung sembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan integratif di era industri pertanian 4.0. Sembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan terintegratif itu adalah kejelasan tata ruang nasional melalui pembaruan agraria, dan infrastruktur.

Selain itu, ada pula pola pengusaha pertanian, kelembagaan pertanian, riset dan teknologi tepat guna, supply chain management, aspek keuangan, monitoring neraca produksi dan stok nasional serta industri berbasis pertanian.

Menurut dia, saat ini banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi hutan properti dan kawasan industri. Sehingga diperlukan pola pikir kreatif dan inovatif untuk mengembangkan pertanian yang visioner dan terintegratif.

Selain itu, tambah Sunarso, minat generasi muda menjadi petani sangat berkurang. Oleh sebab itu menjadi petani modern atau petani digital menjadi jawaban untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

“ Sayangnya generasi milenial saat ini masih malu untuk berprofesi sebagau petani. Padahal petani berperan penting dalam perkembangan ekonomi di Indonesia,” tambah Sunarso.

Oleh sebab itu, perguruan tinggi seperti IPB punya peran mengembangkan sembilan konsep yang diusung PISPI. Sekaligus mengoptimalkan kebijakan dan fasilitas yang disiapkan pemerintah.

Sunarso menambahkan, sektor pertanian menjadi salah satu penyumbang pada pendapatan pendapatan domestik bruto (PDB) negara dan penyedia lapangan pekerjaan. Sehingga PISPI dan IPB dapat bersama-sama fokus menggarap sektor pertanian agar lebih maju di era digital dan industri 4.0.

Dia juga menyambut baik langkah pemerintah meluncurkan program kartu tani. Sehingga memberi peluang besar bagi perkembangan usaha pertanian di Indonesia. Kartu tani, kata dia, merupakan sebuah sarana untuk mengakses layanan perbankan terintegrasi yang berguna sebagai simpanan, transaksi, penyaluran pinjaman hingga kartu subsidi (e-wallet).

Program ini ppunya keunggulan, antara lain single entry data, proses validasi berjenjang secara online, transparan, dan multifungsi. Kebijakan ini juga ditunjang oleh Kementerian Pertanian yang mengembangkan modernisasi pertanian.

Oleh karena itu, Sunarso mengimbau para mahasiswa dan sarjana pertanian memanfaatkan semua inovasi kebijakan dan fasilitas yang ada untuk menjadi petani modern.

“ Petani Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sektor hulu saja seperti budidaya atau produksi pertanian, tapi juga harus bisa mengoptimalkan sektor hilir seperti bisnis pengolahan sehingga ada nilai tambah pada petani,” kata dia.

Sebagai orang nomor satu di Pegadaian, Sunarso juga memberikan fasilitas bagi para petani. Salah satunya dengan Program Pegadaian Sahabat Desa untuk mempermudah masyarakat desa dan daerah pinggiran dalam mengakses produk-produk dan layanan Pegadaian.

“ Petani sekarang cukup ke Pegadaian, maka dengan mudah dapat mencari tambahan modal untuk mengembangkan produktivitas pertaniannya,” tutur Sunarso.

Saat ni, jumlah outlet Pegadaian di seluruh Indonesia tercatat lebih dari 4.300. Dengan jumlah nasabah yang telah mencapai sembilan juta orang dan lebih dari 13.000 karyawan.(Sah)

Beri Komentar