`Ketika Mas Gagah Pergi' Jual Tiket

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 4 November 2015 20:02
`Ketika Mas Gagah Pergi' Jual Tiket
Film Mas Gagah belum selesai dibuat. Tetapi tiketnya sudah mulai dijual. Cara unik industri film.

Dream - Jamaknya, orang tertarik nonton film setelah lihat trailers filmnya. Baru ambil keputusan beli tiket, atau memilih nonton film lainnya. Tapi saat ini ada cara yang unik, membeli tiket sebelum filmnya kelar. Lho…?

Jangan bayangkan ini film Star Wars yang seri-seri sebelumnya sukses menyihir penonton. Atau film Hari Potter yang antrian tiketnya mengular hingga di jalanan. Cara unik presale atau jualan tiket sebelum film selesai ini untuk film Indonesia bernuansa Islami ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ (KGMP).

Sang pembuat film sudah mencetak 350 ribu lembar tiket presale dengan harga Rp 100 ribu per lembarnya. Gagasan itu dirancang Helvy Tiana Rosa yang juga penulis novel Ketika Mas Gagah Pergi. “ Beli tiket ini akan mendapatkan hak untuk menonton film sekaligus memberikan donasi,” kata Helvy.

Menurut Helvy, saat ini Ketika Mas Gagah sudah mencapai 90 persen. Dalam beberapa bulan ke depan, film yang diperkirakan menelan biaya Rp 5,5 miliar itu sudah bisa ditonton di bioskop-bioskop.

Keberanian memakai cara presale ini berawal dari keyakinan bahwa film tersebut akan meraih sukses seperti juga cerpennya. Coba kita melongok ke belakang. Ketika Mas Gagah Pergi merupakan kisah dunia remaja Indonesia yang disuguhan dalam sebuah cerita pendek, pada 1993.

Cerpen itu dimuat dalam majalah remaja Annida di bulan September. Berkisah tentang seorang mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia bernama Gagah Perwira Pratama. Cerpen ini kemudian dibuat dalam versi novel empat tahun kemudian.

Ternyata sambutan pencinta novel di Indonesia sangat besar. Sejak pertama terbit hingga saat ini novel Ketika Mas Gagah Pergi telah mengalami cetak ulang 39 kali dan sekitar satu juta eksemplar terjual.

Sang penulis pun kemudian menggagas untuk membuat versi filmnya. Keinginan itu muncul 12 tahun lalu namun saat itu dia tidak mendapat rumah produksi yang pas. Nekat, Helvy memutuskan memproduksi sendiri. Dimulai pertengahan tahun lalu, pembuatan film ini mengambil lokasi di Ternate, Maluku Utara.

Guna mendanainya, dia mengumpulkan dana melalui crowd funding dengan menjual tiket presale meski film tersebut masih dalam proses pengerjaan. Bagi Helvy, tumpuan utama pengumpulan dana itu dia harapkan dari para pencinta novel Mas Gagah.

Laporan: Amrikh Palupi

***

 

1 dari 1 halaman

Sandarkan Biaya Pada Pembaca

Sandarkan Biaya Pada Pembaca © Dream

Awal pekan lalu, dream.co.id sempat berbincang dengan sang penulis Mas Gagah yang juga menjadi produser film ini di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Depok, Jawa Barat. Helvy mengisahkan bagaimana kisah awal munculnya gagasan untuk mengangkat cerpen Ketika Mas Gagah Pergi ke layar lebar dengan biaya patungan.

Sebelum memutuskan menggarap film, Helvy sempat membuat survei untuk mengukur seberapa besar animo masyarakat menginginkan kisah Mas Gagah diangkat ke layar lebar. Dia bahkan sampai berkeliling ke 100 kota menggunakan biaya sendiri.

“ Saya keliling ke 100 kota dengan biaya sendiri untuk ngecek kalau saya bikin film ini orang mau nonton tidak,” ujar Helvy saat berbincang dengan dream.co.id.

Dari lawatan tersebut, Helvy mendapati cerpen Mas Gagah ini memiliki pembaca yang cukup setia. Setiap dari mereka, kata dia, menyatakan sepakat jika kisah tersebut diangkat menjadi film. Bahkan, konsep pembiayaan memakai sistem patungan juga berasal dari pembaca, hanya semata agar imaji dalam cerita tidak berubah.

“ Mungkin saya satu-satunya produser di Indonesia yang dibantu pembaca-pembaca buku ini. Mereka menyumbang untuk pembuatan film ini. Mereka merasa dibesarkan dan diinspirasi dari kisah novel Mas Gagah,” kata dia.

Helvy pun memutuskan membuat film ini dengan membentuk rumah produksi (production house/PH) sendiri. Ini semata dia lakukan hanya untuk menjaga agar imaji pembaca akan kisah Mas Gagah tidak berubah.

“ Ada PH, tapi bukan PH besar, saya garap sendiri. Sebenarnya dari 2003 sampai 2015 ada 11 PH yang ingin memfilmkan Mas Gagah, namun sampai 2015 ternyata saya tidak menemukan yang visinya sama,” kata Helvy.

Wanita lulusan Fakultas Sastra UI ini mengaku sejumlah tawaran yang diberikan oleh masing-masing rumah produksi tersebut cukup menarik. Tetapi, lantaran tidak ingin film tersebut hanya bersifat komersil, Helvy menolak semua tawaran itu.

“ Kalau sekedar bikin film saja, mungkin 12 tahun lalu juga sudah bisa bikin film. Saya ingin sesuatu yang tidak terlupakan, yang membangkitkan semangat anak muda kita dan menjadi inspirasi keluarga Indonesia,” kata dia.

Helvy butuh waktu cukup panjang untuk mencari orang yang pas untuk memerankan sejumlah tokoh dalam cerita ini. Selain tampilan fisik, Helvy juga menitikberatkan pada pandangan calon pemeran apakah memiliki misi dakwah atau hanya sekadar mengejar ketenaran.

“ Setelah 12 tahun mencari saya bisa bertemu dengan anak muda ini. Mas Syahid (pemeran tokoh Gagah) yang sosoknya sesuai dengan imajinasi saya. Wajahnya, tingginya, bacaan Alqurannya, prestasinya. Dia ada misi dakwah lewat film,” ungkap Helvy.

Dia pun tidak ingin menggunakan artis-artis yang telah ada. Semuanya semata agar ada regenerasi pemain film.

“ Kalau kaya gitu (menggunakan artis ternama) kita tidak memiliki kaderisasi. Kalau yang itu-itu saja seolah tidak mempunyai pemain lain. Sekarang saatnya memakai bintang baru lain dong,” kata dia.

“ Awalnya saya melakukan crowd funding mengumpulkan uang. Tidak hanya mengumpulkan duitnya saja tapi kita ada program tiket presale sehingga membayar Rp100 ribu dengan offline ataupun online mereka bisa menyumbang film ini,” ungkap Helvy.

Dalam penjualan tiket ini, Helvy tidak bekerja sendiri. Dia dibantu oleh beberapa komunitas yang mendukung pembuatan film ini. “ Ada komunitas namanya Sahabat Mas Gagah dibuat khusus untuk mendukung film ini di 2014,” katanya.

Lantaran konsep pembiayaan yang dinilai cukup unik, film ini juga mendapat bantuan dari lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap. Lembaga ini memberikan dukungan penuh sebagai salah satu sponsor pembuatan film Mas Gagah.

“ Pada 1 Mei 2014 saya bekerjasama dengan ACT untuk memberangkatkan saya ke 10 kota lainnya (untuk kebutuhan survei),” ungkap Helvy. Film Mas Gagah akan mulai diputar di sejumlah bioskop pada Januari 2016 nanti. Helvy yakin film ini akan meraih 1 juta penonton dan dana yang terkumpul akan disumbangkan sepenuhnya untuk pendidikan di kawasan Indonesia timur dan Palestina masing-masing Rp1 miliar.

Jika nantinya film ini mampu meraih sukses, Helvy ingin menggunakan sisa dana yang terkumpul untuk membiayai project lainnya. Tentu, project tersebut akan tetap bernuansa dakwah dan kemanusiaan.

Beri Komentar