Larangan Ekspor Barang Mentah Digugat ke WTO, Jokowi: Enggak Apa-Apa hanya Disemprot

Reporter : Alfi Salima Puteri
Selasa, 18 Januari 2022 14:35
Larangan Ekspor Barang Mentah Digugat ke WTO, Jokowi: Enggak Apa-Apa hanya Disemprot
Jokowi akan terus menghentikan ekspor bahan mentah seperti tembaga, emas dan bauksit meski terancam digugat ke WTO.

Dream - Jokowi menanggapi gugatan ke World Trade Organization (WTO) soal pelarangan ekspor nikel. Ia menegaskan pemerintah akan tetap menghentikan ekspor bahan mentah, seperti tembaga, emas, dan bauksit, meski terancam digugat ke WTO.

Presiden bernama lengkap Joko Widodo itu merasa tidak masalah jika persoalan ini harus dibawa ke WTO, karena pemerintah punya argumentasi untuk tetap melarang ekspor bahan mentah.

" Awal-awal memang kita disemprot oleh negara-negara lain. Enggak apa-apa kalau hanya disemprot. Kita diam dibawa ke WTO," ujar Jokowi dalam acara Dies Natalis ke-67 Universitas Parahyangan, dikutip dari laman resmi Sekretariat Kabinet RI, Senin, 17 Januari 2022.

Jokowi tak masalah banyak negara membawa masalah ini ke WTO. Dia percaya diri karena Indonesia punya alasan kuat melarang ekspor bahan mentah.

" Kita punya argumentasi juga bahwa kita ingin membuka lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya untuk rakyat kita. Enggak tahu menang atau kalah, ini masih dalam proses di WTO," tambah mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

1 dari 2 halaman

Meskipun belum mengetahui putusan WTO, mantan Wali kota Solo itu berharap Indonesia menang gugatan. Kalau tidak, pemerintah tetap akan menjalankan kebijakan larangan ekspor, termasuk pelaksanaan larangan ekspor bauksit dan tembaga yang akan dilakukan di masa depan.

" Ya kita harapkan menang, tapi yang jelas enggak akan kita hentikan meskipun dibawa ke WTO, setop bauksit tetap jalan, setop tembaga nanti tetap jalan. Inilah yang namanya nilai tambah dan kita harus memanfaatkan ilmu pengetahuan, memanfaatkan teknologi yang terbaru," tambah Jokowi.

Jokowi mengaku ingin menghentikan ekspor bahan mentah karena banyak keuntungan ketika Indonesia bisa mengekspor bahan setengah jadi dan bahan jadi. Ia ingin mengejar nilai tambah dari kebijakannya itu. Nilai tambah yang dimaksud itu berupa royalti, devisa hingga penerimaan negara bukan pajak.

Jokowi mencontohkan angka ekspor nikel Indonesia. Pada 7 tahun lalu, angka ekspor nikel mentah memberi devisa US$1 miliar atau sekitar Rp14-15 triliun. Kini, setelah ekspor nikel mentah dilarang, ekspor besi baja (yang menggunakan bahan nikel) Indonesia meroket hingga US$20,8 miliar atau Rp300 triliun.

Jika kebijakan larangan bahan mentah seperti bauksit, timah hingga emas ikut dilarang, ia yakin akan ada keuntungan lebih besar. Selain itu, tenaga kerja bisa terserap karena muncul industri setengah jadi dan industri jadi.

2 dari 2 halaman

Oleh sebab itu, sejak 2020 Jokowi telah menyampaikan bahwa Indonesia tidak bisa terus-terusan mengekspor bahan mentah nikel. Jokowi menginginkan bahan mentah tersebut harus diproduksi di Indonesia, baik menjadi barang jadi maupun barang setengah jadi.

“ Tapi jangan bahan mentah, jangan raw material. Tahun ini akhir nanti juga akan sama, bauksit setop, enggak ada lagi ekspor bahan mentah bauksit. Tahun depan lagi setop yang namanya ekspor bahan mentah tembaga, enggak ada lagi," tegas Jokowi.

 

Beri Komentar