Masa Depan Keuangan Islam Dunia Ada di Asia

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 29 Agustus 2014 14:30
Masa Depan Keuangan Islam Dunia Ada di Asia
Inggris telah memancangkan diri sebagai pusat ekonomi syariah di kawasan Eropa. Sejatinya, pusat ekonomi dunia justru akan hadir di Asia. Siapa saja pelaku utamanya?

Dream - Inggris sebulan lalu menjadi pemerintah pertama di luar dunia Islam yang mengeluarkan sukuk atau dikenal sebagai obligasi syariah dengan nilai terjual lebih dari 2 miliar poundsterling. Tak cukup di situ, Inggris memancang target menjadi ibukota keuangan Islam di dunia Barat.

Mengikut Inggris, Hong Kong akhir tahun ini diperkirakan akan bergabung dengan negara-negara lainnya untuk mengambil untung dari sistem keuangan Islam. Bekas jajahan Inggris ini menawarkan sukuk pertamanya yang diyakini bernilai antara US$ 500 juta hingga US$ 1 miliar. Sebelumya, Hong Kong mengeluarkan aturan pajak yang dibuat untuk memudahkan penjualan sukuk.

Mengutip laporan Amilinpost, Jumat, 29 Agustus 2014, populasi muslim global sekitar 1,6 miliar, hampir seperempat dari populasi dunia, membuat pasar keuangan Islam sangat luas. World Islamic Banking Competitiveness Report 2014 oleh Ernst & Young mencatat aset bank syariah di dunia rata-rata memiliki pertumbuhan 17 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara laporan State of the Global Islamic Economy 2013 dari Thomson Reuters menemukan pasar keuangan Islam saat ini memiliki aset sekitar US$ 985 miliar, kurang dari satu persen dari aset perbankan global. Pada potensi penuh, pasar keuangan Islam bisa berkembang hingga US$ 4,09 triliun.

Dari berbagai kawasan di dunia, Asia adalah rumah bagi lebih dari 60 persen muslim di dunia dan terletak di jantung pasar yang berkembang pesat ini. Indonesia memiliki penduduk muslim terbesar di dunia dan Malaysia tersohor sebagai pasar keuangan Islam terkemuka di dunia dengan nilai mencapai US$ 412 miliar pada 2012.

Kombinasi dukungan politik yang kuat, basis investor besar dan insentif pajak yang murah membuat keuangan Islam di Asia Tenggara relatif lebih murah bagi investor. Imbasnya, kawasan ini menjadi pasar yang paling berkembang di dunia untuk investasi yang ramah syariah.

Tengok saja, jumlah penerbitan sukuk global mencapai lebih dari 60 persen porsi seluruh dunia. Meskipun bank syariah terbesar dari sisi aset adalah Al Rahji Bank di Arab Saudi, Malaysia memiliki bank keuangan Islam terbesar di dunia dengan jumlah 21 bank.

Bulan ini, tiga bank teratas Islam di negara itu memulai pembicaraan awal merger, yang analis memprediksi akan membentuk " mega bank Islam" dengan aset yang mampu menantang dominasi bank-bank tradisional Barat.

Jika merger ini berhasil, entitas gabungan dari CIMB, RHB Capital dan Malaysia Building Society (MBSB) akan memiliki aset sekitar US$ 188 miliar sekaligus menjadikannya sebagai bank terbesar keempat di ASEAN. Beberapa analis percaya potensi pembiayaan syariah lintas batas akan membuka jalan bagi internasionalisasi model perbankan Islam Malaysia.

Di belahan Asia lainnya, Indonesia dengan populasi sekitar 250 juta orang, kemungkinan akan menjadi pasar utama berikutnya untuk pembiayaan syariah. Dengan sektor perbankan syariah berusia muda yang diperkirakan tumbuh lima kali lipat dari 2011 hingga 2015.

Selain dua negara Asia dengan mayoritas muslim ini, Asia juga masih mempunyai Hong Kong yang telah bekerja sebagai pusat intermediasi keuangan internasional antara China dan Timur Tengah. Negara ini sedang mempersiapkan diri menerbitkan sukuk pertama pada September. Dengan pasar China yang melanjutkan kebangkitannya, Hong Kong menjadi pintu gerbang yang ideal untuk menyalurkan mata uangnya, renminbi, ke sektor perbankan syariah.

Berbagai gambaran itu memunculkan wacana tampilnya Asia sebagai pusat ekonomi syariah dunia. Apalagi, krisis keuangan global pada 2008 telah memicu munculnya minat untuk melakukan pembiayaan secara etis, sebuah praktek keuangan yang erat hubungannya dengan prinsip-prinsip keuangan Islam.

Beri Komentar
Catat! Tips Tampil dengan Makeup Bold Ala Tasya Farasya-