Mungkinkah Bank Syariah Berlabuh di Tanah AS?

Reporter : Syahid Latif
Minggu, 30 November 2014 14:02
Mungkinkah Bank Syariah Berlabuh di Tanah AS?
Sekutu sekaligus sahabat AS, Inggris telah memproklamirkan diri sebagai pusat keuangan syariah di Eropa. Akankah AS mengadopsi sistem keuangan Islami ini?

Dream - Sistem keuangan syariah kini bukan hanya dominasi negara-negara musli. Sejumlah negara di Eropa seperti Inggris dan Irlandia tanpa sungkan mengadopsi sistem keuangan tanpa bunga ini.

Di saat negara sahabatnya sudah mulai mengenai keuangan syariah, publik bertanya-tanyakan akankah ekonomi syariah mendarat di tanah Amerika Serikat (AS).

Merujuk data data Pew Research Center 2010, negeri Paman Sam adalah rumah bagi sekitar 2,8 juta muslim. Association of Statisticians of American Religious Bodies, dalam laporannya baru-baru ini juga memperkirakan Islam adalah agama dengan pertumbuhan paling cepat di AS antara 2000 dan 2010.

Secara global, populasi muslim diperkirakan tumbuh dua kali lebih cepat dari non-muslim pada 2030. Mereka akan terus menjadi minoritas kecil di AS, tetapi jumlahnya masih akan lebih dari dua kali lipat dalam jangka waktu itu.

Laporan richmondfed.org seperti dikutip Dream, Minggu, 30 November 2014 menemukan kini beberapa faktor telah menyebabkan adanya permintaan besar untuk produk-produk keuangan Islam di AS.

Rata-rata, Muslim di AS memiliki pendapatan yang relatif tinggi dan berpendidikan. Mereka juga secara signifikan lebih muda dari rata-rata populasi di negara tersebut. Rata-rata muslim di Amerika Utara berusia 26 tahun, sementara rata-rata umur penduduk AS adalah 37.

Artinya, muslim AS masih mendekati puncak produktif tahun. Sejumlah laporan menyebutkan sebagian kecil dari populasi Muslim AS sebenarnya menginginkan jasa keuangan berbasis syariah.

" Meskipun tidak ada perkiraan yang konsisten mengenai jumlah populasi muslim yang menginginkan keuangan syariah," kata Blake Goud, ahli keuangan Islam di Thomson Reuters Islamic Finance Gateway.

Sebuah studi 1998 dari LARIBA berpendapat bahwa sebanyak 2 persen Muslim AS hanya akan menggunakan pembiayaan syariah. Solusinya, mereka tidak akan menggunakan jasa keuangan, atau menggunakan produk-produk keuangan konvensional. Muslim AS akhirnya hanya mengandalkan jalan informal seperti pinjaman dan investasi di antara keluarga dan teman-teman.

Bank Dunia pada 2013 menyebutkan dari 64 negara hanya ada 4 persen orang yang tak memiliki rekening bank di negara-negara non-muslim karena alasan agama.

Sementara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyebut 7 persen muslim lebih cenderung menghindari jasa keuangan formal karena alasan agama.

Para ekonom internasional Thorsten Beck, Asli Demirguc-Kunt, dan Ouarda Merrouche dalam studinya menyebtukan beberapa ratus lembaga keuangan syariah di 22 negara menemukan meski bank syariah terlihat kurang efisien, mereka masih bisa bertahan dari keterpurukan selama krisis keuangan.

Studi terpisah oleh Dana Moneter Internasional dan IFSB juga menemukan kinerja yang unggul dari lembaga keuangan syariah setelah krisis 2007-2008.

Faktor lainnya adalah pergeseran negara-negara non-muslim yang mulai merangkul keuangan Islam dengan menerbitkan sukuk untuk menarik negara-negara muslim mengucurkan dananya. Bahkan Perdana Menteri Inggris David Cameron sempat mengutarakan keinginannya menjadikan London sebagai pusat keuangan Islam di dunia.

Meskipun keuangan Islam terus berkembang di AS, pasarnya masih sangatlah kecil. Namun tetap signifikan sebagai bagian dari sistem keuangan Negara Paman Sam. (Ism)

Beri Komentar