Perusahaan Elektronik Ramai-Ramai Pindah Pabrik ke Indonesia

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 21 Juni 2019 15:12
Perusahaan Elektronik Ramai-Ramai Pindah Pabrik ke Indonesia
Siapa saja?

Dream – Perusahaan eletronik memutuskan merelokasi pabriknya ke Indonesia. Sebelumnya perusahaan ini memiliki basis produksi di Thailand dan Vietnam.

Dua perusahaan elektronik yang dipastikan akan merelokasi pabrinya ke Indonesia itu adalah Sharp dan LG.

Dikutip dari Merdeka.com, Jumat 21 Juni 2019, Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Janu Suryanto menyampaikan, Sharp akan merelokasi pabrik mesin cuci dua tabung dari Thailand ke Karawang International Industrial City (KIIC).

Rencananya, peresmian ekspansi pabrik Sharp akan dilakukan bulan depan.

" Jadi, nanti ada penambahan lini produksi. Ini juga untuk pasar ekspor. Mereka akan menyerap ratusan tenaga kerja," kata Janu.

1 dari 3 halaman

Bagaimana dengan LG?

Sementara LG akan merelokasi pabrik pendingin ruangan dari Vietnam ke fasilitas produksi yang ada di Legok, Tangerang. Rencananya, mereka akan produksi dan memasarkan pada September 2019 sebanyak 25 ribu unit.

“ Ya, paling tidak nanti bisa diekspor juga ke ASEAN. Investasi Sharp dan LG sekitar ratusan miliar rupiah,” kata dia.

Kemenperin mencatat, industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang menyumbang cukup signfikan bagi total investasi di Indonesia. Pada triwulan I tahun 2019, industri pengolahan nonmigas berkontribusi sebesar 18,5 persen atau Rp16,1 triliun terhadap realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Adapun tiga sektor yang menunjang paling besar pada total PMDN tersebut di tiga bulan awal tahun ini, yakni industri makanan yang menggelontorkan dana mencapai Rp 7,1 triliun, disusul industri logam dasar Rp2,6 triliun dan industri pengolahan tembakau Rp1,2 triliun.

Selanjutnya, industri manufaktur juga menyetor hingga 26 persen atau US$1,9 miliar terhadap realisasi penanaman modal asing (PMA). Tiga sektor yang menopangnya, yaitu industri logam dasar sebesar US$593 juta, diikuti industri makanan USD 376 juta, serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia US$217 juta.

2 dari 3 halaman

Efek Perang Dagang AS-Tiongkok?

Sementara itu Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menilai, Indonesia memiliki peluang di tengah bergulirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sebab, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi situasi global saat ini.

" Bagi Indonesia, sebetulnya perang dagang AS-China ini zero sum game, yang artinya tidak ada yang diuntungkan. Tetapi, di sini kita punya peluang. Adanya trade war ini, orang melihat negara kita berada di zona aman," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Menperin menjelaskan, Indonesia telah masuk zona aman investasi sejak 20 tahun lalu, yakni setelah berakhirnya Orde Baru dan dimulainya masa Reformasi. " Sebagai negara dengan kondisi geopolitik yang cukup stabil, Indonesia kini semakin diincar oleh investor asing," kata Airlangga.

3 dari 3 halaman

Dipandang Serius Kembangkan Ekonomi Digital

Beberapa waktu lalu, lembaga pemeringkat Standard and Poors (S&P) Global Ratings meningkatkan peringkat utang jangka panjang atau sovereign credit rating Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil. Dengan demikian, Indonesia kini memperoleh status layak investasi atau investment grade dari ketiga lembaga pemeringkat internasional, yakni S&P, Moodys, dan Fitch.

Airlangga menambahkan, Indonesia sedang dipandang sebagai salah satu negara yang serius dalam mengembangkan ekonomi digital. Itu menjadi nilai positif tersendiri bagi para pelaku usaha dunia. " Bahkan, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melihat Asia Tenggara terutama Indonesia bisa menjadi ground untuk digital economy," kata dia.

Untuk itu, salah satu langkah yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional agar bisa lebih kompetitif dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. " Indonesia masih menjadi daya tarik untuk investasi industri berbasis elektronika, garmen, alas kaki, serta makanan dan minuman," imbuh Airlangga.

Menperin menunjuk contoh produsen elektronika Sharp Corporation dan LG Electronics, yang akan menambah kapasitas pabriknya di Indonesia. Produk yang bakal mereka hasilkan untuk tujuan ekspor dan domestik.

Airlanga menyampaikan, pihaknya terus memantau perkembangan ekspansi atau perluasan pabrik LG dan Sharp tersebut. " Kami masih monitor sampai mereka realisasi. Pembahasannya sudah lama," kata dia.

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone