PHK Raksasa Digital, Jeff Bezos, Eks Orang Terkaya Itu Pecat 10.000 Karyawan Amazon

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 28 November 2022 21:27
PHK Raksasa Digital, Jeff Bezos, Eks Orang Terkaya Itu Pecat 10.000 Karyawan Amazon
Valuasi Amazon turun U$ 1 triliun.

Dream – Mengenakan kemeja merah marun dipadu celana jeans, pria berkepala plontos itu terlihat duduk di sofa. Ia tengah diwawancara CNN secara eksklusif di salah satu kediaman mewahnya di Washington DC, Amerika Serikat.

Pria berkepala plontos itu adalah pendiri Amazon, Jeff Bezos. Dalam wawancara itu, Bezos yang merupakan mantan orang terkaya dunia dan kini berusia 58 tahun,  berencana untuk memberikan sebagian besar kekayaan bersihnya senilai U$ 124 miliar atau Rp 1.944 triliun untuk amal.

Meskipun sumpah Bezos tidak spesifik, ini menandai pertama kalinya dia mengumumkan bahwa dia berencana untuk memberikan sebagian besar uangnya untuk amal.

Para kritikus telah lama mengecam Bezos karena tidak menandatangani Giving Pledge, sebuah janji dari ratusan orang terkaya di dunia untuk menyumbangkan separuh kekayaan mereka untuk kegiatan amal sebelum mereka wafat.

Pada tahun 1999, salah satu pendiri Microsoft Bill Gates dan istrinya saat itu, Melinda French Gates, membantu mengantarkan era baru filantropi miliarder dengan sumbangan besar ke yayasan senama mereka. Teman dekat mereka Warren E. Buffett, investor terkemuka, mengumumkan pada tahun 2006 bahwa dia akan memberikan sebagian besar saham Berkshire Hathaway miliknya, yang saat itu bernilai U$ 31 miliar atau Rp 486 triliun, kepada Bill and Melinda Gates Foundation. Ketiganya kemudian memulai Giving Pledge, di mana miliarder berjanji untuk memberikan setidaknya  setengah kekayaan mereka, sebagai cara untuk mendorong kemurahan hati yang lebih besar di antara orang-orang terkaya di dunia.

Penanda tangan lainnya termasuk Michael R. Bloomberg, yang saat itu menjabat sebagai walikota New York; salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen; dan Mark Zuckerberg, CEO Facebook, dan istrinya, Dr. Priscilla Chan. Ada 236 penyumbang di 28 negara, menurut situs web Giving Pledge.

Bezos telah dikritik karena tidak menandatangani Giving Pledge. Mantan istrinya, penulis dan dermawan MacKenzie Scott, menandatangani ikrar Giving Pledge pada 2019 setelah perceraian mereka, bersumpah untuk " terus melakukan amal sampai brankas kosong."

MacKenzie Scott, yang diperkirakan oleh Bloomberg memiliki kekayaan U$ 24 miliar atau Rp 376 triliun setelah perceraiannya dengan Jeff Bezos, telah memenuhi ambang batas Giving Pledge dengan memberikan lebih dari setengah kekayaannya —dan dia telah melakukannya dalam waktu kurang dari tiga setengah tahun sejak pertama kali menerbitkan janjinya di situs web grup.

Dia telah menyumbangkan lebih dari U$ 14 miliar atau Rp 219 triliun untuk tujuan amal mulai dari pendidikan hingga kesehatan mental. Scott, yang baru-baru ini mengajukan cerai dari suami keduanya, telah memberikan amal ke lebih dari 1.500 kelompok.

Menurut New York Times, pemberian Scott yang cepat dan produktif kadang-kadang dibandingkan dengan filantropi Bezos sendiri, dan seringkali merugikannya. Bulan lalu, Bezos mengunjungi Vatikan untuk menerima penghargaan filantropi meskipun, banyak pengamat mencatat, mantan istrinya telah memberikan lebih banyak uang daripada yang Bezos berikan.

Dalam wawancara  dengan Chloe Melas dari CNN di rumahnya di Washington, DC, Bezos berbicara dengan didampingi pacarnya, Lauren Sánchez.

Saat ditanya langsung oleh CNN apakah dia berniat menyumbangkan sebagian besar kekayaannya, Bezos menjawab: " Ya, saya mau."

Wawancara CNN dengan Jeff Bezos© CNN

(Wawancara CNN dengan Jeff Bezos/CNN)

Bezos mengatakan dia dan Sánchez setuju sejak mereka mulai berkencan pada 2019 untuk membantu mendirikan Bezos Courage and Civility Award. Lembaga ini baru saja memberikan bantuan dana U$ 100 juta atau Rp 1,5 triliun kepada musisi Dolly Parton untuk kegiatan amal.

Ini adalah hibah ketiga, mengikuti hibah serupa untuk koki Jose Andrés, yang telah menghabiskan sebagian uangnya untuk menghasilkan makanan bagi orang Ukraina — dan advokat iklim Van Jones.

Sayangnya, tak lama wawancara itu tayang, Harian The New York Times menyampaikan kabar buruk ke publik.

Mengutip beberapa sumber orang dalam, dalam laporan itu harian ini menyebutkan bahwa Amazon akan melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK kepada sekitar 10.000 karyawannya. PHK itu adalah pemecatan terbesar sepanjang sejarah Amazon yang dirintis oleh Jeff Bezos tersebut.

Jumlah itu sekitar 3 persen karyawan Amazon, atau sekitar 1 persen dari total karyawan Amazon secara global, termasuk pekerja sampingan, yakni sebesar 1,6 juta karyawan yang tercatat sampai November 2022.

Menurut laporan New York Times, PHK besar-besaran yang dilakukan Amazon ini diklaim bakal berpusat di divisi yang mengurus perangkat  macam Alexa, hingga divisi ritel dan human resource department (HRD).

Adapun PHK massal ini, dilakukan lantaran Amazon mencatat penurunan pertumbuhan bisnis dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, bisa dibilang terendah dalam dua dekade Amazon.

Hal ini konon disebabkan oleh investasi berlebihan yang dilakukan Amazon pada awal pandemi, serta perubahan minat masyarakat terhadap belanja online yang turut mengurangi bisnis penjualan dan pengiriman Amazon.

Adapun proses pemecatan akan dilakukan secara bertahap, dan angka 10.000 karyawan tadi bisa saja berubah seiring berjalannya waktu. Amazon sendiri belum mengonfirmasi rumor terkait PHK karyawan ini.

Kemurahan hati Bezos karenanya banyak dikritik media. Ada media yang berkata, alih-alih menyumbangkan hartanya untuk amal, bukankah lebih baik jika harta itu digunakan untuk mempertahankan agar karyawan bisa terus bekerja?

***

Jeff Bezos memang tak bisa dipisahkan sosoknya dari Amazon.

Mulai didirikan di garasi 27 tahun lalu, pada tanggal 1 Februari 2018, Amazon melaporkan laba tertingginya dengan pendapatan triwulanan sebesar U$ 2 miliar atau Rp 31 triliun.

Kantor Amazon© IE

(Kantor Amazon/IE)

Pada 27 Juli 2017, Bezos sesaat menjadi orang terkaya di dunia mengalahkan salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates, ketika perkiraan kekayaan bersihnya meningkat menjadi lebih dari U$ 90 miliar atau Rp 1.410 triliun.

Kekayaannya melampaui U$ 100 miliar untuk pertama kalinya pada 24 November 2017. Dan dia secara resmi ditetapkan sebagai orang terkaya di dunia oleh Forbes pada 6 Maret 2018, dengan kekayaan bersih sebesar U$ 112 miliar atau Rp 1.755 triliun.

Posisi orang terkaya dunia dia bisa pertahankan sampai Januari 2021. Tapi tahun ini, posisinya kini berada di keempat orang terkaya dunia dengan kekayaan sebesar U$ 124 miliar atau Rp 1.944 triliun.

Ia berada di belakang orang terkaya di dunia Elon Musk yang kekayaan bersihnya U$ 223,8 miliar atau Rp 3.508 triliun. Juga di belakang peringkat kedua Bernard Arnault dengan kekayaan bersih sebesar U$ 156,5 miliar atau Rp 2.453 triliun dan orang terkaya di dunia ketiga dari India Gautam Adani dengan kekayaan bersih U$ 131,9 miliar atau Rp 2.067 triliun,

Ini terjadi karena tahun ini bukan tahun yang baik bagi Amazon dan Jeff Bezos.

Menurut Bloomberg, Jeff Bezos yang mendirikan Amazon.com Inc., telah mencapai tonggak yang tidak menyenangkan sebagai perusahaan publik pertama yang kehilangan satu triliun dolar dalam valuasi pasar.

Kebetulan, Amazon adalah salah satu dari sedikit perusahaan pertama yang melampaui valuasi U$ 1 triliun atau Rp 15.677 triliun. Penurunan valuasi itu baru-baru ini adalah tanda kegugupan di pasar tentang perlambatan ekonomi global.

Pandemi COVID-19 mengirim banyak pengguna ke e-commerce, dan pengecer online seperti Amazon melihat ledakan besar dalam lalu lintas pendapatan. Saat pandemi mereda, lonjakan melambat, dan pendapatan turun.

Dengan Federal Reserve AS yang ingin menjinakkan inflasi yang melonjak, suku bunga telah dinaikkan, dan penjualan semakin melambat. Penghasilan kuartal ketiga Amazon mengecewakan investor bulan lalu, tetapi yang semakin merusak kepercayaan investor adalah prediksi perusahaan tentang pertumbuhan tahun-ke-tahun kurang dari delapan persen untuk kuartal terakhir tahun 2022.

Meskipun ini mungkin tidak terdengar buruk bagi perusahaan lain, Amazon telah menjadi mesin pertumbuhan tanpa henti, dan pertumbuhan di bawah delapan persen bermasalah bagi investor.

Gudang Amazon© New York Post

(Gudang Aamazon/New York Post)

Saham Amazon telah turun 50 persen dalam enam bulan terakhir, dan valuasi perusahaan, yang tadinya U$ 1,8 triliun atau Rp 28.219 triliun pada Juni 2021, kini telah turun menjadi U$ 879 miliar atau Rp 13.760 triliun.

Kekayaan pendiri Amazon Jeff Bezos juga turun U$ 7,2 miliar atau Rp 112 triliun pada hari Jumat setelah raksasa e-commerce memperkirakan bahwa penjualan liburannya akan turun di bawah ekspektasi analis.

Saham Amazon jatuh 6,8 % pada penutupan pasar Jumat setelah hasil pendapatan kuartal ketiga perusahaan dirilis Kamis malam.

Setelah kekayaannya jatuh, Bezos kehilangan posisinya sebagai orang terkaya ketiga di dunia karena raja infrastruktur dan energi India, Gautam Adani mengambil alih kedudukannya. Bezos sekarang berada di urutan ke-4 di pelacak Real Time Billionaires Forbes, bernilai sekitar U$ 124 miliar.

Sebagian besar kekayaan Bezos berasal dari sekitar 10 % sahamnya di Amazon. Sejak awal tahun 2022, menurut Forbes, kekayaannya telah turun sebesar U$ 66 miliar atau Rp 1.034 triliun.

Sementara liburan biasanya merupakan anugerah bagi raksasa ritel online, Amazon hanya berharap dapat menghasilkan pendapatan antara U$ 140 miliar dan U$ 148 miliar selama tiga bulan terakhir tahun ini. Analis memperkirakan hampir U$ 155 miliar.

“ Jelas ada banyak hal yang terjadi di lingkungan ekonomi makro, dan kami akan menyeimbangkan investasi kami agar lebih ramping tanpa mengorbankan taruhan strategis jangka panjang utama kami,” kata CEO Amazon Andy Jassy dalam sebuah pernyataan yang menyertai pendapatan perusahaan.

Bezos, yang mendirikan Amazon pada tahun 1994, mengundurkan diri sebagai CEO perusahaan pada Juli 2021 tetapi terus menjabat sebagai ketua eksekutif Amazon.

Saham Amazon mencapai harga puncaknya U$ 186,57 atau Rp 2,9 juta per saham pada 8 Juli 2021. Saham tersebut telah turun hampir 55 % sejak saat itu. Kini harganya tinggal U$ 92,81 atau Rp 1,4 juta

***

Anjloknya valuasi Amazon sampai U$ 1 triliun dan semakin terpapasnya harta Bezos akibat turunnya harga saham Amazon, membuat Amazon.com Inc pada Rabu, 16 November 2022, resmi melakukan PHK pada sejumlah pegawai.

Rencana Amazon untuk merumahkan pegawainya diumumkan pada Senin, 14 November 2022. Hal ini menandai adanya perubahan dramatis di tubuh Amazon yang sebelumnya dikenal kerap membuka lapangan kerja. 

Demo karyawan Aamazon© Sahan JournaL

 (Demo karyawan Aamazon/Sahan Jorunal)

Kepala Eksekutif Amazon Dave Limp dalam unggahannya menulis Amazon sudah memutuskan untuk menggabungkan tim di divisi peralatan. Mereka mengabari perihal PHK ini pada Selasa, 15 November 2022 ke karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja.

“ Kami terus menghadapi kondisi yang tidak biasa dan lingkungan makroekonomi yang tidak pasti. Sehubungan dengan hal ini, kami telah bekerja keras dalam beberapa bulan terakhir untuk terus memprioritaskan apa yang penting bagi konsumen kami dan bisnis,” kata Limp.

Rencana itu memecat 10.000 pegawai di sejumlah divisi atau sekitar 3 persen dari jumlah pegawai yang bekerja untuk Amazon. Sumber di Amazon mengatakan Amazon telah menawarkan pada sejumlah pegawai untuk menjadi tenaga alih daya.

Amazon.com merupakan pengecer online, produsen pembaca buku elektronik, dan penyedia layanan Web yang menjadi contoh ikonik perdagangan elektronik. Kantor pusat perusahaan ini berada di Seattle, Washington.

Selain itu, Amazon.com juga adalah perusahaan besar berbasis Internet yang menjual buku, musik, film, peralatan rumah tangga, elektronik, mainan, dan banyak barang lainnya, baik secara langsung atau sebagai perantara antara pengecer lain dan jutaan pelanggan Amazon.com.

***

Bezos lahir dengan nama Jeffrey Preston Jorgensen dari pasangan Jacklyn dan Ted Jorgensen pada 12 Januari 1964, di Albuquerque, New Mexico. Orang tuanya bercerai ketika dia masih balita, dan ibunya menikah dengan Miguel Bezos. Miguel mengadopsi bocah itu, yang kemudian memberi nama keluarga Bezos.

Jeff dibesarkan di Houston dan sangat tertarik pada sains. Ketika dia akan masuk sekolah menengah, keluarganya pindah ke Miami. Dia adalah siswa yang sangat baik dan berprestasi.

Dia jatuh cinta dengan ilmu komputer saat di Universitas Princeton dan lulus dengan gelar B.S. dalam bidang teknik elektro dan ilmu komputer pada tahun 1986.

Setelah lulus, dia memilih banyak peluang, tetapi dia memilih untuk bekerja di Fitel, sebuah perusahaan teknologi keuangan. Dia bermigrasi ke perbankan dan mendapat pekerjaan di hedge fund D.E. Shaw & Co. Pada saat dia meninggalkan perusahaan itu empat tahun kemudian, dia telah naik ke posisi wakil presiden senior.

Di D.E. Shaw & Co. bahwa Bezos bertemu calon istrinya, MacKenzie Scott, dan mendapat ide untuk beralih menggunakan world wide web untuk usaha bisnis berikutnya - toko buku online yang dia beri nama Amazon.

Karyawan Amazon tengah makan siang© Geekwire

(Karyawan Amazon tengah makan siang di kantor pusatnya di Seatlle/Geekwire)

Pada 16 Juli 1995, Amazon yang berbasis di Seattle membuka pintu virtualnya dan mulai menjual buku secara online. Bezos sendiri membantu mengemas pesanan dan mengirimkan kotak-kotak itu ke kantor pos untuk pengiriman.

Setelah tumbuh dari awalnya sebagai penjual buku, Amazon berkembang untuk menawarkan banyak produk dan layanan kepada pelanggan di seluruh dunia, yang membantunya melampaui penjualan tahunan U$ 100 miliar dalam waktu singkat. Sehingga, perusahaan itu sempat memiliki valuasi pasar sekitar U$ 1,6 triliun.

Saat saham Amazon naik, begitu pula kekayaan bersih Bezos. Bezos saat ini memiliki  49,9 juta saham Amazon, yang mewakili sekitar 10% dari saham yang beredar. Dia memberi mantan istrinya 19,8 juta saham sebagai bagian dari penyelesaian perceraian mereka. Selain itu, dia telah mencairkan ratusan ribu saham selama sekitar setahun terakhir.

Pada akhirnya, Bezos mengumpulkan kekayaan yang luar biasa — dan kontroversi yang signifikan mengenai berapa banyak dia membayar pekerja dan menyumbang untuk amal — sambil menggunakan Amazon untuk mengganggu hampir setiap industri konsumen.

Bezos meluncurkan proyek gairah berikutnya, Blue Origin, sebuah bisnis yang diarahkan pada penerbangan luar angkasa manusia, pada tahun 2000.

Pada 2013, Bezos menjadi salah satu pemain terbesar di industri berita setelah dia membeli harian The Washington Post seharga U$ 250 juta atau Rp 3,9 triliun.

Pada Maret 2017, Bezos membeli peritel online yang berbasis di Dubai Souq.com seharga U$ 580 juta. Itu memberinya kesempatan untuk memperluas Amazon ke pasar Timur Tengah.

Pada 2017, Bezos juga membeli toko grosir Whole Foods seharga U$ 13,7 miliar, yang membuka jalan bagi Amazon untuk merevitalisasi layanan pengiriman makanannya, Amazon Fresh.

Bezos juga memiliki investasi besar di perusahaan selain miliknya sendiri. Dia memegang setidaknya $1 miliar saham di perusahaan induk Google Alphabet - dia adalah investor pra-IPO. Dia juga berinvestasi di sejumlah perusahaan, termasuk Arrived Homes, Airbnb, Twitter, dan Uber, melalui firma modal ventura pribadinya Ekspedisi Bezos.

Jeff Bezos© Forbes

(Jeff Bezos/Forbes)

Jeff Bezos mengundurkan diri sebagai CEO Amazon pada 5 Juli 2021. Dia memilih hari itu karena alasan sentimental. Bagaimanapun, itu adalah peringatan 27 tahun perusahaan didirikan pada tahun 1994.

Sejak pensiun sebagai CEO Amazon, Jeff Bezos telah menghabiskan waktu mengirim roket ke luar angkasa, termasuk kapal yang tidak hanya menampung miliarder ikonik itu sendiri tetapi juga selebritas. Perusahaannya, Blue Origin, sebelumnya mengirim William Shatner, pemeran Kapten Kirk yang legendaris, serta pembawa acara " Good Morning America" Michael Strahan, ke orbit.

Kini, harta Jeff Bezos dan valuasi Amazon merosot tajam. Masa kejayaan sebagai orang terkaya dunia kini tinggal kenangan. Amazon sebagai e-commerce nomer satu dunia juga mulai goyah. Akhirnya pemecatan jadi jurus pamungkas. Apalagi jalan itu memang mudah dan murah. Walau tak menyelesaikan akar masalah sebenarnya. Sayang. (eha)

Sumber: CNN, New York Times, Bloomberg, Forbes, Fortune, TechCruch, Washington Post, New York Post

Beri Komentar