Perang Dagang, AS dan China Sepakat `Gencatan Senjata`

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 3 Desember 2018 12:15
Perang Dagang, AS dan China Sepakat `Gencatan Senjata`
Keduanya berdamai untuk masalah perang dagang, namun�

Dream – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, sepakat berdamai, tak lagi melakukan perang dagang. Kedua belah pihak batal menerapkan tarif impor baru selama 90 hari.

Dikutip dari Bloomberg, Senin 3 Desember 2018, kesepakatan ini diperoleh ketika ada pertemuan KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina. Di pertemuan ini, Xi dan Trump setuju untuk menghentikan tarif baru dan mengintensifkan pembicaraan perdagangan mereka.

“ Kedua belah pihak percaya bahwa kesepakatan berprinsip yang dicapai antara kedua presiden telah secara efektif mencegah perluasan friksi ekonomi antara kedua negara,” kata Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi.

Dalam perdamaian ini, Amerika Serikat membatalkan kenaikan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen untuk impor produk-produk China senilai US$200 miliar—kenaikan tarif ini awalnya akan berlaku per 1 Januari 2019. Sementara China sepakat membeli produk-produk Amerika Serikat, seperti pertanian, energi, dan manufaktur.

Kedua pihak juga sepakat membicarakan transfer teknologi, hak kekayaan intelektual, hambatan non tarif, pencurian siber, dan pertanian. Kalau pembahasan ini tak ada kemajuan dalam 90 hari, Negeri Paman Sam akan tetap menaikkan tarif impor jadi 25 persen.

“ Ini adalah kesepakatan yang luar biasa,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan pertemuan itu berlangsung sangat baik. “ Hubungan saya dengan Presiden Xi sangat istimewa,” kata Trump.

Xi mengatakan, China sangat menantikan pertemuan dengan Trump untuk membahas sengketa dagang. “ Hanya dengan kerja sama ini, kami bisa melayani kepentingan perdamaian dan kemakmuran global,” kata dia.

1 dari 1 halaman

Pasar Bersorak

Hasil ini membuat investor dan pasar bergembira. Keputusan ini bisa menjadi angin segar dari ancaman “ perang dagang” Amerika Serikat-China. Sebab, pasar cemas dengan sengketa dagang ini.

“ Kesepakatan ini memberikan hal positif kepada pasar untuk jangka pendek,” kata Kepala Analisis Politik Evercore ISI, Terry Haines.

Meskipun bersifat sementara, Haines mengatakan keduanya mendapatkan manfaat: Tiongkok tak jadi mendapatkan tambahan tarif untuk sementara waktu, sedangkan Amerika Serikat bisa mendapatkan pembelian agrikultur yang lebih banyak.

“ Kedua belah pihak menghindari skenario terburuk,” kata pakar senior di Institut Hudson, Michael Pillsburry.

Pakar ekonomi di Bloomberg, Tom Orlik, mengatakan peningkatan tarif impor Amerika Serikat terhadap produk China bisa berdampak kepada pertumbuhan ekonomi China.

“ Berdasarkan perhitungan kami, tarif sebesar 25 persen itu berarti hambatan pertumbuhan ekonomi China sebesar 0,9 persen. Kalau tarifnya 10 persen, ekonomi China akan melambat 0,5 persen,” kata Orlik.

Beri Komentar
Representasi Feminisme Versi Barli Asmara