Venezuela Kaya Minyak, Tapi Rakyatnya Makan Daging Busuk

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 19 Oktober 2018 08:15
Venezuela Kaya Minyak, Tapi Rakyatnya Makan Daging Busuk
Keadaan ini terjadi karena pemadaman listrik berlangsung di Venezuela.

Dream – Venezuela tengah dilanda krisis ekonomi terburuk dalam sejarah. Rakyat negeri ini bahkan terpaksa membeli daging busuk. Kondisi ini terjadi karena pemadaman listrik terus melanda negeri Amerika Selatan ini.

“ Tentu saja mereka makan dagingnya. Terima kasih kepada Maduro (Presiden Venezuela, Nicolas Maduro). Makanan orang miskin adalah makanan busuk,” kata tukang daging di Maracaibo, Johel Prieto, dikutip dari Newsweek, Jumat 19 Oktober 2018.

Pemadaman listrik ini terjadi sejak sembilan bulan lalu. Pemadaman ini membuat lemari es rusak. Tak hanya itu, Venezuela juga kekurangan air. Kondisi ini membuat Maduro menyalahkan Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis lainnya.

“ Baunya sedikit busuk. Tapi, kamu membilasnya dengan sedikit cuka dan lemon,” kata warga Venezuela, Yeudis Luna.

Luna mengatakan daging ini dimakan bersama ketiga anaknya. “ Saya takut mereka sakit karena masih kecil. Hanya si Kecil yang diare dan muntah,” kata dia.

Selain pemadaman listrik, terjadi kekeringan di beberapa wilayah Venezuela. Situasi ini menghambat pembangkit listrik tenaga air untuk beroperasi karena kekurangan pasokan.

“ Kami telah menghabiskan 14 jam tanpa listrik hari ini,” kata warga San Cristobal, Lightia Marrero, kepada Reuters. 

1 dari 3 halaman

Harga Ayam 14 Juta, Tisu Toilet 2,6 Juta

Dream - Venezuela tengah mengalami krisis ekonomi. Inflasi di negeri itu melangit. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan inflasi di negara itu mencapai 1.000.000%. Negeri ini mengalami hiperinflasi.

Menurut laman BBC, dikutip pada Kamis 23 Agustus 2018, mata uang Bolivar seolah tak ada harganya. Jika Anda menukar uang dolar Amerika ke dalam rupiah, maka US$1 mungkin setara Rp14.500.

Kurang lebih segitu. Tapi, bila Anda menukar dolar AS ke mata uang Venezuela, maka US$1 akan mendapat 6,3 juta Bolivar.

Nilai tukas Bolivar ini mengingatkan kita pada perekonomian Zimbabwe pada saat puncak inflasi akhir 2008. Kala itu, nilai tukar US$1 setara dengan 669 miliar dolar Zimbabwe. Kita tentu ingat foto-foto yang menunjukkan warga Zimbabwe membeli roti dengan keranjang berisi tumpukan uang kertas.

Dengan perbandingan itu, mungkin rakyat Venezuela masih bisa bilang perekonomian mereka masih mending ketimbang Zimbabwe. Namun demikian, harga kebutuhan masyarakat di Venezuela sangat tinggi.

 

2 dari 3 halaman

Belanja Ayam Diperlukan Dua Tumpuk Uang Kertas

Sebut saja daging ayam. Harga ayam seberat 2,4 kilogram di Caracas, ibu negeri Venezuela, mencapai 14.600.000 Bolivar. Sementara, harga satu gulung tisu kloset mencapai 2.600.000 Bolivar.

Foto-foto perbandingan antara barang dan uang Bolivar yang diunggah oleh media-media internasional bahkan sukup memprihatinkan. Untuk mendapat daging ayam 2,4 kg itu, diperlukan dua tumpuk uang kertas Bolivar.

 Pasar di Bolivia

Karena krisis ini, pemerintah Venezuela baru saja memperkenalkan reformasi ekonomi, termasuk redenominsasi nilai uang kertas Bolivar. Pemerintah menghapus lima nol dari setiap nomimal mata uangnya.

Pada Senin 20 Agustus lalu, berbagai bank di Venezuela tutup, mereka bersiap merilis " sovereign bolívar" baru di tengah peringatan dari para ekonom IMF yang menyebut tingkat inflasi mereka bisa menembus satu juta persen tahun ini. Hiperinflasi.

3 dari 3 halaman

Restoran dan Supermarket Tak Lagi Cantumkan Harga

Menurut laman The Guardian, istilah hiperinflasi digunakan untuk menggambarkan kondisi kenaikan harga yang tidak bisa dikontrol lagi disertai dengan ambruknya nilai mata uang.

Secara teori, harga harus selalu berfluktuasi tergantung pada penawaran dan permintaan. Inflasi merupakan istilah kenaikan harga, deflasi menunjukkan harga yang jatuh. Hiperinflasi terjadi ketika harga naik sangat liar, sehingga membuat konsep inflasi tak masuk akal.

 Pasar di Bolivia

Persoalan timbul saat pasokan uang kertas pada sebuah perekonomian melebihi permintaan barang dan jasa, sehingga menyebabkan nilai mata uang jatuh. Kondisi ini terjadi saat pemerintah menciptakan uang baru untuk mendanai pengeluaran di atas pendapatan mereka dari pajak.

Hiperinflasi berdampak pada hancurnya daya beli dan mendorong penimbunan barang, karena masyarakat dan kalangan bisnis mengantisipasi kenaikan harga.

Ketidakpastian harga menghapus insentif bagi pembeli dan penjual. The Times bahkan melaporkan bahwa pemilik restoran di Venezuela tak lagi menjual menu dengan harga yang tercetak. Sementara supermarket menghapus harga di rak-rak barang. Banyak orang menggunakan kartu untuk membeli barang ketimbang uang tunai.

Beri Komentar
(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary