Senin, 19 Oktober 2026 Cari

Bangkit Usai Bangrut, Kisah Marvel

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 12 Desember 2022 21:07
Bangkit Usai Bangrut, Kisah Marvel
Perusahaan makin jaya usai diakusisi Disney.

Dream - Hampir setiap cerita buku komik yang hebat memiliki saat-saat tergelap: sebuah titik dalam kisah di mana semuanya tampak runtuh. Para pahlawan berlutut, reruntuhan kota dengan api membara dan para penjahat mendekat untuk menghabisi.

Bagi Marvel, saat tergelapnya datang pada musim dingin tahun 1996.

Sebagai sebuah perusahaan komik yang telah berkembang pesat sepanjang tahun 60-an, 70-an, dan 80-an berkat seni dan penceritaan yang memukau seperti cerita Fantastic Four dan The Amazing Spider-Man, kesuksesan finansial Marvel telah mencapai puncaknya pada awal '90-an.

Tapi kemudian serangkaian gelembung keuangan yang mendadak pecah  membuat nilai saham Marvel runtuh. Harga saham Marvel yang pernah bernilai U$ 35,75 atau Rp 659 ribu per saham pada tahun 1993 telah terpuruk jadi U$ 2,3 atau Rp 35 ribu tiga tahun kemudian. Pertarungan sengit antara sekelompok investor yang sangat kaya terjadi, dan untuk sementara, masa depan perusahaan tampak tidak pasti.

Namun entah bagaimana, seperti juga tokoh pahlawan super yang dia buat, Marvel berhasil berjuang melalui semua kesulitan yang membayangi perusahaan pada akhir 1996. Marvel muncul kembali dari puing-puing kehancuran satu dekade kemudian sebagai raksasa industri film.

Sebelumnya, pada tahun 1993, penulis tokoh karakter Sandman, Neil Gaiman, di hadapan sekitar 3.000 pengecer komik telah memberi pidato peringatan jauh-jauh hari..

Neil Gaiman

(Neil Gaiman/DC Database)

Di dalam pidatonya, dia berargumen bahwa kesuksesan pasar buku komik saat itu adalah sebuah gelembung sabun. Itu lebih disebabkan dorongan para kolektor komik untuk membeli beberapa edisi dan menimbunnya dengan harapan suatu hari nanti akan bernilai tinggi. Ini, kata Gaiman, mirip dengan gelembung tulip mania -periode aneh di abad ke-17 ketika nilai umbi tulip tiba-tiba meledak, hanya untuk pasar yang kemudian ambruk lagi.

Pada masa itu kemunculan pertama komik Spider Man dalam edisi 15 Amazing Fantasy tahun 1962, pernah terjual seharga U$ 1,1 juta atau Rp 17,2 miliar. Dan kemunculan pertama karakter seperti X-Men, Iron-Man, dan The Incredible Hulk telah terjual ratusan ribu dolar atau miliaran rupiah.

Edisi Spiderman Aamazing Fantasy tahun 1962 terjual Rp 17 miliar

(Edisi Spiderman Aamazing Fantasy tahun 1962 terjual Rp 17 miliar/Comics Art)

“ Anda dapat menjual banyak komik kepada orang yang sama, terutama jika Anda memberi tahu mereka bahwa Anda menginvestasikan uang dengan jaminan pengembalian yang tinggi,” kata Gaiman. “ Tapi Anda menjual gelembung dan tulip, dan suatu hari gelembung itu akan pecah, dan tulip akan membusuk di gudang.”

Gelembung yang dijelaskan Gaiman telah dimulai beberapa tahun sebelumnya, ketika buku komik, yang pernah dianggap sebagai barang sekali pakai, menjadi barang berharga oleh para kolektor yang tumbuh bersama pahlawan super favorit mereka saat masih kecil. Pada 1980-an, kolektor buku komik telah menarik perhatian media arus utama, yang memuat cerita tentang komik yang dijual seharga ribuan dolar.

Penerbit sendiri mendekati pasar kolektor dengan memperkenalkan varian sampul, terkadang dengan embos foil atau teknik pencetakan mewah lainnya yang menarik. Ini diambil dengan rakus oleh pembaca, tetapi juga oleh spekulan yang berasumsi bahwa mereka telah menemukan cara yang pasti untuk menghasilkan uang dengan menyimpan salinan dan menjualnya untuk mendapatkan keuntungan di masa depan.

Sementara komik terjual dari rak padagang buku, Marvel telah menarik minat seorang pria bernama Ron Perelman. Sering digambarkan dengan senyum lebar dan cerutu besar di tangannya, Perelman adalah seorang pengusaha jutawan dari perusahaan MacAndrews & Forbes.

Ron Perelman CEO Marvek

(Ron Perelman, pemilik Marvek/Den of Geek)

Pada awal 1989, Perelman menghabiskan U$ 82,5 juta atau Rp 1,2 triliun untuk membeli Marvel Entertainment Group, yang saat itu dimiliki oleh New World Pictures.

Dalam dua tahun, ia membawa Marvel ke pasar saham. Dan Perelman masih menghabiskan banyak uang ketika dia membeli saham perusahaan mainan ToyBiz untuk mencipatakan figur aksi karakter Marvel.

Sepanjang awal tahun 90-an, Marvel didukung oleh kesuksesan Spider-Man dan X-Men yang terjual dalam jumlah besar. Penjualan komik baru, X-Force, juga sangat besar. Perelman pun terus menaikkan harga komik.

Kemudian, seperti prediksi Gaiman, gelembung sabun komik itu akhirnya pecah. Antara tahun 1993 dan 1996, pendapatan dari komik mulai runtuh. Tiba-tiba, Marvel, tampak rapuh.

" Ketika bisnis berubah," kata ketua dan CEO Marvel Scott Sassa saat itu, " sepertinya segala sesuatu yang bisa salah memang salah."

Beberapa orang di industri komik melangkah lebih jauh, dan berpendapat bahwa taktik Perelman telah membahayakan seluruh industri komik.

“ Perelman beralasan, cukup tepat, bahwa jika dia menaikkan harga dan produksi, penggemar berat Marvel akan mencurahkan sebagian besar pendapatan mereka untuk membeli komik,” tulis Chuck Rozanski, CEO Mile High Comics.

“ Begitu dia memiliki cukup angka penjualan untuk membuktikan hipotesis ini, dia kemudian membawa Marvel ke publik, menjual 40 % sahamnya jauh lebih banyak daripada yang dia bayarkan untuk seluruh perusahaan. Kelemahan dalam rencananya, bagaimanapun, adalah bahwa dia menjanjikan investor di Marvel lebih banyak kenaikan harga.

Bahwa rencana ini jelas tidak mungkin menjadi bukti bagi sebagian besar pengecer komik di awal tahun 1993, karena semakin banyak penggemar yang berhenti mengoleksi komik karena tingginya harga komik, dan di tengah persepsi yang meluas tentang penurunan kualitas komik Marvel,” ujarnya.

Apakah Perelman harus disalahkan secara langsung atau tidak, konsekuensinya bagi industri komik secara keseluruhan sangat menyakitkan. Ratusan pengecer buku komik bangkrut karena penjualan anjlok hingga 70 persen. Bahkan Perelman mengakui dia tidak mengantisipasi masa depan kelam yang telah diperingatkan Gaiman dalam pidatonya.

Komik Marvel Captain America

(Komik Marvel Captain America/BBC)

" Kami tidak dapat mengetahui seberapa banyak pasar digerakkan oleh spekulan," kata Perelman; “ Orang-orang membeli 20 eksemplar dan membaca satu dan menyimpan 19 untuk investasi mereka…”

***

Akibatnya, pada tahun 1996, Marvel Entertainment terlilit utang jumbo. Marvel memiliki utang U$ 250 juta atau Rp 3,9 triliun. Uang di kas juga menipis. Akibatnya 275 karyawan Marvel terpaksa dipecat.

Dalam menghadapi kerugian yang meningkat, Perelman memutuskan untuk melanjutkan ke wilayah baru: dia ingin mendirikan Marvel Studios, sebuah usaha yang dia harap pada akhirnya akan menampilkan karakter pahlawan super Marvel yang paling terkenal ke layar lebar.

Untuk melakukan ini, dia berencana untuk membeli sisa saham di ToyBiz dan menggabungkannya dengan Marvel, menciptakan satu entitas yang lebih kuat.

Pemegang saham Marvel menolak usulan itu, dengan alasan bahwa kerusakan finansial pada harga saham Marvel akan terlalu besar. Tanggapan Perelman adalah mengajukan kebangkrutan Bab 11 Marvel ke pengadilan federal, sehingga memberinya kekuatan untuk mengatur ulang Marvel tanpa persetujuan pemegang saham.

Terjadilah perebutan kekuasaan yang membingungkan yang berlangsung selama hampir dua tahun. Seorang pemegang saham bernama Carl Icahn mencoba menentang Perelman, dan pers dengan penuh semangat melaporkan pertengkaran publik antar mereka berdua. Perelman, kata Icahn berargumen, “ Seperti tukang ledeng, Anda meminjamkan uang untuk memulai bisnis; lalu dia masuk, menghancurkan rumahmu, lalu memberitahumu dia menginginkan rumah itu tanpa bayaran.”

Pertarungan tersebut, ketika akhirnya berakhir pada Desember 1998, memiliki hasil yang aneh yang hanya dapat diprediksi oleh sedikit orang: setelah kasus pengadilan yang panjang,

ToyBiz dan Marvel Entertainment Group akhirnya memang digabungkan, tetapi Perelman dan musuh bebuyutannya Icahn sama-sama disingkirkan dalam proses tersebut. Eksekutif lain yang memiliki hubungan dengan Perelman juga dipecat, termasuk CEO Scott Sassa, yang masa jabatannya hanya berlangsung delapan bulan.

Mereka telah diusir oleh dua eksekutif ToyBiz yang telah mengambilalih  dewan direksi Marvel sejak 1993 yakni Isaac Perlmutter dan Avi Arad. Dengan kepergian Scott Sassa, mereka memasang Joseph Calamari yang berusia 55 tahun, yang pernah memimpin Marvel di tahun 80-an, sebagai CEO barunya. Isaac Perlmutter jadi pemilik baru Marvel.

Pemilik baru Marvel Isaac Perlmutter

(Pemilik baru Marvel Isaac Perlmutter/Business Insider)

Dengan intrik keuangan di ruang rapat mereda, Marvel mulai mengalihkan perhatiannya ke target yang telah coba dicapai sejak 1980-an: bisnis film.

Avi Arad kelahiran Israel membawa kesombongan besar ke industri mainan. Setelah naik menjadi  CEO di ToyBiz, dia digambarkan sebagai " pengembang terpanas dalam bisnis mainan" ketika Marvel membeli 46 persen saham ToyBiz pada tahun 1993.

Arad telah menerima 10 persen saham sebagai bagian dari kesepakatan, dan sementara dia awalnya mengawasi produksi mainan figur aksi Marvel di ToyBiz, dia dengan cepat menggantikan Stan Lee yang legendaris sebagai Kepala Marvel Films.

Arad menjabat sebagai produser eksekutif di serial TV animasi terkenal X-Men, dan pada musim panas 1993, dan telah menjadi perantara kesepakatan dengan 20th Century Fox untuk membuat film X-Men.

Selama bertahun-tahun, Marvel telah berjuang untuk memasukkan  propertinya ke layar lebar. Hak atas Spider-Man terjebak dalam jaring kusut yang tidak dapat dibuka hingga akhir tahun 90-an. Hak atas figur aksi itu telah dibeli Sony dari Marvel senilai U$ 7 juta atas Rp 109 miliar pada tahun 1999.

Maka Arad berjuang untuk meyakinkan eksekutif Hollywood  nilai sinematik perusahaan Marvel. “ Itu benar-benar pertarungan sehari-hari, mencoba membuka mata orang-orang terhadap apa yang ada di depan mereka,” katanya kemudian.

Avi Arad

(Avi Arad/Polygon)

Hal-hal mulai berubah di akhir tahun 90-an, ketika Marvel mulai bangkit kembali: dan film Blade menjadi hit, dan X-Men akhirnya diproduksi Fox yang juga membeli karakter itu dari Marvel. Pilihan untuk Marvel, bagaimanapun, semakin tipis:

Film Blade menghasilkan U$ 70 juta atau Rp 1 triliun di box office, tetapi Marvel hanya menerima U$ 25.000 atau Rp 390 juta dari karakter pahlawan super itu. Film Spider-Man juga sukses besar dan mendapat U$ 2 miliar atau Rp 31 triliun, tetapi Marvel hanya mendapat U$ 65 juta atau Rp 1 triliun. “ Kami memberikan bagian terbaik dari bisnis kami,” ratap Arad.

Pada tahun 2003, seorang agen pencari bakat bernama David Maisel datang ke kepala eksekuitf Marvel's, Isaac Perlmutter, dengan sebuah proposal. Mengapa tidak memproduksi film di bawah bendera Marvel sendiri, dan meraup untung untuk Anda sendiri? Dan jika Anda memproduksi film Anda sendiri, mengapa ceritanya tidak bisa saling bersilangan, seperti yang terjadi di komik?

Itu adalah ide yang, secara teori, dapat bernilai jutaan dolar, Maisel berpendapat bahwa masuk ke produksi film dapat membuat pendapatan Marvel melambung.. Masalahnya adalah meyakinkan dewan direksi Marvel dan, yang sama pentingnya, mendapatkan pembiayaan yang diperlukan.

***

Dalam sejarah perusahaan Marvel, setelah sebuah perusahaan bernama Detective Comics atau DC, meluncurkan komik Superman dengan sukses besar pada tahun 1938, banyak orang lain memutuskan untuk ikut serta dalam buku komik. Di antara mereka ada penerbit New York bernama Martin Goodman. Dia menyebut usahanya Timely Comics dan akhirnya akan berganti nama menjadi Marvel.

Pahlawan super pertama Marvel adalah Human Torch yang bisa mengendalikan api, dan Sub-Mariner, yang bisa melakukan hal-hal di bawah air. Tapi karakter itu tidak sepopuler Superman. Karakter Marvel yang baru  Captain America, yang memulai debutnya pada tahun 1941, mulai menemukan kesuksesan di masa perang, tetapi agak mereda pada akhir dekade perang.

Pendiri Marvel Martin Goodman

(Pendiri Marvel Martin Goodman/Reddit)

Untuk bab pertama sejarah keberadaannya, Marvel sebagian besar hanyalah tiruan dari tokoh jagoan DC. “ Komik Marvel tidak digambar dengan baik,” kata Sean Howe, penulis Marvel Comics: The Untold Story. “ Mereka tidak ditulis secara koheren.”

Kebangkitan komik tertunda pada tahun 1950-an, ketika buku-buku komik secara umum tiba-tiba diteliti sebagai berpotensi memiliki pengaruh buruk pada anak-anak —terlalu cabul, membuang-buang waktu, dan menciptakan kenakalan remaja. Seperti yang dikatakan Howe, “ Mereka memiliki reputasi yang sama mungkin dengan rekaman heavy metal di tahun 80-an. Dan akibatnya, industri komik pada tahun ini benar-benar runtuh.”

Marvel lalu hanyut ke dalam genre komik non-superhero—horor dan cerita koboi.

Kebangkitan besar pertama komik Marvel  terjadi pada awal 1960-an, ketika semangat anti-komik mereda dan pahlawan super bangkit kembali.

Ada banyak perdebatan tentang siapa yang paling bertanggung jawab atas kebangkitan Marvel tahun 1960-an. Banyak orang memuji seniman pelukis buku komik Marvel seperti Jack Kirby dan Steve Ditko karena membentuk karakter dalam cerita. Tapi sudah jelas siapa yang mengubah wajah Marvel: Stan Lee.

Ilustrator komik Marvel  Jack Kirby

(Ilustrator komik Marvel  Jack Kirby/RPP)

Stan Lee adalah kerabat dekat Martin Goodman, pendiri Marvel, karena istri Goodman adalah sepupu Lee. Ia telah berada di sekitar Marvel sejak tahun 1939. Pekerjaan awalnya adalah membersihkan asbak dan mendapatkan tinta baru untuk artis lukis.

Ilustrator komik Marvel Steve Ditko

(Ilustrator komik Marvel Steve Ditko/Holywood Reporter)

Pada 1960-an, ia mulai lebih terlibat dalam proses kreatif. Dia langsung merebut sorotan. “ Stan Lee adalah penjual yang sangat baik,” kata Howe.

Di bawah Stan Lee dan kolaboratornya yang kurang digembar-gemborkan, Marvel bangkit kembali dengan menggunakan dua prinsip yang akan menjadi fondasi kesuksesan jangka panjangnya. Yang pertama adalah bahwa pahlawan super bisa saja memiliki kekurangan.

Pembaru Marvel Stan Lee

(Pembaru Marvel Stan Lee/Elf)

Howe menjelaskan: “ Karakter Marvel memiliki kaki yang berpijak di bumi. Spider-Man terkenal akan kedinginan dan khawatir tidak ada gadis yang tertarik padanya, jadi ada keterkaitan tertentu dengan remaja dalam melihat bahwa pahlawan super sama seperti kita. Mereka harus khawatir akan dipilih atau tempat duduk di kafetaria. Saya pikir itu membuat semuanya terasa segar.”

Marvel juga dikenal karena menciptakan pahlawan super dengan lapisan kedalaman dan kesedihan. Mereka memiliki kelemahan seperti orang biasa. Pada tahun 1966, majalah Esquire “ berbicara tentang Hulk sebagai salah satu ikon budaya terbesar bagi mahasiswa. Itu seperti seseorang telah menyerang Sartre dan kemudian berpikir, Bagaimana saya bisa mengubah ini menjadi orang-orang berjubah yang berlarian dan berkelahi satu sama lain?

Landasan kedua dari kembalinya Marvel tahun 1960-an adalah caranya menyatukan banyak karakter menjadi satu alur cerita. Pahlawan akan menyeberang ke buku komik satu sama lain. Anda harus membaca komik Iron Man agar merasa benar-benar memahami apa yang terjadi dalam komik Captain America.

Howe berkata, “ Itu adalah awal dari Marvel Universe, dan ini adalah awal dari buku komik yang memiliki alam semesta bersama yang sekarang telah menjadi lebih besar. Itu adalah sesuatu dalam semua jenis pembangunan dunia di media yang berbeda.

Masa kejayaan Marvel mulai memudar seiring berjalannya waktu. Pada tahun 1970-an dan 80-an, Stan Lee mencoba memperluas Marvel Universe ke televisi dan film, tetapi kebanyakan gagal. Ada acara TV Spider-Man yang mengerikan. Ada juga acara TV Captain America yang buruk. Dan kemudian datanglah upaya besar pertama di film Marvel.

Film itu diproduksi oleh George Lucas pada tahun 1986 yang baru sukses membuat film Star Wars dan Indiana Jones. Kedengarannya menjanjikan, tetapi bencana sinematik yang menampilkan karakter Marvel eksentrik bernama Howard the Duck ini pun gagal total.

Tapi Marvel bangkit kembali, seperti yang terjadi di tahun 1960-an. Meskipun menemukan sedikit keberhasilan di layar lebar, bisnis buku komiknya berkembang pesat berkat pembeli buku komik jenis baru: kolektor. Pada 1980-an, buku komik, seperti kartu baseball, tiba-tiba menjadi alat investasi.

Komik Marvel

(Komik Marvel/BBC)

Komik yang tepat disimpan dengan hati-hati dalam kondisi mulus di dalam bungkus plastik mungkin bernilai mahal. Spekulan membeli edisi  khusus seperti penawaran umum perdana. Marvel mengeluarkan lebih banyak seri, sekali lagi memanfaatkan kekuatannya: menciptakan karakter yang kuat dan menyilangkannya ke dalam alur cerita satu sama lain.

Marvel adalah properti panas yang dibeli dan dijual beberapa kali di tahun 1980-an. Itu dipublikasikan pada tahun 1991 ketika ledakan kolektor mencapai puncaknya. Sean Howe mengatakan bahwa dengan hilangnya pasar spekulan, banyak toko buku komik tutup, dan banyak pembaca meninggalkan hobi tersebut saat kegembiraan mereda.

“ Ketika di pertengahan tahun 90-an pasar ambruk, komik menjadi lebih sengsara daripada di tahun 70-an, sama sengsaranya seperti di tahun 50-an, setelah gereja membakar buku komik dan Senat sedang menyelidiki buku komik. . Sepertinya kali ini tulisan itu ada di dinding untuk selamanya. Sepertinya ini benar-benar akhir dari buku komik sebagai sebuah industri.”

Akhirnya Marvel bangkrut pada tahun 1996. Perebutan kendali perusahaan pada saat ini menjadi membingungkan, dengan berbagai entitas memperebutkan berbagai bagian bisnis. Pada akhirnya, salah satu pria yang muncul sebagai pemenang adalah seorang pria bernama Isaac Perlmutter. Dia pernah menjadi pemilik perusahaan mainan ToyBiz yang membuat figur aksi Marvel.

Isaac Perlmutter adalah pria misterius, hampir seperti penjahat di buku komik. Dia tidak pernah memberikan wawancara meskipun membantu memimpin salah satu perusahaan hiburan terbesar di dunia. Hanya segelintir foto dirinya yang ada. Yang penting di sini adalah Perlmutter menguasai Marvel pada saat perusahaan sedang putus asa.

Namun sebagian orang, termasuk Isaac Perlmutter, memahami bahwa perusahaan memiliki potensi yang luar biasa. Karakternya sangat disukai; karakter komiknya  adalah kekayaan intelektual yang berharga. Banyak eksekutif film lama telah menyaksikan kendaraan Marvel gagal dan menyerah pada gagasan itu. Tetapi ledakan buku komik pada 1980-an dan awal 1990-an secara tidak sengaja menciptakan faksi Hollywood baru.”

Kegemparan pertama dari kembalinya film Marvel datang dengan rilis Blade tahun 1998, sebuah film yang cukup sukses tentang karakter Marvel yang melawan vampir. Kemudian datanglah X-Men tahun 2000, sebuah film tentang kelompok mutan yang berperang satu sama lain, lagi-lagi berdasarkan buku komik Marvel. Film Spider-Man 2002 dengan Tobey Maguire adalah hit blockbuster. Tapi semua film itu dibuat oleh perusahaan lain yang melisensikan karakter Marvel.

Tobey Macquire dalam film Spiderman yang box office

(Tobey Macquire dalam film Spiderman yang box office/Youtube)

Marvel menyadari uang sebenarnya hanya akan datang jika membuat filmnya sendiri menggunakan kekayaan intelektualnya sendiri. Tetapi mendapatkan modal untuk melakukan itu akan membutuhkan pertaruhan yang sangat besar.

***

Terobosan besar terjadi pada tahun 2005, ketika Marvel berhasil membuat kesepakatan dengan bank investasi Merrill Lynch.

Rincian kesepakatan itu terdengar berisiko: Marvel pada dasarnya menawarkan permata bisnisnya –karakter seperti Thor dan Captain America– sebagai jaminan. Jika film tidak menghasilkan uang, para pahlawan super itu akan menjadi milik bank.

Namun demikian, Merrill Lynch memberi Marvel akses ke sejumlah besar uang tunai: U$ 525 juta atau Rp 8,2 triliun selama tujuh tahun pinjaman, yang dapat digunakan untuk membuat 10 film dengan anggaran mulai dari U$ 45 juta hingga U$ 180 juta. Dengan pengaruh baru mereka, Marvel berhasil memperoleh kembali hak atas karakter yang telah dijualnya selama bertahun-tahun, termasuk Iron Man, Black Widow, Thor, dan Hulk.

Tak lama setelah kesepakatan dengan Merill Lynch tercapai, Marvel mengumumkan bahwa Iron Man akan menjadi produksi film pertamanya.

Saat pengerjaan film Iron Man dimulai, Marvel membuat perekrutan  penting lainnya yang menjamin kesuksesannya di masa depan.

Kevin Feige, awalnya memulai kariernya di bisnis film sebagai asisten produser. Kecintaan Feige pada komik sedemikian rupa sehingga, meskipun usianya relatif muda, dia mendapatkan peran sebagai produser di produksi X-Men produksi Fox meski dia baru berusia 27 tahun saat itu. Kemudian dia memproduksi film Marvel lainnya setelah itu – termasuk Spider-Man, Daredevil, dan Hulk.

Kevin Feige

(Kevin Feige.Observer)

Feige lalu direkrut dan diangkat sebagai presiden Marvel Studios pada tahun 2007.

Ia pun diserahitugas mengerjakan film Iron Man, produksi film pertama yang langsung ditangani di bawah bendera Marvel Cinematik Universe (MCU).

***

Film Iron Man nyatanya sukses besar.  Kisah tentang pahlawan super Tony Stark yang berperan sebagai Iron Man tahun 2008 membuat film itu sukses secara komersial.

Film Iron Man di bawah pengawasan Kevin Feige, menghasilkan U$ 585 juta atau Rp 9,1 triliun.

Film Iron Man

(Film Iron Man/News18)

Kesuksesan film Marvel itu membuat Disney tertarik membeli Marvel.

Pada tahun 2009, Disney resmi mengakuisisi Marvel Entertainment seharga $ 4,3 miliar atau Rp 67 triliun. Kesepakatan itu menyatukan nama keluarga seperti karakter Mickey Mouse dengan karakter menguntungkan termasuk Spider-Man, Incredible Hulk, dan X- Men.

Kedua perusahaan itu langsung menyelesaikan kesepakatan. Kepala Eksekutif Marvel, Ike Perlmutter, akan menjadi pemenang pribadi terbesar. Ia meraup U$ 1,4 miliar atau Rp 21 triliun dalam bentuk tunai sebagai imbalan atas 37 % sahamnya di Marvel dari akusisi itu.

Perlmutter telah terlibat dalam menjalankan Marvel sejak membantu membeli bisnis tersebut dari kebangkrutan pada tahun 1998.

Disney berharap untuk menggunakan 5.000 karakter Marvel di saluran televisinya dan di video game, taman hiburan, dan film.

Pengambilalihan yang disepakati adalah untuk campuran uang tunai dan saham, dengan saham Disney terhitung sekitar 40 % dari harga pembelian.

Ikatan tersebut menyatukan dua perusahaan dengan model bisnis serupa. Keduanya mengambil karakter yang menangkap imajinasi populer dan mempromosikannya dengan penuh semangat di seluruh dunia ke setiap platform media.

Sementara Disney secara tradisional dikenal dengan kreasi film keluarga yang sehat mulai dari Little Mermaid hingga Lion King, dan Pocahontas, pembelian Marvel menambahkan elemen yang lebih keras. Dan baru-baru ini produksi perdana Marvel mencetak kesuksesan  dengan Iron Man, sebuah film yang dibintangi Robert Downey Jr sebagai  miliarder penemu yang menciptakan baju zirah berteknologi tinggi untuk melawan kejahatan.

Karakter Marvel, termasuk pahlawan super Captain America, cenderung cocok dengan remaja laki-laki dan laki-laki muda, sementara Disney lebih kuat dalam menarik penonton wanita.

CEO Disney saat itu, Bob Iger, mengatakan Marvel memiliki " harta karun" kekayaan intelektual yang " melampaui batasan gender, usia, budaya, dan geografis" .

CEO Disney Bob Iger

(CEO Disney Bob Iger/CNBC)

“ Banyak sekali peluang untuk menambang baik karakter yang sudah dikenal maupun karakter yang belum banyak dikenal,” ujar Iger.

Akusisi tersebut adalah salah satu transaksi perusahaan AS terbesar dan menandai perubahan haluan yang luar biasa bagi Marvel, yang awalnya merupakan perusahaan buku komik, yang sempat mengajukan kebangkrutan pada tahun 1996 di bawah utang yang sangat berat karena menghadapi kemerosotan dalam penjualan buku komik.

Marvel memiliki omzet U$ 676 juta tatau Rp 10 triliun tahun 2009 tetapi hanya mempekerjakan 300 orang. Disney, sebaliknya, memiliki omzet U$ 37,8 miliar atau Rp 591 triliun dan menggaji 150.000 staf di berbagai bisnis mulai dari studio film Hollywood hingga televisi ABC, taman hiburan di tiga benua, dan rangkaian toko barang dagangan Disney di jalan raya.

Harga itu mungkin terdengar banyak, tetapi sejak itu Disney telah menghasilkan lebih dari uang yang mereka tanamkan dari box office film-film buatan MCU. Dari 23 film yang sudah dibuat di MCU, box office domestik telah mencapai U$ 8,545 miliar, sementara di seluruh dunia angka tersebut mencapai $22,588 miliar atau Rp 355 triliun.

Sungguh lumayan untuk investasi U$ 4,3 miliar atau Rp 67 triliun.

Film Avengers besutan Marvel

(Film Avenger besutan Marvel/BBC)

Tidak semua orang setuju dengan akuisisi Disney atas perusahaan seperti Marvel, tetapi tidak buat Kevin Feige, Chief Creative Officer Marvel yang baru dibentuk. Ia menyambut hangat tuan baru medianya.

Feige menanggapi klaim bahwa Disney telah " menghancurkan" Marvel. Feige tidak setuju pendapat itu.

" Itu adalah hal terbesar yang pernah terjadi pada kami," katanya. " Jika Disney tidak membeli kami, Anda tidak akan melihat film yang kami buat sejak saat itu. Pasti. Saya hanya berpikir itu tidak mungkin terjadi."

Perbedaan terbesar, lanjut Feige, adalah bekerja dengan pemilik yang 100 % berkomitmen pada Marvel, dibandingkan dengan bekerja bersama mitra yang tidak berkomitmen dengan cara yang sama seperti pemilik penuh, seperti Disney.

" Berbeda ketika Anda memiliki rumah," kata Feige.

Dari perusahaan bangkrut, Marvel memang telah menjelma sebagai sosok pahlawan super yang lolos dari lembah kematian. Alih-alih mati, dari 23 film yang sudah dibuat Marvel Cinematik Universe atau MCU, Marvel sudah menyabet pendapatan U$ 22 miliar. Jelas Disney untung besar. Tapi yang paling penting Marvel tetap otonom dalam berkreasi. Itulah sebabnya valuasi Marvel kini menurut majalah Forbes telah mencapai U$ 50 miliar atau Rp 781 triliun. Ajaib! (eha)

Sumber: The Slate, Guardian, Newsweek, Holywood Reporter, BBC, Forbes,

Beri Komentar