7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi
Dream – Jalan hidup seorang tak ada yang pernah menerka. Mereka yang berasal dari keluarga miskin bisa saja mengubah nasib menjadi hartawan yang berlimpah uang. Meski takdir adalah misteri, umumnya kesuksesan itu buah dari kerja keras dan jeli melihat peluang.
Inilah yang diperlihatkan seorang anak petani di Korea Selatan yang pandai melihat peluang bisnis kala melihat sebuah kincir angin. Mencoba menaikkan taraf hidup dengan menjadi pebisnis, Gim Seong-gon yang merupakan akan petani menikmati kekayaan dari kejeliannya itu.
Gim Seong-gon merupakan seorang terkaya di Korea Selatan. Kekayaannya mencapai US$1,4 miliar (Rp19,67 triliun) yang berasal dari saham 51 persen di perusahaan pembangkit listrik tenaga angin miliknya, CS Wind.
Dikutip dari Yahoo Finance, Jumat 29 Januari 2021, Seong-gun ini adalah anak seorang petani. Pria berusia 67 tahun sukses menjadi miliarder di Korea Selatan karena banting setir dari bisnis manufaktur baja pada 1980-an ke sektor energi baru terbarukan (EBT).
Bisnisnya berubah karena melihat potensi bisnis energi terbarukan. Bak durian runtuh, bisnis rintisannya itu dilirik perusahaan keuangan ternama dunia.
Goldman Sach Group Inc., memutuskan untuk membenamkan investasi di perusahaan milik Seong-gun, CS Wind Corp. Modal dari raksasa keuangan Amerika ini membuat Wind Corp menjelma menjadi produsen menara angin terbesar di dunia.
Tindakan ini mendapatkan apresiasi dari seorang analis di Eugene Investment and Securities Co., Han Byung-wa.
“ Gim mengidentifikasi potensi pertumbuhan secara global dengan cepat. Industri ini telah melihat pertumbuhan yang lebih cepat daripada bisnis tradisional lainnya,” kata Byung-wa.
Seong-gun beralih ke energi terbarukan pada 2003. Kala itu, dia mendirian pabrik menara angin pertama di Vietnam dengan alasan biaya tenaga kerja yang lebih rendah.
Lima tahun kemudian, Goldman Sach memberikan investasi sebesar 4,7 miliar won (Rp59,29 miliar). Dana ini membantu Seong-jun untuk berkembang ke tujuh negara.
CS Wind mengoperasikan pabrik di negara-negara termasuk Malaysia, Tiongkok, dan Inggris. Perusahaan ini juga menjual produk menara angin ke perusahan seperti Siemens Gamesa Renewable Energy SA, General Electric Co, dan Vestas Wind Systems A/S.
Pria ini juga berensana membangun pabrik di Amerika Serikat. Diketahui, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, berjanji akan memprioritaskan supplier yang berbasis di Amerika Serikat.
“ Menjalankan bisnis adalah tentang terus menemukan tujuan baru. Ketika sebuah tujuan tercapai, kamu harus mencari yang baru. Begitulah cara saya mengelola bisnis,” kata Seong-gun.
Pergeseran energi dari fosil ke EBT mengerek keuntungan perusahaan. Investasi ke proyek dan teknologi rendah karbon meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dekade terakhir menjadi US$501,3 miliar pada tahun lalu. Hampir dua pertiganya berasal dari EBT, seperti tenaga matahari dan angin.
Pemerintah di seluruh dunia mendorong agar energi hijau seperti tenaga surya dan angin memenuhi 56 persen permintaan listrik di dunia. Investasi dalam proyek dan teknologi energi rendah karbon meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dekade terakhir menjadi US$501,3 miliar (Rp7.035,69 triliun). Dua pertiganya berasal dari EBT, seperti angin dan matahari.
Inilah yang membuat pendapatan CS Wind berlipat-lipat. Pendapatan yang dikantongi CS Wind meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun hingga 2019 dan naik menjadi 696 miliar won (Rp877,37 miliar) dalam sembilan bulan tahun 2020. Laba bersihnya pun meroket 68 persen menjadi 49,3 miliar won (Rp621,46 miliar).
Pria yang membiayai kuliahnya dengan bekerja di kantor pos dan mengajar les privat, menyebut energi hijau memberikan perubahan yang besar bagi perusahaannya.
Sebelum menjadi miliarder, Seong-gun ini merupakan anak petani. Bahkan, untuk membiayai kuliahnya, pria itu bekerja di kantor pos dan memberikan les privat.
Setelah lulus dari Universitas Chung-Ang di Seoul, Korea Selatan, dia bekerja di pengembang properti. Sarjana di bidang perdagangan ini pindah ke Arab Saudi untuk menghasilkan lebih banyak uang.
Sepulang dari Arab Saudi, dia memulai bisnisnya di manufaktur pembuatan struktur baja, termasuk cerobong asap untuk pembangkit listrik tenaga termal pada 1989.
“ Hidup itu sulit,” kata pria ini saat diwawancarai oleh sebuah media lokal. Dikatakan bahwa Seong-gun tertarik untuk mengambil tantangan baru.
“ Kalau dipikir-pikir, waktu menanamkan kepercayaan diri kepada saya,” kata Seoung-gun.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?