7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
BPRS Masih Menghadapi Tantangan Terutama Dalam Hal Pemanfaat Teknologi. Kolaborasi Dengan Fintech Bisa Menjadi Solusi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)
Dream - Pengelola Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) diminta untuk memacu inovasi agar bisa berkompetisi dalam melayani kepentingan ekonomi kecil dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan transformasi digital agar bisa bersaing dengan bank konvensional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menegaskan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPRS juga mesti menghadapi shadow banking melalui teknologi finansial (Financial Technology/Fintech) dengan regulasi yang lebih longgar dan kompetitif.
“ Tantangannya adalah bagaimana niche product and market yang dipegang BPR/BPRS yang dapat melakukan penetrasi pasar sehingga dapat bertumbuh dengan baik. Harapannya BPR/BPRS dapat menjadi lembaga yang agile, adaptif, contributive, dan resilient dalam kontribusi dalam pengembangan UMKM di daerah masing-masing,” kata Dian dalam seminar virtual bertema “ Arah Maju Transformasi Digital BPRS di Indonesia” seperti dikutip dari keterangan tertulis ALAMI, Kamis, 30 Juni 2022.
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Mulya E Siregar dalam seminar yang digelar untuk memperingati Hari BPRS Tahun 2022 menambahkan arah kebijakan OJK yang nantinya ditetapkan di Peraturan OJK (POJK) 25 banyak beralih ke sustainable finance yang menjadi tantangan baru dan sangat penting bagi BPR/BPRS untuk dapat berinovasi dengan cepat.
" Saya berharap segala kebijakan dapat memajukan BPR/BPRS sehingga lebih kompetitif dan mendapatkan perhatian dari publik,” ujarnya.

Sementara Ketua Umum Kompartemen BPRS Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo), Cahyo Kartiko, mengungkapkan BPRS masih menghadapi banyak tantangan utama untuk bisa bertumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat.
Tantangan tersebut adalah konsentrasi pendanaan dan bagi hasil tinggi, pemilihan portofolio pembiayaan berisiko tinggi, model bisnis yang kurang jelas, serta penggunaan teknologi yang masih sederhana.
Menurut Cahyo, transformasi digital merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari oleh industri termasuk industri BPR Syariah.
" Dengan adanya sinergi dan kolaborasi serta dukungan penuh dari otoritas, maka kebutuhan pasar akan transaksi digital oleh BPR Syariah akan lebih cepat terpenuhi,” jelasnya.
Upaya untuk mendorong transformasi digital di industri BPRS ini sudah dilakukan ALAMI Group sebagai peer to peer syariah saat memutuskan mengakuisisi PT BPRS Cempaka Al Amin dan mentransformasikannya menjadi Hijra Bank pada Maret 2021.

CEO & Founder ALAMI Group, Dima Djani, mengatakan kolaborasi ini terdiri dari berbagai aspek antara lain peningkatan akses pembiayaan melalui skema channeling/referral, dukungan teknologi untuk pemanfaatan credit scoring calon penerima pembiayaan berbasis data fintech, penggunaan produk dana pihak ketiga BPR sebagai rekening dana penerima pembiayaan fintech, serta pelaksanaan akses transaksi pemindahbukuan dan pembayaran melalui infrastruktur fintech dan bank.
Dima mengungkapkan proses transformasi dan adopsi teknologi BPRS Hijra ALAMI (Hijra Bank) berdampak terhadap pertumbuhan kinerja BPRS. Selain mempercepat proses bisnis dan menempatkan nasabah sebagai fokus utama bisnis, penambahan modal yang dilakukan ALAMI Group kepada Hijra Bank menjadi Rp15 miliar membuat perusahaan menjadi lebih optimal dalam menjalankan aktivitas bisnis.
" Hasilnya, aset Hijra Bank tumbuh 139% year-on-year (yoy) hingga lebih dari Rp92 miliar pada Mei 2022,” jelas Dima.
Dia memastikan prinsip syariah yang selama ini dijalankan Hijra Bank bertujuan agar masyarakat dapat mengelola keuangan dengan lebih baik melalui prinsip keuangan syariah yang adil, transparan, dan memudahkan, sehingga memberikan dampak positif yang lebih luas kepada masyarakat secara umum.
Meski masih menghadapi beberapa kendala besar dalam menjalankan roda bisnisnya, kinerja BPRS terbukti mampu bertahan di tengah tantangan pandemi. Per September 2021, total aset BPR dan BPRS bertumbuh 8,90 persen (yoy) dengan penyaluran kredit tumbuh 4,33 persen (yoy), dan Dana Pihak Ketika (DPK) tumbuh 11,27 persen (yoy).
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?