Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menteri BUMN Erick Thohir (Liputan6.com)
Dream - Pemerintah saat ini sedang menyiapkan dua skema pengadaan vaksin untuk penanganan Covid-19, yaitu melalui produksi sendiri dan mendatangkan dari luar negeri.
Jika nantinya sudah tersedia, maka vaksin diberikan gratis kepada masyarakat yang tidak mampu. Sementara bagi masyarakat yang mampu membayar, maka akan dikenai biaya.
Ketua Komite Pelaksana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Erick Thohir, menjelaskan nantinya vaksin akan diedarkan dalam skema jual beli. Terkait harga, dia mengatakan akan ditentukan oleh penjualnya, bukan pemerintah.
" Harga dinamika tinggi tergantung masing-masing penjual, dan yang menetapkan harga bukan saya (pemerintah), penjualnya," ujar Erick, dikutip dari Merdeka.com.
Erick mengatakan, saat ini Indonesia tengah berusaha mengimbangi negara lain dengan memproduksi sendiri vaksin untuk Covid-19. Dengan begitu, harganya bisa bersaing dengan produk dari negara lain.
" Karena itu, kenapa Vaksin Merah Putih harus dibuat supaya jika negara lain mau beli vaksin, kita juga yang tetapkan harga," kata Erick.
Meski nantinya harganya berbeda, Erick menjamin vaksin produksi dalam negeri punya kualitas hampir sama. Karena seluruh vaksin yang akan disuntikkan ke pasien sudah pasti melalui uji klinis tahap III.
" Kualitas semua bagus sebab sudah melalui uji klinis tahap III jadi kalau sudah uji klinis III kualitas sama. Tapi harganya beda-beda, buka kita yang menentukan, yang buat," ucap dia.
Selanjutnya, Erick mengatakan harga vaksin bisa bervariasi disebabkan biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam proses produksi. Selain itu, kapasitas produksi yang terbatas juga bisa berpengaruh pada tingkat harga.
" Mungkin cara menemukannya lebih mahal, kapasitas produksi lebih sedikit, kan macam macam dinamikanya. Karena itu Vaksin Merah Putih harus dilakukan," kata dia.
Lebih lanjut, kata Erick, jika vaksin dihitung sebagai bantuan, maka pemerintah akan melakukan perhitungan lebih dulu. Tetapi, dia memastikan vaksin yang nantinya digratiskan bukanlah yang paling murah.
" Yang digratiskan vaksin yang harganya paling murah, ya enggak juga. Negara dipastikan hadir untuk rakyat," ucap dia.
Sumber: Merdeka.com/Anggun P Situmorang
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya