Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Shutterstock.com
Dream - Uni Eropa resmi resesi. Ekonomi Benua Biru itu minus 11,9 persen pada kuartal II 2020. Pada kuartal pertama yang lalu, ekonomi mereka minus 3,2 persen.
Negara penyumbang ekonomi terbesar di Eropa, Jerman, juga telah masuk jurang resesi dengan minus 10,1 persen pada kuartal ke dua. Pada kuartal pertama yang lalu, Negeri Panzer minus 2,2 persen.
Prancis, Italia, dan Spanyol, mengalami tingkat resesi lebih dalam. Prancis minus 13,8 persen, Italia minus 12,4 persen, dan Spanyol minus 18,5 persen.
Ekonom sekaligus Analis Keuangan Valbury Asia Futures, Lukman Leong, memprediksi bahwa gelombang resesi yang melanda Eropa akan berdampak buruk bagi ekonomi Indonesia. Mengingat dampak resesi akan memukul kerja sama ekonomi antara Uni Eropa dan Indonesia.
" Saya kira kalau resesi itu pasti dampak buruknya akan menjalar ke segala sektor. Khususnya sektor ekonomi termasuk kerjasamanya," ujar Lukman, dikutip dari Merdeka.com.
Apalagi, tambah dia, Eropa merupakan bagian penting mitra dagang Indonesia. Sejumlah negara Eropa memang masih mempercayai Indonesia sebagai mitra yang mampu memenuhi standar sejumlah produk yang ditetapkan. Tentu saja resesi Eropa ini akan menganggu ekspor nasional.
Namun, Lukman tak merinci seberapa besar potensi keuntungan dari kerjasama tersebut. " Yang pasti potensi ekonomi dari kerjasama ini cukup besar. Terlebih banyak negara maju di kawasan tersebut," imbuh lukman.
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah lebih tanggap dalam menyikapi resesi yang marak di sejumlah negara, khususnya mitra dagang. Antara lain dengan memetakan sejumlah negara mitra yang berpotensi mengalami kondisi ekonomi sulit.
Namun, menurutnya prioritas pemerintah kini lebih baik diarahkan terhadap peningkatan serapan program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Sehingga lebih banyak menyelamatkan masyarakat dan pelaku usaha dari dampak resesi.
" Hemat saya, yang paling penting untuk bisa meningkatkan serapan stimulus PEN. Karena ekonomi ga akan bangkit tanpa aktifitas," tukasnya.
Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya