Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Bitcoin terus menunjukan tajinya setelah awal tahun ini turun tajam ke posis iterendahnya. Harga mata uang digital menembus angka lebih dari Rp170 juta. Harga tersebut menjadi yang tertinggi sejak 15 bulan terakhir.
Menurut data Indodax, harga tertinggi Bitcoin terhadap rupiah terjadi pada Januari 2018. Tercatat, nilai jual Bitcoin terhadap rupiah sebesar Rp245 juta.
Tapi, pada pertengahan Januari 2019, nilai Bitcoin mulai turun. Harga Bitcoin pada awal 2019 anjlok di harga Rp46 juta.
Dilaporkan CoinDesk, nilai tukar Bitcoin terhadap Euro tidak sebagus nilai tukar Bitcoin terhadap 17 mata uang dari negara lain.
Nilai satu Bitcoin terhadap Euro hanya berkisar di angka 10.024 Euro, atau setara Rp161 juta.
Meroketnya harga bitcoin membuat investor yang masih setiap dengan mata uang virtual ini kegirangan. Mereka telah menikmati untung 230 persen dibandingkan posisi awal tahun 2019.
Kondisi nilai tukar yang buruk ini karena pengaruh melemahnya Euro terhadap dolar Amerika Serikat.
Para investor pemilik Euro disebut telah menjual dolar secara keseluruhan karena meningkatnya peluang penurunan suku bunga Federal Reserves AS.
Dream – Setelah setahun lebih, harga jual bitcoin melezat. Saat ini, harga uang virtual itu hingga mencapai US$11 ribu atau sekitar Rp155,58 juta.
“ Bangkitnya bitcoin ini sungguh luar biasa,” kata Chief Executive and Cofounder KR1 Plc—sebuah perusahaan investasi blockchain dan cryptocurrency, George McDonaugh, dikutip dari Bloomberg, Selasa 25 Juni 2019.
“ Uang takkan meninggalkan aset di belakang. Dia hanya duduk di belakang sambil menunggu waktu untuk kembali,” kata dia.
Sekadar informasi, cryptocurrency memiliki pegerakan terbesar pada akhir 2017. Kala itu, nilainya mencapai US$19.500 (Rp275,98 juta) sebelum merosot pada 2018.
Uuang berlogo “ B” yang dilarang di beberapa negara ini sempat merosot hingga US$3.300-US$4.100 (Rp46,67 juta—Rp57,98 juta) per koin.
Hasil studi Indexica menunjukkan ada tiga pendorong nilai Bitcoin meroket. Pendorong-pendorong ini adalah pembicaraan yang kompleks tentang Bitcoin, sedikit kekhawatiran terhadap uang digital, serta pergeseran pembicaraan bitcoin masa lampau dan masa kini.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, ada tanda-tanda minat terhadap uang digital dan Bitcoin kembali muncul. Dirilisnya uang virtual Facebook, Libra, ditengarai jadi pemicunya.
Raksasa teknologi ini bekerja sama dengan Visa Inc sampai Uber Technologies untuk mengembangkan sistem blockchain dan crytocurrency ini.
“ Munculnya Libra adalah memvalidasi ruang crypto dan mengirim semua uang digital utama lebih tinggi,” kata Kepala Strategis Pasar di Oanda Corp, Edward Moya.
Dream - Bitcoin siap-siap kedatangan pesaing baru. Bukan perusahaan kecil, kali ini Bitcion harus siap bersaing dengan Facebook yang baru meluncurkan mata uang terbarunya, Libra.
Uang kripto ini diklaim mampu membeli dan mengirimkan uang kepada orang lain dengan biaya hampir nol.
Dilaporkan Techcrunch, dengan Libra, seorang pengguna, tanpa diketahui identitasnya, dapat membeli atau menguangkan secara online atau di toko-toko yang punya lokasi penukaran.
Rencananya, Facebook akan membangun aplikasi dompet Libra, atau Calibra. Aplikasi ini terintegrasi ke dalam WhatsApp, Messenger, dan aplikasi sendiri.
Hari ini Facebook merilis buku putih yang menjelaskan Libra dan testnet untuk mengetahui kekusutan sistem blockchain-nya, sebelum akhirnya peluncuran publik pada paruh pertama pada 2020.
Facebook tidak akan sepenuhnya mengendalikan Libra. Sejumlah perusahaan besar seperti Visa, Uber, dan Andreessen, turut menginvestikan dana sebesar US$10 juta untuk operasional di bawah Libra Association.
Facebook meluncurkan anak perusahaan yang juga disebut Calibra yang menangani transaksi kripto dan melindungi privasi pengguna. Perlindungan ini diklaim menghindarkan pengguna sebagai target iklan.
" Sukses akan berarti bahwa seseorang yang bekerja di luar negeri memiliki cara cepat dan sederhana untuk mengirim uang ke keluarga di rumah, dan seorang mahasiswa dapat membayar sewa semudah mereka membeli kopi," tulis Facebook dalam dokumentasi Libra.
Dilaporkan The Block`s Frank Chaparro, ada 28 anggota asosiasi mata uang digital ini. Mereka diantaranya,
- Pembacaran: Mastercard, PayPal, PayU, Stripe, Visa
- Teknologi dan marketplace: Booking Holdings, eBay, Facebook / Calibra, Farfetch, Lyft, Mercado Pago, Spotify AB, Uber Technologies, Inc.
- Telekomunikasi: Iliad, Grup Vodafone
- Blockchain: Anchorage, Bison Trails, Coinbase, Inc., Xapo Holdings Limited
- Modal Ventura: Andreessen Horowitz, Breakthrough Initiatives, Ribbit Capital, Thrive Capital, Union Square Ventures
- Organisasi nirlaba dan multilateral, dan lembaga akademis: Creative Destruction Lab, Kiva, Mercy Corps, Women’s World Banking
Dream - Kejahatan semakin berkembang di era teknologi dewasa ini. Seorang pemuda bernama Joel Ortiz, 21 tahun, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena mencuri bitcoin.
Aksi Ortiz terbongkar setelah detektif teknologi dari South Bay, Boston, California, Amerika Serikat (AS) menemukan pencurian uang kripto yang dilakukannya.
Dilaporkan The Mercury News, Ortiz tidak langsung mencuri uang digital. Dia menggunakan ponsel korbannya untuk mencuri bitcoin senilai jutaan dollar.
Pada sidang di awal tahun, Ortiz tak membantah dakwaan dari jaksa atas pencurian identitas dan kejahatan komputer. Ortiz didakwa dengan 41 tuduhan dan dikaitkan dengan laporan 13 korban.
Wakil Jaksa Santa Clara, Erin West, menyebut dampak yang terjadi terhadap korban.
" Aksi ini tidak dilaporkan dan penyelidikannya kurang, tetapi aksi ini merupakan ancaman besar bagi keamanan keuangan negara kita," ujar Erin.

Joel Ortiz pelaku peretasan uang digital (Foto: The Mercury News)
Pihak berwenang menyebut, Ortiz telah mencuri uang digital sebesar US$7,5 juta, setara Rp106 miliar. Sebanyak US$5,2 juta, setara Rp73,8 miliar, yang Ortiz curi diduga merupakan uang milik pengusaha mata uang digital, Cupertino.
Teknik peretasan yang dikembangkan Ortiz yaitu menggunakan akses operator ponsel. Setelah mendapatkan target, Ortiz menukar SIM (nomor kartu) korban.
Dalam beberapa kasus, Ortiz juga menyabotase akses koneksi korban, melakukan `pancingan` melalui email, dan unggahan di Facebook. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya