Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Dream - Suka atau tidak suka, semakin banyak saja orangtua yang ikut bergabung di media sosial. Umumnya mereka mendaftar hanya untuk mengawasi anak-anaknya.
Namun kadang mereka juga ikut larut dalam hingar-bingar dunia media sosial yang penuh jebakan dan kepalsuan. Salah satu jebakan tersebut adalah penipuan online yang akhir-akhir marak terjadi di media sosial.
" Yang paling rentan menjadi korban penipuan online di media sosial adalah mereka yang berusia 50-an lebih," kata Maggie Castro-Stevens, Direktur AARP.
Castro-Stevens kemudian menyoroti beberapa penipuan online di media sosial terbaru yang perlu Anda waspadai. Berikut adalah tiga contohnya:
Mulai dari Kupon Berhadiah....
© Dream
1. Kupon Berhadiah
Setiap tahun ada 300 miliar kupon palsu yang dibuat untuk menggoda pengguna media sosial agar mengklik. Di Facebook Anda mungkin pernah melihat kupon berhadiah US$ 200 dari Nordstrom atau kupon US$ 100 dari Lowe. Kupon-kupon tersebut terlihat seperti resmi dan profesional. Ini karena penipunya menggunakan logo yang dibuat mirip dengan logo asli.
" Perusahaan besar seperti mereka tidak mungkin menawarkan kupon liburan gratis senilai ribuan dolar. Jika mereka memang melakukannya, kupon-kupon itu tidak akan di media sosial," kata Castro-Stevens.
Penipu online akan sering meminta Anda untuk membagikan kupon palsu itu ke teman Anda, meminta Anda untuk memasukkan informasi pribadi Anda, atau bahkan meminta Anda membeli kupon tersebut. Namun berhati-hatilah, dengan mengklik link untuk menebus diskon yang tertera di kupon palsu itu dapat mengakibatkan pencurian identitas atau infeksi malware pada komputer Anda.
Bagaimana Anda bisa membedakan yang asli dan palsu? Jika kupon online tersebut asli, kemungkinan akan dipajang di situs perusahaan. Selain cobalah mencari kupon online dengan tambahan kata scam atau penipuan dan lihat apa yang muncul, kata Castro-Stevens.
© Dream
Dream - Anda pernah ditawari script yang bisa mengetahui siapa saja yang pernah melihat profile Anda? Nah, itulah yang penipu gunakan untuk menjaring mangsa sebanyak-banyaknya. Tapi tidak seperti LinkedIn, Anda tidak perlu daftar jadi anggota atau membayar program premium untuk melacak audiens Anda. Namun, script tersebut secara diam-diam akan mengopi semua informasi tentang Anda atau bahkan orang yang melihat profil Anda. Script semacam ini sebenarnya melawan kebijakan Facebook. Dengan mengklik link ke script tersebut Anda akan dibawa ke halaman yang meminta Anda untuk memasukkan informasi pribadi atau bahkan mengunduh malware ke komputer Anda.
© Dream
Dream - Ketika penipu menggunakan teknik phishing dengan mengirim pesan atau email, mereka mengaku sebagai perusahaan resmi. Hal itu dilakukan agar mereka mendapatkan informasi pribadi atau password. Dalam penipuan ini, Anda akan mendapatkan email yang terlihat seperti telah dikirim oleh media sosial seperti Twitter. Mereka mengirim pesan dengan peringatan yang mengatakan bahwa Anda perlu mengaktifkan kembali akun Anda karena sudah dibatalkan atau ditutup.
Dalam rangka untuk mengaktifkan kembali akun Anda, email palsu itu akan mengarahkan Anda untuk mengklik link atau mengunduh lampiran. Dengan melakukan itu Anda mungkin telah mengunduh malware atau Anda mungkin mengorbankan keamanan akun pribadi lainnya di mana Anda menggunakan login yang sama.
Jaringan anti-penipuan online Amerika Serikat AARP merekomendasikan Anda menghapus email seperti itu segera dan memeriksa halaman dukungan resmi dari platform media sosial di mana Anda berpikir akun Anda mungkin telah disusupi. Ketahui semuanya sendiri secara langsung untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang salah dengan akun Anda.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang