Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Foto: Sagoolicious
Dream - Pandemi Covid-19 membuat masyarakat semakin peduli dengan kesehatan. Tidak hanya protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona, masyarakat juga semakin sadar dengan pentingnya makanan sehat untuk meningkatkan imunitas.
Peningkatan kesadaran masrayakat itulah yang dilihat oleh Jenny Widjaja sebagai peluang bisnis. Bermula dari niat membuat sesuatu yang bernilai sosial untuk mendukung program pemerintah tentang ketahanan pangan, Jenny mulai membuat bahan-bahan makanan dari sagu.
Dia memberi nama usaha itu dengan Sogolicious. Dia sengaja memilih sagu untuk bisnisnya karena bahan makanan ini belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Sagu baru dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia bagian timur.
Setelah satu tahun meneliti, terciptalah berbagai inovasi dengan menghadirkan beragam olahan sagu Papua, mulai dari mi pasta, makaroni, keripik, dan masih banyak lagi. Sebelumnya Jenny memang sudah menjadi pelopor untuk membuat mi warna-warni yang terbuat dari terigu.
“ Potensi Indonesia untuk bahan pangan besar namun belum dimanfaatkan. Dari situlah hati saya tergerak untuk membuat olahan sagu bisa menjadi bahan makanan yang diterima masyarakat,” tutur Jenny dalam keterangannya yang diterima Dream.co.id, Rabu 10 Agustus 2022.
Selain itu, Jenny tertarik mengembangkan bahan sagu menjadi makanan olahan modern berbahan sagu dengan nilai gizi yang optimal.
" Sagu punya banyak kelebihan, Free Gluten, Non GMO, Organik, Low GI sangat baik untuk kesehatan, terutama bagi yang mau tetap sehat. Menghindari gula bagi diabetes, baik untuk jantung, sangatlah baik untuk yg bermasalah maag ," jelasnya.
Menurut Jenny, beberapa chef yang ditunjuk sebagai catering untuk PON Papua melirik olahan sagu yang dibuatnya. Hingga akhirnya, mi pasta sagu varian instan yang dibuat dengan 100 persen sagu murni ini dibawa ke Papua untuk diperkenalkan pada pejabat setempat dan mendapat respon yang sangat baik.
“ Saya memperkenalkan mi Sagu ini ke dinas Pariwisata Papua, lalu ketemu Walikota dari situ mereka terheran-heran sagu yang turun menurun dikonsumsi penduduk ternyata bisa menjadi mi warna-warni. Dari situlah, saya diminta untuk menyajikan kepada para pejabat di sana. Bahkan makaroni sagu menjadi souvernir untuk para atlet” paparnya.
Dari situlah, Jenny mendapat julukan Queen of Sagu Milenial. Upaya menghadirkan produk olahan sagu yang kekinian memang menjadi tujuan Jenny demi menargetkan generasi muda, khususnya dari kelompok milenial untuk mencicipi olahan dari bahan pangan asal Papua ini.
“ Harapannya produk mie & pasta dengan aneka varian berbahan dasar Sagu ini bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas dari Sabang sampai Merauke bahkan sampai ke pasar Internasional, Semangat bangga buatan Indonesia menjadi spirit, bagi dirinya mengembangkan promosi produknya sampai ke pasar Internasional,” tambahnya.

Bahkan demi memastikan produknya sehat, Jenny membuat warna-warna mi dari bahan alami seperti spirirulina, kunyit, buah merah papua untuk membuat produknya semakin menarik tapi tambah menyehatkan ketika dikonsumsi. Saat ini sudah lebih dari 40 varian dan terus berjalan menuju 50.
" Semua yang saya gunakan di sagolicious ini pakai bahan-bahan alami yang ada di Nusantara. Semuanya pakai bahan campuran seperti ubi ungu, buah biet. Kemudian, sagu sendiri karena enggak pakai gluten jadi tidak pakai pengawet. Sagu sendiri juga tumbuh alami bukan ditanam manusia, sehingga lebih sehat dan organik. Semua yang sehat ada disini. Saya akan berkreasi terus dan ingin mengangkat sagu ini sederajat dengan makanan pokok lainnya,” paparnya.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan