Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Lakhsmi Mittal, Miliarder India Yang Merintis Usahanya Di Indonesia. (Foto: Forbes)
Dream – Seorang miliarder India, Lakhsmi Narayan Mittal, merupakan miliarder tersohor di India. Pria ini tercatat mengantongi kekayaan senilai US$11,2 miliar (Rp157,1 triliun), menurut data Forbes.
Tapi tahukah kamu bahwa Mittal memulai bisnisnya di Indonesia?
Dikutip dari berbagai sumber, Selasa 29 Oktober 2019, pria yang akrab dipanggil dengan Lakhsmi Mittal ini lahir di Sadulpur, Rajasthan, India.
Pada 1960, keluarga Mittal pindah ke Calcutta. Di sana ayahnya membangun pabrik baja. Mittal bekerja di sana sembari kuliah jurusan sains di St. Xavier College.
Setelah lulus pada 1970, dia bekerja di pabrik. Kemudian, Mittal pindah ke Indonesia dan tinggal selama 10 tahun untuk membangun pabrik baja pertamanya, PT Ispat Indo di Waru, Jawa Timur.
Dari sinilah, bisnis Mittal berkembang. Pemilik bisnis Mittal Steel Company NV ini menjadi pengusaha sukses dengan membeli pabrik-pabrik baja yang merugi. Dengan tangan dinginnya, pabrik-pabrik itu jadi sukses. Mittal juga tercatat memegang aset baja di Afrika Selatan, Polandia, Indonesia, dan Kazakhstan.
Kini, Mittal menjadi orang terkaya dunia ke-91 menurut Forbes.
Orang yang berjulukan King of Steel sempat terlibat skandal politik “ Garbagegate” dengan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Dalam skandal ini, Mittal menyumbang 2 juta poundsterling (Rp36,04 miliar). Sumbangan ini membuat Blair memutuskan kebijakan yang menguntungkannya dalam sebuah transaksi bisnis.
Dream – Tak pernah terbayang dari benak Masaru Wasami bahwa dia akan menjadi miliarder. Kini, dia menjadi orang kaya-raya di Jepang dengan harta belasan triliun rupiah.
Dikutip dari Bloomberg, Senin 14 Oktober 2019, cerita ini bermula dari Masaru yang menjadi karyawan paruh waktu saat berusia 12 tahun. Dia ingin membantu mencari uang untuk pengobatan sang ibu yang mengidap tuberkulosis (TBC). Tiga tahun kemudian, Masaru berhenti sekolah dan berbisnis full time.
![]()
Pada 1970, Masaru merintis bisnis truk di bawah bendera Maruwa Unya Kikan Co. Bisnisnya bergerak di bidang pengiriman produk. Awalnya, dia hanya punya satu truk. Beberapa tahun kemudian, jumlah truk yang dimilikinya sampai 100 truk.
Semula dia berbisnis pengiriman produk, kini bisnisnya berkembang menjadi pengiriman obat-obatan dan logistik supermarket di seluruh Jepang.
Kini, Masaru menjadi orang kaya-raya di Jepang dan keberhasilannya tak lepas dari peran Amazon Inc.
Saat berkisah pertama kalinya memantapkan hati untuk berbisnis, Masaru mengaku tak ada ide. Saking tak ada pikiran, pria ini tak bisa tidur.
Lalu, pagi harinya, Masaru menemani temannya untuk mengambil paket dari pabrik benang. Tapi, dia tidak mampu menangani pengiriman parsel. Inlah yang menjadi alasan Masaru untuk berbisnis pengiriman paket.
Pemilik 60 persen ini tak keberatan menggandeng Amazon dan Rakuten—online retailer di Jepang—untuk mengembangkan bisnisnya. Masaru menawarkan jasa pengiriman “ same day delivery” kepada dua e-commerce raksasa itu.
Selain kerja sama dengan dua e-commerce, kenaikan harga saham Maruwa turut mengerek kekayaan Masaru. Bloomberg mencatat kekayaan pria berusia 74 tahun ini senilai US$1 miliar (Rp14,14 triliun).
Masaru juga menggandeng perusahaan parsel terbesar, Yamato Holdings Co. Sama dengan Rakuten dan Amazon, dia menawarkan bisnis pengiriman same day delivery.
Pada 2017, bisnis parsel Yamato berkembang tiga kali lipat dan mendorong volume pengapalan dari ritel e-commerce. Kenaikan bisnis ini tentu saja berakibat pada bisnis pengiriman.
![]()
Meskipun sedang moncer, Masaru enggan menerima permintaan kelebihan pengiriman. Dia tak mau ngoyo terhadap bisnis pengiriman barang dari perusahaannya dan ogah melebihi kapasitas.
“ Perusahaan kami juga menawarkan gaji yang kompetitif untuk sopir truk,” kata Masaru.
Dia menuturkan, Maruwa bisa menghasilkan uang senilai 7,2 juta yen (Rp939,92 juta) dengan mengirimkan lebih dari 150 paket per hari.
Sekadar informasi, pendapatan Maruwa melesat 15 persen menjadi 85,6 miliar (Rp1,12 triliun) per 31 Maret 2019. Logisitik dan ritel makanan tetap menjadi bisnis terbesar Maruwa. Kini, paket e-commerce juga memberikan sepertiga pendapatan perusahaan Masaru.
Meskipun sudah sukses dan tajir, Masaru tetap tidak puas. Dia mengatakan penjualannya seharusnya beberapa kali lebih besar karena dia menghabiskan waktu hampir 50 tahun untuk berbisnis.
“ Saya belum menghasilkan yang terbaik,” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya