Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bisnis pembiayaan syariah menemukan momentum kebangkitannya. Di tengah kondisi ekonomi yang melemah dan tingginya suku bunga, masyarakat perlahan-lahan mulai mengalihkan pembiayaan kredit rumah dari konvensional menuju syariah.
Relaksasi pembiayaan rumah berupa penurunan batasan minimal uang muka juga mendorong perpindahan tersebut.
Chairiani Rachmah, petugas Control Internal BJB Syariah Cabang Jakarta mengakui, Kredit Pembiayaan Rumah (KPR) syariah kini menjadi satu produk yang membuat masyarakat tertarik.
Selain ketetapan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan batas uang muka minimal 20 persen, Bank Syariah juga menawarkan mekanisme penghitungan cicilan tetap hingga pembiayaan lunas maksimal 15 tahun.
Menurut Chairiani Rachmah, peningkatan jumlah nasabah setelah peraturan uang muka diturunkan menjadi 20 persen terjadi cukup signifikan.
" Dulu, waktu uang muka masih 30 persen, 1 Kantor Cabang Pembantu (KCP) bisa ada 4 pencairan. Kalau sekarang bisa sampai 7 nasabah," imbuhnya saat berbincang dengan Dream disela iBVaganza Jakarta.
Tak hanya BJB syariah, manajemen BNI Syariah juga mengungkapkan setidaknya terdapat 10 pengajuan aplikasi KPR syariah dalam satu hari. Sub Branch Manager BNI Syariah Tebet, Rachmad Basuki mengungkapkan pencapaian ini didukung sejumlah penawaran dari perusahaan.
Mulai dari mekanisme penghitungan cicilan yang tetap dan tanpa spekulasi, hingga pembebasan biaya administrasi pendaftaran.
Sementara itu, Sub Branch Manager Bank Syariah Mandiri (BSM), Deasi Anggraini menegaskan, kepastian dalam mekanisme penghitungan cicilan adalah kekuatan utama bank syariah.
" Misalnya kami memberikan margin bank 6,34 persen di awal pembiayaan sementara bank konvensional ada yang berani memberikan margin hanya 5 persen. Tapi itu hanya berlaku paling tidak selama dua tahun cicilan, setelah itu akan fluktuatif. Sementara kalau di bank syariah, sudah tetap marginnya sampai lunas," jelas Deasi.
Deasi mengungkapkan, kini tengah berkembang eksodus besar-besaran nasabah pembiayaan KPR konvensional ke KPR syariah.
" Jadi nasabah yang pengajuan awalnya di bank konvensional, kemudian membayar cicilannya merasa terlalu mahal, itu bisa di-take over ke bank syariah dan itu lebih murah," tegasnya.
Untuk model tersebut, BSM sendiri memiliki program Griya Hijrah. Menurut Deasi, kini Griya Hijrah menjadi primadona yang dikerubungi banyak nasabah pindahan dari bank konvensional. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya