4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Foto: Oddity Central
Dream - Konten video kini semakin populer, sehingga tidak heran jika jutaan orang di seluruh dunia bekerja keras untuk membangun kariernya sebagai content creator.
Tulsi, sebuah desa kecil di negara bagian Chhattisgarh, India, telah dikenal sebagai 'Desa YouTube' karena mayoritas penduduknya bekerja sebagai content creator untuk mencari nafkah.
Dikutip dari laman Oddity Central, Minggu 2 Oktober 2022, sepertiga dari sekitar tiga ribu penduduk Desa Tulsi secara aktif membuat video dan mengunggahnya di YouTube untuk mendapatkan penghasilan.
Dulunya, para content creator ini bekerja sebagai petani. Namun ketika para petani ini mendengar bahwa beberapa rekan mereka yang membuat video dan mengunggahnya di YouTube mendapatkan penghasilan lebih besar, bahkan tiga kali lipat dari pendapatan petani, akhirnya mereka banting setir dan meninggalkan pekerjaannya di ladang untuk ikut menjadi content creator.
Kisah Tulsi menjadi Desa YouTube India dimulai dari sepasang sahabat yang masing-masing bernama Gyanendra Shukla dan Jai Verma.
Shukla awalnya bekerja sebagai network engineer sedangkan Verma bekerja sebagai guru. Keduanya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan dan beralih menjadi pembuat konten video.
Tak lama kemudian, keduanya mulai mendapatkan cukup banyak uang dari pekerjaan baru dan kabar keberhasilan mereka menyebar ke seluruh desa. Kabar tersebut menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak Shukla dan Verma.
“ Saya bekerja di SBI sebelumnya, sebagai network engineer. Kantor saya memiliki internet berkecepatan tinggi dan saya biasa menonton video YouTube di sana,” kata Shukla kepada kantor berita ANI.

“ Saya suka film. Pada 2011-2012, versi baru YouTube diluncurkan. Saat itu, hanya sangat sedikit saluran di YouTube. Saya tidak puas dengan pekerjaan saya. Jadi saya meninggalkan pekerjaan dan mulai dengan YouTube,” sambung Shukla.
Kini, sekitar sepertiga penduduk desa menjadi content creator. Dan platform untuk mereka berkarya tidak hanya di YouTube, melainkan juga di TikTok atau Instagram.
Content creator termuda di Desa Tulsi berusia 15 tahun sedangkan yang paling tua adalah wanita lanjut usia (lansia) berumur 85 tahun.
Kini sudah ada 40 atau lebih saluran yang berbasis di Desa Tulsi. Tema yang diangkat saluran-saluran tersebut sangat beragam, mulai dari komedi, musik, hingga pendidikan.
Salah satu kanal paling populer dari Desa Tulsi memiliki lebih dari 100.000 pelanggan di YouTube.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
