10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol
8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli
5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
© MEN
Dream - Perusahaan Migas yang berkantor pusat di Belanda dan terdaftar di Inggris, Royal Dutch Shell plc, memutuskan untuk menarik seluruh bisnisnya di Rusia. Shell mengambil keputusan keras tersebut sebagai respons atas kebijakan Rusia menginvasi Ukraina.
Melansir CNN Business, Selasa, 1 Maret 2022, Shell memutuskan untuk keluar dari usaha patungannya dengan Gazprom, termasuk keterlibatannya dengan pipa gas alam Nord Stream 2 yang hampir mati.
Perusahaan minyak yang berbasis di Inggris itu mengatakan bahwa pihaknya akan melepas 27,5 persen sahamnya di fasilitas gas alam cair Sakhalin-2, 50 persen sahamnya dalam proyek untuk mengembangkan ladang Salym di Siberia barat dan 50 persen sahamnya dalam proyek eksplorasi di semenanjung Gydan di barat laut Siberia.
" Kami terkejut dengan hilangnya nyawa di Ukraina, yang kami sesalkan, akibat tindakan agresi militer yang tidak masuk akal yang mengancam keamanan Eropa," kata CEO Shell, Ben van Beurden dalam sebuah pernyataan.
Langkah Shell mengikuti pengumuman BP hari Minggu lalu yang memutuskan meninggalkan salah satu investasi asing terbesar di Rusia. Mereka melepas 19,75 persen sahamnya di Rosneft dan usaha patungan terkait.
Menurut para analis, BP mengalami kerugian lebih dari US$26 miliar atau setara dengan Rp372 triliun saat meninggalkan bisnisnya di negara tersebut.
" Keputusan kami untuk keluar adalah keputusan yang kami ambil dengan keyakinan," kata van Beurden.
Shell sendiri memperoleh sekitar US$700 juta pada tahun 2021 dari usaha patungan Sakhalin dan Salym. Proyeknya di Rusia bernilai sekitar US$3 miliar atau sekitar Rp40 triliun pada akhir tahun, dan perusahaan mengatakan mengabaikan proyek Gazprom mungkin akan menyebabkan penurunan nilai.
Perusahaan ini adalah salah satu dari lima yang menyediakan 50 persen dari pembiayaan dan jaminan senilai US$10,6 miliar untuk membangun pipa Nord Stream 2 Gazprom di bawah Laut Baltik antara Rusia dan Jerman.
Proyek itu secara efektif dihentikan minggu lalu ketika Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan negara itu akan menghentikan sertifikasi pipa.
Perusahaan energi Barat lainnya terus hadir di Rusia, termasuk ExxonMobil (XOM), yang telah aktif di sana selama lebih dari 25 tahun.
Anak perusahaannya, Exxon Neftegas Limited, memiliki 30 persen saham di Sakhalin-1, proyek minyak dan gas alam besar yang terletak di lepas Pulau Sakhalin di Timur Jauh Rusia.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli