7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi Al Quran Sebagai Pedoman Dan Petunjuk Umat Muslim (Foto: Stock.adobe.com/free)
Dream – Rasulullah Saw merupakan sosok yang pantas dan seharusnya dijadikan teladan dalam bersikap. Utusan Allah paling terakhir itu memiliki akhlak yang mulia. Hal ini dijelaskan dalam surat Al Imran ayat 159.
BACA JUGA : Ulil albab artinya serta ciri-cirinya
Surat ini berusaha mengajak umat muslim untuk memahami akhlak mulia Rasulullah Saw dalam menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Ayat ini berisi tentang cara seseorang dalam menyikapi masalah serta anjuran untuk berbuat baik kepada semua orang termasuk lawan.
Apabila sebagai muslim mampu memahami dan mengamalkan isi surat Al Imran ayat 159 ini dengan benar, maka kebaikan dan pahala akan ia dapatkan. Selain itu juga tercipta kebersamaan dan kedamaian antar manusia secara harmoni.
Di tengah krisis akhlak seperti sekarang ini, manusia mudah tersulut emosi yang menimbulkan perpecahan bahkan di kalangan umat muslim sendiri. Maka dari itu, belajar dari Surat Al Imran ayat 159 ini kita perlu memahami akhlak Rasulullah Saw dalam menyikapi permasalahan dengan kepala dingin dan musyawarah. Serta perintah untuk berbuat baik termasuk kepada orang yang berbeda pendapat. Supaya lebih jelas, mari kita pahami bersama tafsir surat Al Imran ayat 159 berikut ini.
Dikutip dari Bincang Syariah, berikut bacaan quran surat Al Imran ayat 159:

Fabimaa rohmatim minallohi linta lahum. Walau kunta fadhdhon gholiidhol qolbi lanfadldluu min haulik. Fa’fu ‘anhum wastaghfirlahum wasyaawirhum fil amr. Fa,idzaa azamta fatawakkal ‘alallooh. Innallooha yuhibbul mutawakkiliin.
Artinya:
Maka dengan rahmat Allah Swt kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alla. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Surat Al Imran ayat 159 turun dilatarbelakangi oleh peristiwa perang Uhud yang melibatkan kaum muslim di Madinah dan kaum kafir Quraisy. Pecahnya perang Uhud terjadi pada tahun 625 Masehi ini tidak luput dari kekalahan kaum Quraisy dalam Perang Badar satu tahun sebelumnya.

Sementara itu spirit kaum muslim untuk berperang melawan musuh masih berkobar. Namun tidak sedikit pula yang menghianati Rasulullah Saw saat Perang Uhud berlangsung. Sehingga kaum muslimin terpaksa dipukul mundur.
Sebab sebagian besar pasukan Islam meninggalkan Rasulullah Saw dalam kepungan musuh. Hanya tersisa beberapa sahabat yang masih setia melindungi Rasulullah Saw hingga akhirnya Al Imran ayat 159 diturunkan untuk menenangkan dan menghibur kesedihan Nabi Muhammad Saw.
Tak hanya itu saja, Surat Al Imran ayat 159 ini juga menyadarkan kepada kaum muslimin terhadap nikmat Allah Swt, karena telah mendapat sang utusan yang mulia akhlaknya yaitu Rasulullah Saw dengan sikap yang lemah lembut, pemaaf, tawakkal, dan pandai bermusyawarah.
Surat Al imran ayat 159 ini mengajarkan kepada manusia betapa luhurnya budi pekerti Rasulullah Saw terhadap umatnya. Bagaimana tidak, beliau Saw selalu bersikap lemah lembut kepada siapapun, baik yang mendukung maupun yang memusuhinya.
Rasulullah Saw selalu memaafkan dan meminta maaf serta mengajak umatnya untuk legowo dengan pendapat orang lain.
Wahbah Zuhaili menegaskan surat Al imran ayat 159 ini berbicara tentang konteks interaksi Nabi Saw dengan para sahabat yaitu dengan lemah lembut, memaafkan, bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah, dan menasihati supaya selalu berbuat baik.
“ Sebab kasih sayang dan petunjuk-Nya, Allah menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang hamba yang elegan dalam berinteraksi dengan sesama, menerima segala bentuk pendapat, bertutur secara santun dan ramah.”
Karena sikapnya yang begitu mulia, tak heran jika beliau menjadi seorang pemimpin yang sangat dipatuhi dan disegani tanpa paksaan dari umat-Nya. Rasulullah Saw merupakan pemimpin yang menganjurkan dan menjalankan anuran itu, serta pemimpin yang melarang sekaligus menjauhi larangan tersebut.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?