Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Survei Wealth-X, perusahaan periset kekayaan pengusaha dunia, menunjukkan bahwa crazy rich di Asia terus membuntuti kedermawanan para sultan di kawasan Amerika Utara dan Eropa.
Menurut survei tersebut, jika digabungkan, orang-orang tajir-melintir di Asia dengan kekayaan setidaknya US$30 juta --setara Rp431 miliar, menyumbangkan sekitar US$21,5 miliar --setara Rp309 triliun-- pada 2020.
Jumlah tersebut, sekitar 12 persen dari dana filantropi yang dikumpulkan orang-orang superkaya dunia. Jumlah dana yang disumbangkan crazy rich Asia itu jauh lebih rendah daripada dana filantropi yang disumbangkan oleh para sultan di Amerika Utara dan Eropa.
Pada tahun yang sama, orang-orang superkaya di Amerika Utara menggelontorkan US$90,5 miliar --setara Rp1.302 triliun untuk kegiatan filantropi, sementara para sultan Eropa menggerojokkan uang sebesar US$52 miliar --sekitar Rp748 triliun untuk kegiatan amal.
Data itu tentu memunculkan pertanyaan karena sebagian penduduk di Asia masih banyak yang masuk dalam golongan miskin, apalagi jumlah orang-orang superkaya di Asia 15 persen lebih banyak dari Eropa.
Survei Wealth-X juga memberi penjelasan kemungkinan penyebab crazy rich Asia 'lebih pelit' daripada kolega mereka di Amerika Utara dan Eropa. Salah satunya, kemungkinan adalah faktor sektor amal di Asia yang kurang berkembang.
" Sebagian karena faktor budaya dan peraturan, ruang lingkup sektor nirlaba kurang berkembang, meskipun sekarang berkembang cukup pesat," demikian bunyi laporan Wealth-X.
Faktor lain adalah usia para orang-orang superkaya di Asia. Laporan itu menyebut rata-rata usia crazy rich Asia jauh lebih muda.
" Gambaran lain adalah bahwa populasi orang-orang kaya di kawasan itu (Asia) secara substansial lebih muda daripada di Amerika Utara dan Eropa."
Laporan itu menambahkan, analisis sebelumnya menunjukkan bahwa secara tradisional, keterlibatan filantropi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Menurut data riset itu, usia rata-rata pendonor ultrakaya di Asia adalah 60,3 tahun, lebih muda dari Amerika Utara, 68 tahun, dan Eropa 63,9 tahun.
Survei itu juga menyebut bahwa pendidikan menjadi sektor penerima sumbangan paling banyak, sekitar 47,3 persen hingga 62 persen dari semua sumbangan di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.
" Di Asia, khususnya, filantropi yang ditujukan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan, standar pengajaran, dan kesempatan belajar jauh melebihi semua sektor lainnya," kata laporan itu.
Secara keseluruhan, kelas ultrakaya global diperkirakan telah memberikan total US$175 miliar --sekitar Rp2.518 triliun-- untuk kegiatan filantropi, jumlah yang " kira-kira setara dengan semua pengeluaran pemerintah federal AS untuk pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan sosial tahun itu."
Bila sesuai perkiraan jumlah orang ultrakaya di dunia sekitar 296.930 --atau hanya 1,1 persen populasi jutawan dunia, maka rata-rata sumbangan tiap crazy rich ini adalah US$590 ribu atau sekitar Rp8 miliar.
Survei Wealth-X juga menyebut bahwa total sumbangan orang kaya-raya tumbuh 4,1 persen setiap tahun. Peningkatan kedermawanan ini jauh lebih lambat daripada pertumbuhan kekayaan mereka.
Menurut Wealth-X, pada tahun 2021, kekayaan orang super kaya diperkirakan tumbuh sebesar 54 persen dari 2016 dan hampir dua kali lipat dari satu dekade lalu.
Namun, menurut laporan itu, peningkatan sumbangan orang-orang ultrakaya itu melebihi rekan-rekan mereka yang kurang mampu, serta lembaga dan yayasan publik.
Sumber: scmp.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya