Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Shutterstock.com
Dream - Setelah banyak perusahaan besar menutup bisnisnya di Rusia, kini giliran raksasa minyak Shell yang mengumumkan akan memutus kerja sama dengan Negeri beruang Merah itu. Dengan keputusan itu, perusahaan memproyeksi mengalami kerugian hingga US$ 5 miliar atau setara Rp71,7 triliun.
Dikutip dari BBC, Jumat 8 April 2022, Shell memiliki kerja sama dengan Rusia untuk membeli minyak murah dari negara itu. Namun, Shell mendapat tekanan untuk memutus kerja sama itu karena adanya invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina.
Sebelumnya, Shell mendapat kritik ketika membeli minyak mentah Rusia dengan harga murah tak lama setelah perang dimulai. Menanggapi kemarahan, perusahaan meminta maaf dan berjanji untuk berhenti membeli minyak dari Rusia.
Shell mengatakan akan menelan biaya antara US$ 4-5 miliar untuk memutuskan hubungan dengan Rusia. Meski akan memutuskan kerja sama, Shell menjelaskan tidak memutus kontrak yang telah diteken sebelum terjadinya perang.
" Shell tidak memperbarui kontrak jangka panjang untuk minyak Rusia, dan hanya akan melakukannya di bawah arahan pemerintah yang eksplisit, tetapi kami secara hukum berkewajiban untuk menerima pengiriman minyak mentah yang dibeli berdasarkan kontrak yang ditandatangani sebelum invasi," kata Shell.
Sebagai bagian dari rencana hengkangnya Shell dari Rusia, perusahaan akan melepas 27,5 persen saham di fasilitas gas alam cair Rusia, melepas 50 persen saham di proyek ladang minyak di Siberia, dan mengakhiri usaha patungan energi.
Ini juga akan mengakhiri keterlibatannya dalam pipa Nord Stream 2 antara Rusia dan Jerman, yang telah ditunda oleh para menteri di Berlin.
Saat ini, harga minyak melonjak. Hal itu disebabkan karena perang Rusia dan Ukraina. Rusia merupakan salah satu eksportir minyak mentah terbesar di dunia dan kekhawatiran pasokan akan terganggu karena konflik.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya