Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto : Edition.cnn.com
Dream - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan program akselerator akses peralatan Covid-19 (ACT-Accelerator) yang diluncurkan April lalu, membutuhkan setidaknya Rp524 triliun untuk mengatasi pandemi virus corona di dunia.
Sementara, jika dalam tiga bulan ke depan Akselerator ACT WHO tidak mendapat suntikan dana, setidaknya sebanyak Rp224 Triliun, mereka mengklaim akan kehilangan peluang untuk menuntaskan kasus Covid-19 di dunia.
Menurut laman Daily Star, kabar tersebut muncul setelah pertemuan perdana Program Akselerator ACT WHO. Program ini merupakan kolaborasi global yang bertujuan untuk mempercepat pengembangan, produksi, dan tes, perawatan, dan vaksin Covid-19.
Program ini dibentuk pada 24 April oleh WHO dengan Komisi Eropa, Prancis, serta Bill & Melinda Gates Foundation dan didukung oleh Sekretaris Jenderal PBB serta beberapa Kepala Pemerintahan.

Setidaknya 170 negara terlibat dalam penelitian Vaksin Covid-19 yang baru, dengan 10 kandidat vaksin sedang dievaluasi, sembilan di antaranya dalam uji klinis.
Program ini dinilai akan meningkatkan peluang keberhasilan untuk semua negara. Dalam program ini WHO mendesak negara-negara untuk menyumbangkan sumber daya mereka guna mempercepat produk yang dapat membantu membendung pandemi Covid-19.
Sayangnya, biaya untuk merealisasikan program itu masih jauh dari kata cukup. Menurut Ghebreyesus, mereka memerlukan setidaknya sebanyak Rp524 Triliun untuk mewujudkan program itu. Dari dana tersebut akan digunakan untuk memproduksi 2 miliar vaksin, 245 juta perawatan, dan 500 juta tes.
" Akselerator ACT adalah cara terbaik untuk memastikan akses yang adil terhadap vaksin, diagnostik dan terapeutik, tetapi saat ini menghadapi kesenjangan pembiayaan sebesar Rp524 triliun. Membiayai program ini akan mempersingkat pandemic. Kita dapat membayar kembali investasi ini dengan cepat saat ekonomi global pulih," ujar Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan jika dalam jangkap 3 bulan mereka tidak bisa mendapatkan suntikan dana sekiranya Rp224 Triliun, kemungkinan besar mereka akan kehilangan peluang untuk menyelesaikan kasus covid-19.
" Kami sekarang membutuhkan Rp524 Triliun lagi untuk mulai dari persiapan. Ada urgensi nyata dalam angka-angka ini. Tanpa suntikan Rp224 Triliun selama tiga bulan ke depan, kami akan kehilangan peluang," ujar Antonio Guterres.

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, sepakat dengan pendapat tersebut. Menurutnya program ini sangat penting bagi seluruh negara-negara di dunia. Sebab program ini akan menyelesaikan kasus-kasus covid-19 di semua negara, tak hanya negara yang memiliki sumber daya yang memadai.
" Perlu diingat jika vaksin ini dikembangkan, semua negara, termasuk benua saya sendiri, Afrika, akan mendapat manfaat dan tidak ketinggalan," ujar Cyril Ramaphosa.
" Vaksin akan menjadi barang publik yang memberi manfaat bagi semua. Kami tidak dapat mencapai ‘Cakupan Kesehatan Universal’ ketika vaksin Covid-19 hanya tersedia di negara-negara dengan sumber daya yang baik," tutupnya.
Sumber : Daily Star
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya