Hancur Motor Karena Tilang, Ini Kata Psikiater Soal Amarah Memuncak

Reporter :
Jumat, 8 Februari 2019 13:30
Hancur Motor Karena Tilang, Ini Kata Psikiater Soal Amarah Memuncak
Kadang, amarah yang muncul tampak sangat besar dan 'mengerikan'.

Dream - Sedang ramai pemberitaan seorang pemuda yang mengamuk setelah terkena tilang di kawasan BSD, Tangerang. Dalam video yang beredar, sang pria yang diketahui bernama Adi Saputra itu menghancurkan motor yang dikendarainya.

Tindakan merusak motor dilakukan Adi karena tak terima mendapat tilang dari polisi. Padahal saat itu ia tidak memakai helm, membawa SIM, serta STNK. Ia merusak motor, membantingnya berkali-kali, hingga menyuruh polisi untuk membakarnya.

Amarah yang muncul tampak sangat 'mengerikan'. Terkait hal ini, dr. Jiemi Ardian, seorang residen psikiater memberikan penjelasan. Menurutnya, memang mudah melampiaskan amarah yang begitu besar. Tetapi keadaan setelahnya justru tidak membaik, malah semakin rumit.

" Amarahmu tidak perlu sampai mengendalikan hidupmu. Jangan sampai amarahmu merusak apa yang sudah ada dalam hidupmu," tulis dr. Jiemi di akun Twitterya.

Kemarahan, menurut sang dokter, bisa jadi merupakan emosi utama atau dorongan untuk mendapat keadilan. Bisa juga karena emosi sekunder.

" Misalnya si mas mas (Adi Saputra) ini sebenarnya malu/takut/tau dia salah tapi ditutupi oleh kemarahannya," ungkap dr Jiemi.

1 dari 1 halaman

Masih Banyak Pilihan Saat Marah

Jangan langsung beranggapan marah harus dilampiaskan segara. Baik itu dengan berteriak, merusak barang atau mencaci maki orang-orang di sekitar. Padahal, saat marah kita punya banyak pilihan.

" Saat marah memuncak, seakan kita tidak punya pilihan. Seakan semua harus dilampiaskan Kenyataannya, kita punya pilihan, yang tidak mudah tapi lebih indahBelajar menyadari emosi, memberi jeda antara emosi dan perilaku. Dan mengizinkan emosi mereda dalam kesadaran," tulis dr. Jiemi.

Ia pun memberikan tips untuk mengontrol emosi. Bukan untuk mengendalikan marah, tapi mengizinkan amarah mereda dalam kesadaran, yaitu dengan TUAS (Tunda, Undur, Amati dan Sadari).

Awalnya, bisa dengan menunda untuk melampiaskan amarah, karena pikiran sedang dipenuhi emosi. Bisa juga mundur dari situasi yang memicu amarah atau mengamati lingkungan sekitar. Terakhirnya, berusaha menyadari sudut pandang orang lain dalam situasi tersebut agar lebih memahami keadaan.

Beri Komentar
Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary_mark