Apa Itu Autisme? Kenali Gejala, Penyebab dan Cara Mengobatinya

Reporter : Arini Saadah
Rabu, 27 Mei 2020 15:47
Apa Itu Autisme? Kenali Gejala, Penyebab dan Cara Mengobatinya
Gangguan autisme tidak hanya menyerang anak-anak, akan tetapi juga mempengaruhi orang dewasa juga.

Dream – Perilaku anak-anak yang kreatif dan penuh rasa ingin tahu yang tinggi adalah kondisi wajar di usia mereka yang masih dini. Selama masa keemasannya, sikap dan kebiasaan anak setiap harinya menjadi perhatian orang tua. Namun di saat sang buah hati memiliki kebiasaan yang berbeda dari kebanyakan anak, akan memunculkan kekhawatiran pada diri orang tua.

Jika kebiasaan sehari-hari buah hati sudah menunjukkan ketidakwajaran seperti anak pada umumnya, orang tua perlu melakukan konsultasi dengan psikolog atau dokter. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui gangguan yang dialami oleh sang buah hati. Gangguan ini disebut dengan autisme.

Sahabat Dream, kali ini kita akan membahas tentang autisme, bagaimana mengenali gejalanya, penyebab dan cara mengobatinya. Sebenarnya, gangguan autisme tidak hanya menyerang anak-anak, akan tetapi juga mempengaruhi orang dewasa juga. Melansir dari Healthline, berikut ulasan tentang apa itu autisme, kenali gejala, penyebab dan pengobatan autisme.

1 dari 7 halaman

Apa itu autisme?

Autism Spectrum Disorder (ASD) atau dikenal dengan gangguan autisme adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok gangguan saraf. Biasanya gangguan autisme ditandai dengan masalah komunikasi dan interaksi sosial. Gejala autisme bisa ditunjukkan dengan minat atau pola perilaku seseorang yang terbatas, berulang, dan stereotip.

Autisme bisa dialami oleh banyak orang di seluruh dunia terlepas dari budaya, ras, dan latar belakang ekonomi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control), menyebut autisme memang lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan, dengan perbandingan rasio 4 banding 1.

CDC memperkirakan pada tahun 2014 bahwa hampir 1 dari 59 anak telah teridentifikasi terkena gangguan autisme. CDC menyebut indikasi gangguan autisme ini semakin meningkat karena faktor lingkungan. Akan tetapi para ahli memperdebatkan terkait peningkatan kasus diagnosis.

2 dari 7 halaman

Gangguan Autisme dan Jenis-jenisnya

 Ilustrasi© Pixabay

Diagnostic Statistic Manual yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA) digunakan sebagai acuan dokter untuk melakukan diagnosis berbagai gangguan kejiwaan. Penelitian DSM yang terbit tahun 2013 lalu mengakui lima jenis gangguan autisme.

  • Pertama, orang dengan atau tanpa gangguan intelektual yang menyertainya.
  • Kedua, orang dengan atau tanpa gangguan Bahasa yang menyertainya.
  • Ketiga, terkait dengan kondisi medis atau genetik yang diketahui atau faktor lingkungan.
  • Keempat, terkait dengan gangguan perkembangan saraf, mental, atau perilaku lainnya.
  • Kelima, orang dengan katatonia.

Seseorang dapat didiagnosis dengan satu atau lebih jenis penentu. Spektrum autisme ini sebelumnya juga mungkin telah didiagnosis dengan salah satu gangguan di bawah ini:

  • Pertama, gangguan autistik.
  • Kedua, sindrom Asperger.
  • Ketiga, gangguan perkembangan pervasive yang tidak dinyatakan secara spesifik.
  • Keempat, gangguan disintegrasi masa kecil.

Perlu diketahui, seseorang yang menerima salah satu dari diagnosis di atas tidak perlu dievaluasi kembali. Akan tetapi, umumnya gangguan yang paling umum menyerang adalah seperti sindrom Asperger.

3 dari 7 halaman

Dua Kategori Gejala Autisme yang Perlu Kamu Ketahui

Gejala autisme sangat jelas terlihat saat seseorang masih berusia dini, yaitu antara 12 bulan hingga 24 bulan. Gejala autisme ini bisa muncul lebih awal atau lebih lambat dari perkiraan tersebut. Gejala awal termasuk keterlambatan yang ditandai dalam perkembangan Bahasa atau interaksi sosial.

DSM membagi autisme menjadi dua kategori berikut ini:

Kategori Pertama, masalah dengan komunikasi dan interaksi sosial. Gejala ini muncul ditandai dengan:

  1. Masalah dengan komunikasi, termasuk kesulitan berbagi emosi, berbagi minat, atau mempertahankan percakapan bolak-balik.
  2. Kemudian ditandai dengan komunikasi non-verbal, seperti kesulitan mempertahankan kontak mata atau membaca Bahasa tubuh.
  3. Terakhir ditandai dengan kesulitan mengembangkan dan mempertahankan hubungan.

Kategori Kedua, gejala autisme yang ditandai dengan pola perilaku atau kegiatan yang terbatas atau berulang seperti:

  1. gerakan yang berulang, atau pola bicara yang berulang.
  2. Kemudian gejala dengan kepatuhan terhadap rutinitas atau perilaku tertentu.
  3. Selain itu juga ditunjukkan dengan peningkatan atau penurunan kepekaan terhadap informasi sensorik yang lebih spesifik di dalam lingkungan, yaitu seperti reaksi negative terhadap suara tertentu.
  4. Minat atau hobi yang terpusat.

Gejala ini dapat diketahui dengan melakukan analisis terhadap individu yang mengalami gejala dari dua kategori di atas, dan juga dicatat tingkat keparahan dari gejala tersebut.

Untuk dapat dikatakan terkena gangguan autis, seseorang harus menampilkan ketiga gejala dalam kategori pertama, dan setidaknya dua gejala dalam kategori kedua.

4 dari 7 halaman

Penyebab Gangguan Autisme yang Perlu Dikenali

 Ilustrasi© Pixabay

Para ahli belum mengetahui penyebab pasti dari gangguan autisme. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sangat banyak penyebab dari gangguan autisme ini. beberapa faktor risiko yang diduga dapat menjadi penyebab gangguan autisme adalah:

  • Memiliki anggota keluarga dengan autisme.
  • Mutase genetic sindrom X rapuh dan gangguan genetic lainnya.
  • Dilahirkan dari orang tua yang berusia tua.
  • Lahir dengan berat badan yang rendah.
  • Ketidakseimbangan metabolisme tubuh.
  • Terkena paparan logam berat dan racun lingkungan.
  • Memiliki riwayat infeksi virus.
  • Paparan janin terhadap obat asam valproate atau thalidomine.

Berdasarkan penelitian dari National Institute of Neurological Disorder and Stroke, penyebab genetika dan lingkungan dapat menentukan seseorang berpotensi terkena gangguan autisme. Namun, banyak sumber penelitian yang menyimpulkan bahwa gangguan autisme bukan disebabkan oleh vaksin.

Sebuah penelitian yang terbit tahun 1998 telah mengusulkan hubungan antara autisme dan vaksin campak, gondong, dan rubella. Tetapi, penelitian tersbeut dibantah oleh penelitian lain pada tahun 2010.

5 dari 7 halaman

Beragam Pengobatan Autisme yang Bisa Dilakukan

Seperti tidak ada penyebab pasti dari gangguan autisme, begitupula tidak ada obat untuk gangguan autisme. Namun terapi dan perawatan dapat menjadi pertimbangan untuk membantu seseorang mengurangi gejala gangguan autisme.

Pengobatan autisme yang bisa dilakukan secara terapi:

  • Terapi perilaku.
  • Terapi bermain.
  • Pekerjaan yang berhubungan dengan terapi.
  • Terapi fisik.
  • Terapi berbicara.

Selain terapi di atas, kamu juga bisa melakukan terapi dengan cara memijat dan meditasi, terapi ini bisa membantu relaksasi. Hasil dari pengobatan secara terapi ini akan menghasilkan efek yang bervariasi.

Pengobatan Autisme dengan Perawatan Alternatif.

Perawatan alternatif dapat juga dilakukan untuk mengatasi gejala gangguan autisme, meliputi:

  • Vitamin dengan dosis tinggi.
  • Terapi khelasi yang melibatkan pembilasan logam dari tubuh.
  • Terapi oksigen hiperbarik melatonin untuk mengatasi masalah tidur.

Penelitian menunjukkan perpaduan dari beberapa pengobatan alternatif di atas dapat membahayakan mental pengidap gangguan autisme. Sebelum melakukan pengobatan di atas, orang tua dan keluarga perlu mempertimbangkan dan mengkonsultasikan kepada ahlinya.

6 dari 7 halaman

Gangguan Autisme yang Menyerang Orang Dewasa

Tidak hanya menyerang anak-anak, gangguan autisme ini juga mneyerang orang dewasa. Bagaimana autisme mempengaruhi orang dewasa? Berikut ulasannya.

Keluarga dan orang tua yang memiliki anak atau anggota keluarga yang memiliki gangguan autisme, mungkin dibebani dengan perasaan khawatir bagaimana kehidupan pengidap autisme pada orang dewasa.

Sebagian kecil orang dewasa yang mengidap gangguan autisme dapat melanjutkan hidup dan bekerja secara mandiri. Namun, banyak orang dewasa dengan gangguan autisme memerlukan bantuan yang berkelanjutan dari orang lain.

Orang dewasa yang mengidap autisme perlu dikenalkan dengan terapi dan perawatan untuk membantu mereka hidup secara mandiri dan meningkatkan kualitas hidup mereka yang lebih baik. Sehingga kamu perlu menyadari gejalanya supaya autisme yang menyerang orang dewasa ini tidak terlambat untuk ditangani.

7 dari 7 halaman

Gangguan Autisme dengan ADHD Itu Beda, Berikut Penjelasannya!

 Ilustrasi© Pixabay

Melansir dari Halodoc, ADHD atau attention-deficit hyperactivity disorder merupakan gangguan jangka Panjang yang menyerang anak-anak, ditandai dengan perilaku impulsive, hiperaktif, dan kurangnya konsentrasi.

Orang seringkali dibuat bingung dengan gejala autisme dengan ADHD. Anak yang terdiagnosis ADHD secara konsisten memiliki masalah seperti gelisah, gangguan konsentrasi, dan masalah kontak mata dengan orang lain.

Meskipun ada kemiripan, ADHD tidak dianggap sebagai gangguan mental. Satu perbedaan yang paling utama dari keduanya adalah bahwa orang dengan ADHD cenderung tidak memiliki keterampilan sosial-komunikatif.

Sehingga, jika Sahabat Dream menemukan gejala hiperaktif pada sang buah hati, konsultasikan ke dokter segera untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan pengobatan yang sesuai. Kemungkinan, seseorang bisa mengidap gangguan autisme sekaligus ADHD.

Itulah pengertian autisme, gejala, penyebab dan pengobatan autisme yang perlu kamu ketahui. Semoga artikel Dream kali ini bisa bermanfaat untuk kamu. Karena sekecil apapun gangguan akan bisa mengganggu kondisi kejiwaan dan juga berpengaruh pada kehidupan seseorang. Orang tua dan keluarga sudah selayaknya memberikan perhatian kepada anggota keluarganya, supaya orang dengan gangguan autisme bisa segera diatasi dan mendapatkan pengobatan alternatif.

Beri Komentar