Fakta Penyakit Rubella yang Jarang Kita Tahu

Reporter : Siwi Nur Wakhidah
Senin, 12 Agustus 2019 13:13
Fakta Penyakit Rubella yang Jarang Kita Tahu
Kulit merah gatal seperti campak? Bisa jadi gejala penyakit rubella!

Dream - Penyakit campak mungkin sudah banyak yang tahu, namun penyakit rubella masih menjadi penyakit yang jarang diketahui orang.

Penyakit campak dan rubella memiliki banyak kemiripan, sama-sama disebabkan oleh virus dan menular.

Penyakit rubella lebih dikenal dengan penyakit campak Jerman atau German Measles. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus yang membuat ruam muncul di sekujur tubuh.

Hampir sama dengan campak pada umumnya, penderita penyakit rubella juga akan mengalami demam dan mengalami pembengkakan kelenjar getah bening.

Penyakit rubella juga dapat dengan mudah menular. Penularan penyakit ini bisa dengan kontak langsung dengan orang yang menderita, atau terkena tetesan dari bersin orang yang menderita rubella.

Berbagi makanan dan minuman juga dapat menyebabkan penyakit rubella menular. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai penyakit rubella, Sahabat Dream bisa menyimak penjelasan berikut ini:

1 dari 4 halaman

Gejala Penyakit Rubella

 Penyakit Rubella

Gejala penyakit rubella sering kali dianggap remeh karena gejalanya ringan dan sulit untuk diketahui.

Begitu gejala ini muncul, maka akan bertahan sekitar dua hingga tiga minggu setelah terpapar virus pertama kali. Pada minggu pertama gejala yang nampak berupa:


-    Ruam merah muda, yang muncul di wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
-    Demam ringan di bawah suhu 102 derajat Fahrenheit.
-    Kelenjar getah bening yang membengkak dan menjadi lunak.
-    Keluar ingus dan hidung tersumbat.
-    Sakit kepala.
-    Nyeri otot, dan.
-    Mata merah.

Walau gejala-gejala tersebut nampak remeh, akan lebih baik untuk tetap menghubungi dokter dan melakukan pemeriksaan.

Selain gejala tersebut, ada beberapa kasus rubella juga dapat menyebabkan infeksi telinga dan pembengkakan otak.

2 dari 4 halaman

Penyebab Penyakit Rubella

 Penyakit Rubella

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, penyakit rubella disebabkan oleh infeksi virus yang menyebar melalui udara dan kontak langsung dengan penderita.

Virus ini tidak hanya bisa menyebar begitu saja, penyebaran virus ini juga bisa melalui tetesan cairan dari penderita.

Tetesan cairan berupa ingus, keringat, batuk dan lain sebagainya dapat menyebabkan orang lalin tertular.

Sama seperti penderita campak pada umumnya, penderita penyakit rubella juga harus mendapatkan perawatan khusus supaya tidak menulari orang lain.

Apabila gejala penyakit rubella dibiarkan begitu saja, atau telat disadari, virus penyakit ini sudah bisa menulari orang lain. Oleh sebab itu, penyakit rubella harus segera ditangani dengan baik begitu gejala pertama muncul.

3 dari 4 halaman

Risiko Penyakit Rubella

 Penyakit Rubella

Penyakit rubella bisa menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga ibu hamil.

Di kawasan yang rawan penyakit rubella, biasanya sudah ada penanganan untuk mengantisipasi penularan penyakit ini, yaitu dengan vaksin.

Vaksin untuk penyakit rubella sudah bisa diberikan kepada anak sejak usia 12 hingga 15 bulan, dan vaksin akan diberikan lagi ketika berusia 4 dan 6 tahun. Dan, untuk bayi yang belum menerima vaksin ini, risiko terkena penyakit rubella menjadi lebih tinggi.

Tidak hanya anak-anak yang berisiko terkena rubella, ibu hamil yang yang menderita rubella akan mengalami komplikasi dan ada kemungkinan untuk menularkan rubella pada bayi yang sedang dikandungnya. 

Parahnya lagi, sindrom rubella akan menjadi penyakit bawaan pada bayi bahkan bisa mengakibatkan keguguran.

Bagi ibu hamil yang memiliki riwayat rubella sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan kekebalan tubuh terlebih dahulu untuk mengurangi risiko komplikasi dan risiko terburuk lainnya.

4 dari 4 halaman

Cara Mengatasi dan Merawat Penyakit Rubella

 Penyakit Rubella

Karena kemiripan penyakit campak biasa dengan penyakit rubella, membuat keduanya sulit dibedakan.

Sehingga untuk mendapat diagnosa yang tepat, dokter akan menyarankan untuk melakukan tes darah dan mengetahui jenis antibodi rubella yang ada di dalam darah.

Setelah dokter mendiagnosa pasien dengan rubella, maka dokter akan menyarankan pada pasien untuk rawat inap dan memberikan resep berupa Tylenol yang dapat meredakan rasa tidak nyaman akibat demam dan nyeri.

Dokter juga akan menyarankan untuk mengisolasi pasien sementara waktu untuk menghindari penularan.

Sedangkan perawatan untuk ibu hamil yang menderita penyakit rubella, akan disarankan untuk menerima suntikan atau obat antibodi dlobulin hiperimun untuk melawan virus penyebab rubella.

Namun, dengan mendapatkan antibodi, risiko bayi yang ada dalam kandungan untuk tertular tidak dapat dielakkan.

Vaksinasi menjadi satu-satunya cara untuk mengatasi penyakit rubella yang aman dan bisa diterima oleh siapa saja.

(ism, Sumber: Healthline)

Beri Komentar
Belajar Jadi Orangtua yang Lebih Baik di Fimelahood #MindfulParenting