Fakta Pilu Dokter yang Cuma Bisa Lihat Anaknya dari Pagar

Reporter : Mutia Nugraheni
Selasa, 24 Maret 2020 08:48
Fakta Pilu Dokter yang Cuma Bisa Lihat Anaknya dari Pagar
Setelah selesai bertugas, mereka pun tak bisa langsung ke rumah. Harus mengisolasi diri karena berisiko tinggi sebagai carrier (pembawa virus).

Dream - Profesi dokter saat ini jadi yang paling rentan dengan paparan Covid-19. Mereka harus berhadapan langsung dengan pasien positif corona yang membludak, alat kesehatan yang sangat kurang serta berpacu dengan waktu.

Setelah selesai bertugas, mereka pun tak bisa langsung ke rumah. Harus mengisolasi diri karena berisiko tinggi sebagai carrier (pembawa virus). Seperti yang dialami salah seorang dokter di Malaysia.

Sehari-hari ia berkutat dengan pasien Covid-19. Kerinduan dengan keluarganya tak terbendung. Ia hanya bisa melihat dari pagar luar, karena tak boleh dekat dengan anak-anaknya.

Menggunakan masker dengan jarak yang cukup jauh, sang dokter hanya bisa memandang anak kesayangannya. Foto tersebut diunggah oleh akun Facebook Ahmad Effendy Zailanudin.

Unggahan Ahmad Effendi© Facebook

" Buat rakan2 FB, tolong lah. Ikut apa arahan yang dikeluarkan. Fikirkanlah perasaan orang lain. Kita Bersyukur sebab boleh duduk dengan keluarga di rumah. Main dengan anak2. Tapi mereka terpaksa berkorban. Dedahkan diri mereka kepada risiko. Hanya untuk pastikan semua yang suspected atau positive menerima rawatan yang sepatutnya," tulis Ahmad

Sepupu Ahmad merupakan dokter yang tak bisa pulang ke rumah. Ia memotret momen memilukan tersebut dan mengunggahnya di Facebook dan kemudian viral. Banyak warganet yang trenyuh melihat foto sepupu Ahmad tersebut.

 

 

1 dari 6 halaman

Curhat Dokter Handoko Gunawan: Situasinya Buruk, Perlu Terobosan

Dream - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengunggah video percakapan teleponnya dengan dr Handoko Gunawan, Jumat, 20 Maret 2020.

Sosok Handoko menjadi buah bibir warganet karena di masa pensiunnya, spesialis paru-paru ini menjadi relawan dan ikut terjun menangani pasien wabah virus corona.

© Dream

" Cucunya memanggil engkong Handoko, seorang dokter yang mendedikasikan diri untuk kemanusiaan. Beberapa menit lalu jam 22.31 saya ngobrol sama beliau," tulis Ganjar, diakses Sabtu,21 Maret 2020.

Dalam pembicaraan yang berlangsung, Handoko mengaku sedang menjalani karantina. Dia mengakui kondisi wabah virus corona ini semakin buruk.

Ganjar: Bagaimana kondisi bapak?

Handoko Gunawan: Saya lagi di rumah sakit Persahabatan

Ganjar: Kondisinya gimana hari ini?

Handoko: Sudah sehat sih tapi capek luar biasa

Ganjar: Tapi ini ganggu gak?

Handoko: oh enggak. Saya beberapa hari di karantina oleh temen-tema  dokter paru saya. Memang situasinya buruk sekali. Mesti ada terobosan. Kalau begini terus kita enggak tahu kedepannya.

Handoko lalu mengatakan, tanpa adanya terobosan maksimal korban akan terus berjatuhan. " Kalau begini terus kita enggak tahu misal yang bersentuhan di pasar itu PDP atau ODP," ucap dia.

Kata Handoko, sosok pejabat publik seperti Ganjar harus waspada dengan penyebaran wabah ini. Sebab, Handoko tahu, sosok pejabat publik tidak boleh menolak bersalaman dengan warganya.

" Terutama untuk Pak Ganjar, bersentuhan terus dengan orang yang enggak boleh dipilih," ucap Handoko.

Mendengar masukan itu, Ganjar berterima kasih. Dia mengaku, menelepon Handoko karena dedikasinya untuk menolong orang di saat kondisi semacam ini.

" Bapak menginspirasi kami anak muda luar biasa," kata.

2 dari 6 halaman

Ini Videonya:

      Lihat postingan ini di Instagram

Cucunya memanggil engkong Handoko, seorang dokter yg mendedikasikan diri utk kemanusiaan. Bbrp menit lalu jam 22.31 saya ngobrol sama beliau.. begini pesan beliau.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ganjar Pranowo (@ganjar_pranowo) pada

3 dari 6 halaman

Pengabdian Dokter Handoko di Garda Depan Melawan Covid-19

Dream - Tim medis berada di garda terdepan untuk penanganan virus corona (Covid-19) di Indonesia. Sebuah cerita mengharukan viral di media sosial. Seorang dokter spesialis paru yang berumur 80 tahun, siap 'perang'.

Sang dokter sudah mengenakan pakaian alat pelindungan diri (APD) atau hazmat. Dokter itu diketahui bernama Handoko Gunawan, seorang spesialis paru yang bekerja di RS Grha Kedoya, Jakarta Barat. 

Ia termasuk dalam jajaran dokter yang langsung menangani pasien Corona. Padahal dokter Handoko Gunawan merupakan dokter senior yang telah berusia 80 tahun.

Berawal dari unggahan di Facebook milik Noviana Kusumawardhani dan Hengky yang membagikan potret dokter Handoko, yang tetap berjuang merawat pasien terinfeksi corona, meski sudah dilarang pihak keluarga.

4 dari 6 halaman

Kerja Hingga Jam 3 Pagi

Dikutip dari status dari Facebook Noviana Kusumawardhani, Novia menuliskan jika dokter Handoko merupakan dokter ahli paru di RS Grha Kedoya, yang sudah berusia sekitar 80 tahun. Beliau bekerja merawat pasien hingga jam 3 pagi.

Postingan itu juga menampilkan foto dokter Handoko Gunawan yang menggunakan baju anti kontaminasi lengkap dengan masker dan sepatu.

Upaya pemerintah untuk melawan Corona memang tak lepas dari kerja keras tim medis.

Akun Facebook Hengky juga menuliskan jika dokter Handoko merupakan sosok pengabdi kemanusiaan yang luar biasa.

Beragam komentar pun ditulis oleh netizen di laman Facebook tersebut.

" Semoga dr Handoko sehat selalu dan diberikan panjang umur. Semangat....."  tulis salah satu netizen.

" Semoga pak dokter djaga tuhan , selalu sehat dan panjang umur.. GBU pak dokter yg baik hati," timpal lainnya.

" ikut mendoakan utk semua dokter dan petugas RS dimanapun"  imbuh lainnya.

Laporan Loudia Mahartika/ Sumber: Liputan6.com

5 dari 6 halaman

Tertular Covid-19, Dokter Bedah Senior Meninggal Dunia

Dream - Korban meninggal dunia akibat virus Covid-19 di Indonesia terus berjatuhan. Termasuk dari kalangan medis. Para dokter, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya, jadi pihak yang paling berisiko tertular.

Kabar duka baru saja datang dari dunia kedokteran Indonesia. Djoko Judodjoko, seorang spesialis bedah, meninggal dunia karena terinfeksi Covid-19. Kabar menyedihkan ini disampaikan dokter Pandu Riono lewat akun Twitter pribadinya.

 

Dokter Djoko Judodjoko meninggal diduga akibat terinfeksi Corona Covid-19. Beliau terinfeksi virus tersebut karena minimnya alat medis di rumah sakit tempatnya bertugas. Ia disebut tertular Corona Covid-19 saat memberikan layanan kepada pasien yang terpapar virus itu. Seperti diketahui Corona Covid-19 sedang mewabah di Tanah Air

 

6 dari 6 halaman

Riwayat Dokter Djoko Judodjoko

Berdasarkan data riwayat kedokteran, Dokter Djoko telah menimba segudang ilmu kedokteran di berbagai universitas ternama di Indonesia dan dunia.

Berikut riwayatnya:

Tahun 1976: Dokter Umum Fakultas kedokteran, Universitas Indonesia.

Tahun 1984: Microsurgey of the Cerebro Vascular Disease, The Fujita Health University, Japan.

Tahun 1985: Microsurgery of the Skull Base Tumor, di The Nordstadt Krankenhaous Hannover.

Tahun 1986:Dokter Spesialis Bedah Saraf, Universitas Padjajaran.

Tahun 1992: Posterior Spinal Fusion Surgery training, di Royal Perth Rehabilitation Center.

Tahun 1995: Stereotactic Functional Neurosurgery training, di Gunma University, Japan.

Tahun 1995: Microsurgery of the Cerebral Aneurysm training, di The Research Institute for the Brain and Blood Vessel, Akita, Japan.

Tahun 2002: Endoscopic Spine Surgery training, di University of Bordeaux, Perancis.

Tahun 2002: Spine Surgery and Instrumentation training, di St. Louis University, Missouri USA.

Tahun 2003: Endoscopic Spine Surgery training, di Allegheny General Hospital, Pittsburgh, USA.

Tahun 2003: Spine Surgery and Instrumentation training, di Uniformed Service University for the health sciences, US Navy, Bethesda USA.

Tahun 2005: Spine Surgery and Instrumentation training, di The Cleveland Clinic Foundation, USA


Laporan Bogi Triyadi/ Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar