Heboh Obat Antibodi Herbal Prof. Hadi Pranoto, Bisa Sembuhkan Covid-19?

Reporter : Annisa Mutiara Asharini
Minggu, 2 Agustus 2020 14:16
Heboh Obat Antibodi Herbal Prof. Hadi Pranoto, Bisa Sembuhkan Covid-19?
Profesor Hadi Pranoto mengaku telah menemukan antibodi untuk virus corona.

Dream - Profesor Hadi Pranoto mengaku telah menemukan obat antibodi Covid-19 yang diklaim dapat menyembuhkan ribuan pasien Covid-19. Hal itu disampaikan Hadi dalam tayangan YouTube Anji.

Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid-19 itu menjelaskan antibodi tersebut dibuat dari cairan dengan hasil akhir berupa cairan.

" Herbal ini dapat menyembuhkan dan juga mencegah. Kalau vaksin itu kan disuntik, kalau ini diminum berupa cairan. Di dalam cairan itu tergantung berapa kandungannya yang bisa membunuh Covid-19," ujar Hadi.

 Hadi Pranoto© Foto: YouTube dunia MANJI

Hadi menuturkan, antibodi bekerja sebagai pertahanan tubuh dari segala macam virus dan bakteri. Ia juga menyebutkan antibodi tersebut

" Antibodi adalah bentuk piranti keamanan tubuh kita. Kalau ada virus masuk itu akan dimatikan oleh antibodi. Bahan bakunya itu semua ada di Indonesia," tuturnya.

1 dari 4 halaman

Punya Efek Lebih Muda

Hadi juga mengaku telah mengirim cairan herbal antibodi tersebut ke berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk ke Wisma Atlet Kemayoran yang menjadi rumah sakit darurat pasien Covid-19.

" Herbal kita sudah terbukti banyak yang positif sembuh. Mereka yang menjelang terinfeksi juga sudah sembuh. Ada yang merasa jadi muda kembali," kata Hadi.

Tak hanya di Indonesia, tiga profesor di Inggris juga menjadi sorotan usai menemukan 'terobosan besar' terkait vaksin Covid-19. Mereka adalah Mereka adalah Ratko Djukanovic, Stephen Holgate, dan Donna Davies.

Dilansir oleh Liputan6.com, mereka menemukan formula khusus obat interferon SNG001 yang dapat mengalahkan serangan flu yang berat.

2 dari 4 halaman

Efektifitas Antibodi Herbal

Selain itu, sederet bahan herbal yang juga diklaim mampu membasmi Covid-19 juga banyak dibicarakan publik. Seperti kalung eucalyptus, daun manuru, jeruk nipis dan daun sungkai.

Namun belakangan ini Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengklarifikasi bahwa kalung eucalyptus tidak dapat diklaim sebagai bahan antivirus.

" Jamu biasanya hanya membutuhkan hasil lab dan uji klinis. Kami sudah teregistrasi (eucalyptus) di BPOM itu jamu, tentunya kan sudah melalui proses, tidak melanggar aturan di Indonesia. Jadi melegakan pernapasan, tidak ada klaim antivirus di situ," tutur Syahrul, dilansir dari Liputan6.com.

3 dari 4 halaman

WHO: Pandemi Corona Berdampak Puluhan Tahun

Dream - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut pandemi corona sebagai bencana global yang berdampak lama. Krisis ini diprediksi akan terasa hingga puluhan tahun ke depan.

" Pandemi ini merupakan krisis kesehatan sekali dalam seabad, yang dampaknya bakal terasa hingga puluhan tahun ke depan," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO, Reuters melaporkan, dikutip dari Liputan6.com, Minggu 2 Agustus 2020.

Pandemi yang disebabkan oleh virus Covid-19 ini telah menjangkit lebih dari 17 juta orang di seluruh dunia. Sejak pertama kali dilaporkan di Wuhan, China, virus tersebut sudah merenggut lebih dari 670 ribu korban jiwa.

Seluruh dunia telah berjuang mempertahankan kondisi negara mereka. Termasuk Amerika Serikat, Brazil, Meksiko dan Inggris yang sedang mencari metode penanganan yang lebih efektif.

4 dari 4 halaman

Tak hanya menimbulkan korban jiwa, pandemi Covid-19 juga berimbas pada berbagai sektor industri. Perekonomian di berbagai wilayah menjadi tidak stabil. Terutama dengan adanya pembatasan wilaya serta aktivitas guna memutus rantai penularan Covid-19.

Lebih dari 150 perusahaan farmasi kini tengah berjuang membuat vaksin untuk membasmi virus tersebut. Namun berdasarkan penyataan resmi WHO pekan lalu, vaksin tidak dapat diprediksikan hingga awal 2021.

" Hasil awal dari riset serologi (antibodi) menunjukkan gambar yang konsisten: sebagian besar orang di dunia masih rentan terhadap virus ini, bahkan di daerah yang pernah menjadi wabah parah sekali pun," ujar Tedros.

Menurut Tedros, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab sehingga dibutuhkan pengetahuan lebih mengenai virus ini.

" Banyak negara yang yakin bahwa mereka yang telah melewati masa tersulit, kini sedang bergulat dengan wabah virus corona baru. Sejumlah negara yang tidak begitu berdampak, kini menyaksikan lonjakan kasus maupun kematian," imbuhnya.

 

Beri Komentar