Virus Corona di Masa Depan Akan Menjadi Penyakit Selesma Baru

Reporter : Sugiono
Sabtu, 22 Februari 2020 10:40
Virus Corona di Masa Depan Akan Menjadi Penyakit Selesma Baru
Virus corona baru atau COVID-19 berbeda dari virus yang menyebabkan Sindrom Pernafasan Akut (SARS) yang sangat menular dan mematikan.

Dream - Meskipun tingkat infeksi virus corona baru atau COVID-19 di China menurun, para ilmuwan negara itu memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Mereka mengklaim virus COVID-19 tersebut dapat menjadi 'selesma baru' di masa depan.

Presiden Akademi Ilmu Kedokteran, Wang Chen, mengatakan COVID-19 berbeda dari virus pemicu Sindrom Pernafasan Akut (SARS) yang sangat menular dan mematikan.

" Dalam jangka panjang, COVID-19 mungkin akan menjadi penyakit baru bagi manusia, seperti halnya selesma," katanya seperti dilansir South China Morning Post.

Sampai hari Jumat, 21 Februari 2020, infeksi baru COVID-19 di luar wilayah Hubei dilaporkan menurun selama 16 hari berturut-turut. Sementara kasus baru di wilayah Hubei menurun di hari ke tujuh.

Namun, asisten profesor kesehatan dan ekonomi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Yale Chen Xi mengatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa infeksi telah mencapai puncaknya.

" Kunci untuk mengendalikan virus adalah penelitian ilmiah," katanya. Selain itu, permintaan pasokan medis tetap tinggi dan masyarakat berada pada tahap kritis untuk memerangi penyakit ini.

Selain itu, lanjut Chen Xi, isolasi terhadap Kota Wuhan masih belum terlihat efektif membendung penyebaran COVID-19. Sebanyak 394 kasus baru dilaporkan di China dengan 114 kematian pada Rabu, 19 Februari 2020, tengah malam waktu setempat.

Sejauh ini, COVID-19 telah menginfeksi 75.725 orang dari 27 negara dengan total kematian mencapai 2.128 jiwa. Sementara itu, menurut sebuah laporan oleh Komisi Kesehatan China, jumlah pasien yang pulih telah mencapai 16.155 jiwa.

(Sah, Sumber: Siakapkeli.my)

1 dari 6 halaman

Virus Corona Mewabah, Kota Daegu di Korsel Dikarantina

Dream - Pemerintah Korea Selatan resmi menyatakan kota Daegu sebagai `zona manajemen khusus`, Jumat 21 Februari 2020, karena disinyalir menjadi lokasi penyebaran virus Corona, Covid-19.

Menurut laman Japan Times, otoritas kesehatan Korea Selatan melaporkan sebanyak 52 kasus baru Covid-19. Angka itu menambah kasus infensi virus Corona di Korea Selatan menjadi 156.

Lonjakan itu, terutama di wilayah Daegu, menimbulkan kekhawatiran wabah itu semakin tidak bisa dikendalikan oleh Negeri Ginseng tersebut.

Di Seoul, pemerintah setempat telah melarang aksi demonstrasi besar-besaran, untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Lonjakan infeksi di Daegu dan beberapa kasus di Seoul tidak jelas rutenya. Kasus sebaran ini bahkan baru diakui pemerintah Korsel pada Kamis, 20 Februari 2020.

Perdana Menteri Korsel, Chung Se-Kyun, mengatakan bahwa pemerintah akan berkonsentrasi di wilayah tenggara yang terdampak. Pemerintah akan menyediakan tempat tidur, peralatan, dan staf medis.

Walikota Daegu, Kwon Young-jin, mendesak 2,5 juta orang di kota itu untuk tinggal di rumah dan mengenakan masker bahkan di dalam ruangan jika memungkinkan.

Para pejabat di Pulau Jeju mengatakan, seorang anggota angkatan laut berusia 22 tahun yang berbasis di pulau itu dinyatakan positif terinfeksi virus Corona pada hari Jumat, beberapa hari setelah mengunjungi Daegu untuk berlibur.

Pelaut yang saat ini dirawat di rumah sakit sipil di pulau itu merupakan pasien virus pertama di Jeju.

2 dari 6 halaman

1.000 Orang Beribadah di Gereja Tersebut

Sementara itu, dugaan penyebaran virus berasal mengarah ke sebuah geraja. Dilaporkan Quartz, menurut pernyataan dari pusat kendali dan pencegahan penyakit Korea Selatan, 28 kasus Covid-19 terkonfirmasi terkait dengan Gereja Shincheonji Yesus, Kuil Tabernakel Kesaksian.

Dugaan ini berawal dari ditemukannya seorang perempuan berusia 61 tahun yang mengalami infeksi virus Covid-19.

Tidak jelas bagaimana dia tertular penyakit Covid-19, karena dia tidak melakukan perjalanan ke luar negeri baru-baru ini. Menurut sebuah pernyataan pemerintah, dia dirawat di rumah sakit pada 7 Februari setelah kecelakaan mobil. Dia mengalami demam tiga hari kemudian, dan dikonfirmasi telah dinyatakan positif mengidap coronavirus pada 18 Februari.

Pihak gereja mengonfirmasi bahwa pasien ke-31 Covid-19 telah menghadiri layanan di Daegu. Media setempat melaporkan bahwa sekitar 1.000 anggota gereja telah menghadiri ibadah dengan pasien positif Covid-19.

Sejak saat itu gereja menutup fasilitasnya, memindahkan semua ibadah dan pertemuan online. Daegu sekarang bersiaga, dan telah mengambil tindakan termasuk menutup perpustakaan umum, menangguhkan kelas taman kanak-kanak, dan menunda acara besar.

Sebuah pangkalan militer AS di kota itu telah membatasi akses dan memberlakukan karantina terhadap setiap pasukan yang baru-baru ini menghadiri gereja Shincheonji.

3 dari 6 halaman

Kisah Pilu Satu Keluarga Meninggal Bergantian karena Corona

Dream - Berita duka dikeluarkan oleh sebuah rumah produksi di Hubei, China pada 16 Februari lalu. Hubei merupakan provinsi tempat kota Wuhan berada. Kota yang menjadi pusat penyebaran virus mematikan corona. 

Berita itu berisi pengumuman tentang kematian seorang sutradara film Tionghoa bernama Chang Kai.

Pria 55 tahun itu meninggal di sebuah rumah sakit komunitas di Distrik Huangpi, Wuhan sekitar pukul 4:50 sore pada 14 Februari 2020 karena infeksi Covid-19 atau corona virus.

Kisah pilu keluarga sutradara ini menyita perhatian khalayak.

Pasalnya sebelum kepergian Chang, satu per satu orang tersayangnya juga menjadi korban keganasan wabah mematikan itu.

4 dari 6 halaman

4 Anggota Keluarga Meninggal

Chang dan tiga anggota keluarganya meninggal dunia karena Covid-19.

Dilansir todayonline.com, bermula pada malam tahun baru Imlek saat seluruh keluarga menyempatkan diri untuk bertemu.

Pada hari pertaman Tahun Baru China atau tepatnya 25 Januari, ayah Chang tiba-tiba sakit.

Ia mengalami batuk dan demam disertai kesulitan bernafas. Chang pun sontak membawa ayahnya ke rumah sakit untuk perawatan.

5 dari 6 halaman

Ditolak Rumah Sakit

Namun sayangnya mereka ditolak karena sudah tidak ada lagi tempat tidur. Rumah sakit menyarankan untuk mengarantina ayahnya di rumah dan mengirimkan dokter.

Mereka kembali ke rumah dan berusaha merawat ayahnya yang sakit parah.

Seorang dokter pun akhirnya datang pada tanggal 2 Februari untuk memeriksa ayah Chang. Tetapi kondisinya memburuk terlalu cepat dan ia meninggal beberapa jam kemudian di rumah.

Dalam sebuah surat wasiat, Chang menuliskan bahwa meninggalnya ayahnya adalah pukulan besar bagi ibunya yang sudah kelelahan akibat penyakit itu.

Ya, sang ibu juga terinfeksi Covid-19. Chang pun membawanya ke rumah sakit Wuchang pada 4 Februari dan meninggal empat hari kemudian.

6 dari 6 halaman

Chang Memperlihatkan Gejala

Sementara itu, Chang juga memperlihatkan gejala pada 4 Februari Setelah merawat orang tuanya yang terinfeksi selama berhari-hari di rumah.

Ia kemudian dikirim ke rumah sakit di Distrik Huangpi. Chang akhirnya meninggal pada 14 Februari di hari yang sama dengan saudara perempuannya meskipun tinggal beda rumah.

Chang meninggalkan istri dan putranya yang belajar di luar negeri. Istri Chang juga didiagnosis positif beberapa hari setelah Chang masih di rumah sakit.

Di akhir tulisan pada surat wasiatnya, Chang berkata kepada orang-orang yang dicintainya, termasuk putranya yang belajar di Inggris.

Bahwa dirinya melakukan yang terbaik sebagai seorang anak yang berbakti. " Perpisahan, untuk mereka yang kucintai dan mereka yang mencintaiku," ujar dia.

Beri Komentar
Cara Samuel Rizal Terapkan Hidup Sehat Pada Anak