INFOGRAFIS: Mengapa Batuk Tak Kunjung Reda Meski Sudah Sembuh Covid-19?

Reporter : Dwi Ratih
Rabu, 18 November 2020 18:33
INFOGRAFIS: Mengapa Batuk Tak Kunjung Reda Meski Sudah Sembuh Covid-19?
Meski sudah sembuh dari COVID-19 tapi batuk masih saja melanda. Gimana, ya?

Dream - Salah satu gejala Covid-19 yang banyak dialami pasien aktif adalah gangguan saluran pernapasan seperti batuk yang terus menerus. Selama pengobatan, pasien selalu diberikan pengobatan untuk menyembuhkan gejala tersebut.

Lalu, bagaimana jika batuk tak kunjung reda meski dokter menyatakan pasien sembuh dari Covid-19? Jika Sahabat Dream pernah menemukan kejadian di atas, jangan panik dulu.

Jaka Pradipta, dokter spesialis paru, menjelaskan bahwa batuk masih bisa terus dialami pasien yang telah dinyatakan Covid-19. Lewat akun Twitter resminya @jcowacko, dia menjelaskan jika kondisi paru-paru pasien Covid-19 umumnya mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda dan tergantung dari imunitas masing-masing.

Nah biar nggak langsung parno, yuk lihat penjelasan Dr Jaka .

Infografis Dream.co.id© Dream.co.id/Savina Mariska

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

1 dari 5 halaman

INFOGRAFIS: Kapan Sekolah Tatap Muka?

Dream - Buat para siswa dan siswi, pasti sudah rindu sekali dengan kegiatan di sekolah, ya?

Tak cuma momen proses belajarnya, bermain dan kerja kelompok bareng teman-teman juga jadi poin yang amat dirindukan. Betul tidak?

Kamu harus sedikit bersabar, karena hal itu belum bisa dilakukan kembali 100 persen. Sebab, beberapa lokasi di Indonesia masih zona merah bahkan hitam perihal wabah COVID-19.

Tapi untuk lokasi-lokasi zona kuning, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) Nadiem Makarim memperbolehkan sekolah tatap muka dengan syarat berikut ini.

Infografis Dream.co.id© Dream.co.id/Savina Mariska

2 dari 5 halaman

Jokowi: Keselamatan Rakyat di Tengah Pandemi Covid-19 Jadi Hukum Tertinggi

Dream - Presiden Joko Widodo menegaskan penegakan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 harus dijalankan dengan tegas demi menjaga keselamatan rakyat.

" Keselamatan rakyat di tengah pandemi Covid-19 saat ini merupakan hukum tertinggi," ujar Jokowi melalui Instagram.

Jokowi menegaskan penegakan disiplin protokol kesehatan harus dilakukan kepada setiap orang yang melakukan pelanggaran. Karena tidak semua orang kebal virus corona.

" Setiap orang bisa menularkan ke yang lainnya di dalam kerumunan," kata Jokowi.

3 dari 5 halaman

Perintah Jokowi

Jokowi telah memerintahkan Kapolri, Panglima TNI, dan Ketua Satgas Penanganan Covid-19, untuk menjalankan tindakan tegas terhadap semua pihak yang melanggar pembatasan untuk mencegah penularan Covid-19.

" Jangan hanya sekadar imbauan, tapi dengan pengawasan dan penegakan aturan di lapangan," kata dia.

Upaya pemerintah perlu mendapat dukungan dan kepercaya masyarakat agar pandemi dapat dikendalikan. Juga agar setiap langkah pencegahan yang dilakukan pemerintah bisa berjalan efektif.

Jokowi juga meminta Menteri Dalam Negeri untuk menegur para kepala daerah agar memberikan contoh baik kepada masyarakat. Baik itu gubernur, bupati maupun wali kota.

" Jangan malah ikut berkerumun," kata Jokowi.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

4 dari 5 halaman

'Dari Hati Terdalam, Mohon Lakukan Gerakan Bersama Perang Semesta Covid-19'

Dream - Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Adib Khumaidi, melaporkan sebanyak 162 dokter gugur akibat Covid-19 selama delapan bulan terakhir. Data terakhir meningkat dibandingkan posisi 10 November 2020 yang masih tercatat sebanyak 159 dokter meninggal.

" Kemudian antara 10 November hingga sekarang ada beberapa dokter, ada dua atau tiga dokter yang meninggal dikarenakan Covid," kata Adib, dalam konferensi pers yang disiarkan YouTube BNPB.

Menurut Adib, lonjakan kasus positif baru berpengaruh terhadap angka kematian dokter. Lonjakan kasus terjadi, salah satunya disebabkan aktivitas masyarakat.

Adib menjelaskan pada Mei lalu terjadi lonjakan sebanyak 20 persen. Sedangkan pada Agustus lonjakan muncul sebanyak 10 persen.

"  Positif rate yang terjadi di masyarakat juga berdampak pada lonjakan kasus kematian, kesakitan yang pada dokter dan tenaga kesehatan," ucap Adib.

5 dari 5 halaman

Dokter dan Tenaga Kesehatan Benteng Terakhir

Adib menyatakan pihaknya tidak berharap lonjakan kembali terjadi pada bulan-bulan ini. Dia pun mengingatkan garda terdepan menghadapi pandemi Covid-19 adalah masyarakat.

" Kami itu benteng terakhirnya, kami menunggu jangan sampai ada yang sakit," ucap Adib.

Dia pun meminta masyarakat untuk selalu patuh prokol kesehatan. Rutin menerapkan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dapat menurunkan risiko penularan lebih dari 90 persen.

" Jadi itu yang perlu menjadi perhatian sehingga mau tidak mau garda terdepannya adalah masyarakat," kata Adib.

Perang Semesta Pada Covid-19

Ketua Umum PB IDI, Daeng M Faqih, memohon agar masyarakat tidak memperberat kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia dengan tidak mematuhi protokol kesehatan. Karena hal itu dapat meningkatkan kasus positif Covid-19.

" Dari hati kami, petugas kesehatan, yang paling dalam, mohon untuk kita bersama melakukan gerakan bersama, perang semesta pada Covid-19," kata Faqih.

Dia juga mengingatkan apabila masyarakat tidak disiplin, jumlah tenaga kesehatan semakin berkurang setiap hatinya. Sebagian dari mereka gugur akibat Covid-19.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar