Jangan Begadang Sebelum Vaksin Covid-19, Ini Alasannya

Reporter : Mutia Nugraheni
Kamis, 21 Januari 2021 10:12
Jangan Begadang Sebelum Vaksin Covid-19, Ini Alasannya
Penting untuk menjaga vitalitas tubuh dengan optimal.

Dream - Vaksin Covid-19 buatan Sinovac, mulai diberikan pada kelompok yang diprioritaskan sejak 13 Januari 2021 lalu. Sejumlah pejabat juga telah menerimanya. Dari pantauan di lapang, ada sejumlah laporan berupa keluhan ringan.

Keluhan tersebut termasuk KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi, dijelaskan bahwa KIPI adalah semua kejadian medik yang terjadi setelah imunisasi, menjadi perhatian, dan diduga berhubungan dengan imunisasi.

Untuk kategorinya, ada yang serius dan tidak serius. Untuk KIPI serius adalah setiap kejadian medis setelah imunisasi yang menyebabkan rawat inap, kecacatan, hingga kematian serta menimbulkan keresahan di masyarakat. Sementara yang non serius tidak menimbulkan risiko potensial pada kesehatan si penerima vaksin.

Dokter Muhammad Fajri Adda’I selaku dokter dan tim penanganan COVID-19 yang telah menerima vaksinasi COVID-19 dosis pertama mengatakan dirinya tidak merasakan reaksi yang berat.

" Saya tidak merasakan reaksi yang tidak wajar. Tidak sakit saat disuntik dan sampai sekarang juga normal-normal saja. Sebelumnya saya pikir akan terasa nyeri namun ternyata tidak terasa apa-apa,” ujar dr. Fajri dalam Dialog Produktif yang mengangkat tema KIPI: Kenali dan Atasi, diselenggarakan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu 20 Januari 2021

Terkait keraguan, menurut dr. Fajri memang masih ada yang meragukan dan mempertanyakan terkait vaksin dan KIPI. Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, dr. Inda Mutiara selaku Kepala Puskesmas Kramatjati mengungkapkan bahwa sejauh pengamatannya, lingkungan sekitarnya antusias dan tidak ada penolakan baik dari rekan tenaga Kesehatan (nakes) maupun masyarakat sekitar.

Reaksi setelah vaksinasi menurut dr. Fajri bisa berbeda-beda pada tiap orang. “ Teman nakes lain ada yang mengalami demam, nyeri, lemas, ada yang jadi merasa lapar terus, hingga ngantuk. Reaksi ini wajar dan masuk dalam kategori ringan. Kalaupun ada demam itu wajar sebagai suatu reaksi dalam pembentukan imunitas dalam tubuh,” katanya.

 

1 dari 6 halaman

Kepada masyarakat luas, dr. Fajri berpesan agar tidak usah mendengarkan hoaks. “ Saya melihat sendiri laporan terkait vaksin ini untuk mendapatkan kajian ilmiahnya. Dari laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) maupun yang dari Brazil menunjukkan bahwa relatif aman dengan KIPI di bawah 1 persen, rendah sekali. Kemudian dari pengalaman teman lain yang sudah disuntik juga aman,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan jika sudah mendapat jadwal vaksin, siapkan diri dengan baik. Hindari tidur terlalu malam, dan jaga vitalitas agar tetap optimal.

“ Saya juga tidur cukup supaya reaksi imun yang terbentuk akan lebih bagus dan optimal. Kemudian untuk beberapa hari ke depan jangan terlalu capek, makan gizi seimbang, jangan begadang, jangan stres,” pesannya, dikutip dari Covid19.go.id.

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

 

2 dari 6 halaman

Satgas Covid-19 Tegaskan Tak Ada Chip, Ini Arti Barcode di Kemasan Vaksin

Dream - Beredar kabar yang menyatakan vaksin Covid-19 mengandung chip yang bisa dimanfaatkan untuk mengontrol manusia. Kabar semacam ini dinilai dapat membuat masyarakat semakin tidak percaya dan menolak vaksinasi.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, menegaskan kabar tersebut adalah informasi bohong.

© Dream

" Saya tegaskan, bahwa berita itu (chip dalam vaksin), berita bohong. Tidak ada chip di dalam vaksin," ujar Wiku.

Dasar beredarnya kabar bohong tersebut adalah kode garis atau barcode pada kemasan vaksin. Wiku menyatakan barcode tersebut tidak menempel pada orang yang divaksin.

" Kegunaan barcode tersebut semata-mata untuk pelacakan distribusi produk vaksin, dan sama sekali tidak dapat difungsikan untuk melacak keberadaan masyarakat yang telah divaksin," kata dia.

 

 

3 dari 6 halaman

Data Penerima Vaksin Dijamin Rahasia

Sementara terkait dengan data penerima vaksin, Wiku menjamin sangat rahasia dan digunakan hanya untuk keperluan vaksinasi. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 58 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

" Bahwa, kementerian atau lembaga dan badan hukum Indonesia, yang memperoleh data pribadi penduduk, atau data kependudukan, dilarang menggunakan data pribadi penduduk dan atau data kependudukan melampaui batas kewenangannya," ucap Wiku.

Pemerintah saat ini sedang berusaha keras menekan angka penyebaran Covid-19. Sementara masyarakat diminta memberikan dukungan dengan tidak mempercapai berita bohong seputar vaksinasi.

" Kembali saya tegaskan, bahwa Pemerintah bersama tim peneliti terus memantau perkembangan kesehatan para relawan dan hal inilah yang mendasari vaksin Sinovac dinyatakan aman oleh Badan POM," kata Wiku, dikutip dari Covid19.go.id


Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

4 dari 6 halaman

Menag Minta Menkes Prioritaskan Jemaah Haji Dapat Vaksin Covid-19

Dream - Kementerian Agama terus menjalankan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1442H/2021M sembari menunggu keputusan Arab Saudi. Jika dalam kondisi normal, jemaah haji Indonesia tahun ini mulai diberangkatkan pada 15 Juni 2021.

Sebagai bagian dari persiapan, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah berkirim surat ke Menteri Kesehatan pada 5 Januari 2021. Isi surat tersebut meminta Menkes untuk memprioritaskan jemaah haji mendapatkan vaksin Covid-19.

" Dalam rangka menjamin dan memberikan perlindungan, kami telah bersurat ke Menkes, meminta agar jemaah haji tahun 1442H/2021M mendapatkan prioritas vaksinasi Covid-19," ujar Gus Yaqut dalam keterangan tertulis.

 

5 dari 6 halaman

Empat Alasan Jemaah Haji Perlu Diprioritaskan

Gus Yaqut menjelaskan beberapa pertimbangan mengapa jemaah haji perlu diprioritaskan dalam vaksinasi. Pertama, ada kemungkinan jemaah haji ditolak masuk Saudi jika belum mendapatkan vaksin.

Umroh Pandemik© Facebook/@haramain.info

Alasan kedua, perlu alokasi waktu, tempat, dan biaya tambahan untuk karantina sebelum dan setiba di Saudi jika jemaah belum divaksin. Sedangkan alasan, kewajiban swab test PCR dan karantina tetap berlaku baik sebelum dan ketika tiba di Saudi apabila jemaah tidak divaksin.

" Keempat, jika belum divaksin, perlu penerapan physical distancing di embarkasi, selama penerbangan, dan selama di Arab Saudi, serta setibanya jemaah di Tanah Air," kata Gus Yaqut.

 

6 dari 6 halaman

Jika Kuota Normal, 257.540 Orang Divaksinasi

Gus Yaqut melanjutnya apabila opsi yang didapat adalah kuota normal, maka vaksinasi perlu dijalankan kepada 257.540 orang. Rinciannya, 221 ribu jemaah haji reguler dan khsus, 4.200 petugas kloter dan non-kloter, 3.400 petugas haji seluruh provinsi.

Kemudian kepada 18 ribu pembimbing haji pada 6.000 KUA kecamatan. Juga kepada 10.940 panitia dan pembimbing manasik pada 547 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

" Kami masih menunggu respon dari Menkes. Kami harap ini bisa segera dilakukan, utamanya setelah ada kepastian dari Arab Saudi terkait penyelenggaraan dan kuota haji 1442H/2021M," kata Gus Yaqut.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

Beri Komentar